Konten dari Pengguna

Setia di Tepi Trotoar: Cerita Pak Ella Mengais Rezeki dari Kilau Batu Akik

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hana Nisrina Zahran tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Foto: Hana Nisrina Zahran)
zoom-in-whitePerbesar
(Foto: Hana Nisrina Zahran)

Di salah satu sudut trotoar Pasar Loak Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Pak Ella, seorang pria paruh baya, duduk lesehan menembus hiruk-pikuk malam. Penampilannya mencolok dan mudah dikenali dibanding pedagang lain. Topi kain yang ia pakai dipenuhi lencana dan aksesoris logam yang berkilau di bawah lampu jalanan yang temaram. Dari tempatnya bersandar di pinggir trotoar, ia sering memandang deretan pedagang batu akik lain di sepanjang jalur itu. Tatapannya penuh empati, seolah paham bahwa kesulitan ini mereka rasakan bersama.

Pak Ella adalah salah satu pedagang veteran yang sudah bertahun-tahun mencari nafkah dari bisnis batu akik. Ia pernah menikmati masa keemasan beberapa tahun lalu, saat demam batu akik melanda ibu kota dan banyak orang rela berdesakan demi mendapatkan batu yang diinginkan. Namun sekarang, ketika tren itu sudah meredup dan ekonomi nasional terus melemah, hidup para pedagang kecil di kawasan itu terasa semakin berat.

"Seharian duduk dari pagi sampai malam, kadang cuma satu orang yang mampir, itu pun cuma nanya harga lalu jalan lagi," kata Pak Ella pelan saat menceritakan sulitnya bertahan hidup di tengah harga kebutuhan pokok yang naik. Ia memandangi wajah lesu para penjual batu di sekitarnya, lalu melanjutkan, "Dulu waktu lagi ramai-ramainya, batu apa saja dicari orang dan sehari bisa bawa pulang uang lumayan. Kalau sekarang beda jauh. Kebutuhan dapur makin mahal, tapi pembeli sepi banget. Bukan cuma saya, teman-teman pedagang lain di sini juga sama beratnya. Tapi ya mau gimana lagi, ini mata pencaharian kami. Yang penting setiap hari berangkat dan berusaha dulu."

Walau harus menahan lelah berjam-jam di atas ubin trotoar yang dingin, Pak Ella tidak mau menyerah pada keadaan. Baginya, lapak sederhana di pinggir jalan ini bukan hanya tempat mencari nafkah, tapi juga tempat berjuang bersama rakyat kecil di tengah ekonomi yang sulit. Ia yakin rezeki tidak akan tertukar. Dengan senyum hangat, ia tetap setia menyapa setiap pejalan kaki yang lewat.