Konten dari Pengguna

Mengulik Sambiloto: Tanaman Liar dengan Berjuta Manfaat

Hana Shofura Ghaida

Hana Shofura Ghaida

Mahasiswa Farmasi UIN Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hana Shofura Ghaida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Daun Sambiloto(https://www.freepik.com/free-photo/green-leaf-background_4283095.htm#fromView=search&page=2&position=1&uuid=d65baf67-bf9d-4ef4-9910-35017f6bead9&query=sambiloto)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Daun Sambiloto(https://www.freepik.com/free-photo/green-leaf-background_4283095.htm#fromView=search&page=2&position=1&uuid=d65baf67-bf9d-4ef4-9910-35017f6bead9&query=sambiloto)

Indonesia merupakan negara atau daerah tropis yang memiliki kelengkapan jenis flora dan fauna. Sitorus & Azzahra (2017:4) menjelaskan bahwa terdapat puluhan ribu jenis flora di Indonesia dan 940 diantaranya memiliki manfaat dan khasiat sehingga dapat dijadikan bahan baku pembuatan obat herbal. Andrographis paniculata, atau lebih dikenal dengan sebutan sambiloto, merupakan salah satu jenis tanaman obat yang telah lama dikenal dan dimanfaatkan di Indonesia. Tanaman ini dikenal di kalangan masyarakat sebagai tanaman yang memiliki berbagai macam khasiat dan kerap kali digunakan sebagai bahan baku pembuatan obat herbal. Masyarakat percaya bahwa mengonsumsi obat-obatan yang berasal dari tanaman herbal lebih aman dibanding obat yang berasal dari zat atau bahan kimia karena minimnya risiko efek samping yang ditimbulkan.

Deskripsi habitat dan morfologi tanaman

Tanaman sambiloto tumbuh subur di berbagai daerah tropis, termasuk Indonesia, Asia tenggara, Asia, dan India. Herba sambiloto dapat hidup pada tempat-tempat terbuka yang bersuhu lembab dan teduh seperti tepi sungai, pekarangan dan semak-semak(Prapanza, E & Maryanto, 2003). Tanaman sambiloto umumnya memiliki tinggi 40-80 cm, memiliki cabang dengan letak yang berlawanan, kelopak berbentuk lanset, serta kuncup daunnya berbentuk seperti daun pelindung. Daun sambiloto berbentuk lanset, memiliki tepi daun yang rata, panjang daun bervariasi mulai dari 2 cm sampai 10 cm serta memiliki lebar daun 1 cm sampai 3 cm. Tanaman ini bukanlah tanaman yang sulit dikembangbiakan, ia tumbuh dengan mudah di pekarangan rumah, semak-semak, bahkan ia tumbuh dengan sendirinya tanpa ada yang menanam. Oleh sebab itulah sebagian masyarakat menanggap sambiloto sebagai tanaman liar tanpa mengetahui khasiat dan manfaatnya.

Manfaat tanaman

Herba sambiloto memiliki berbagai kandungan senyawa metabolit sekunder yang bermanfaat untuk kesehatan. Kandungan utama sambiloto ialah andrographolide. Disamping itu, sambiloto memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid, saponin, polifenol, dan alkaloid(Susilawati et al., 2021). Kandungan tersebut memiliki potensi untuk menjadi alternatif obat pada berbagai penyakit seperti diabetes dan Covid-19(Saputra, 2021; Sianipar et al., 2023). Potensi ini perlu dikembangkan serta perlu adanya pembudidayaan yang baik sehingga mutu yang dihasilkan sesuai dengan harapan. Bahan baku herba sambiloto yang digunakan untuk industri kebanyakan diambil dari tumbuhan liar dan berasal dari lingkungan beragam, sehingga menghasilkan mutu simplisia yang beragam(’Maslahah, 2021).

Tanaman sambiloto terutama pada bagian daunnya memiliki sifat antiinflamasi, antibakteri, dan antioksidan yang tingi. Sikumalay et al (2016:199) menerangkan bahwa herba sambiloto mampu menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Pernyataan ini dibuktikan melalui penelitiannya yaitu menambahkan perasan daun sambiloto kedalam cakram yang berisi bakteri E.coli. Ia mendapati terjadinya peningkatan zona hambat terhadap bakteri E.coli. Ini menandakan bahwasannya herba sambiloto memiliki sifat antibakteri.

Selain memiliki sifat antibakteri, daun sambiloto kerap dikenal karena efek antiinflamasinya. Sifat antiinflamasi pada daun sambiloto dipengaruhi oleh senyawa utamanya yaitu andrographolide. Senyawa ini bekerja dengan menghambat aktivitas enzim siklooksigenase (COX) yang terlibat dalam proses pembentukan mediator peradanga. Penelitian Nugroho et al. (2012:87) menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun sambiloto dapat menurunkan volume edema kaki tikus yang diinduksi karagenan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa terdapat aktivitas antiinflamasi pada ekstrak daun sambiloto.

Cara penggunaan

Dalam penggunaannya sebagai obat herbal, daun sambiloto dapat diolah melalui berbagai cara untuk dikonsumsi secara oral. Daun sambiloto dapat diolah menjadi rebusan tradisional yang dikenal dengan nama jamu. Daun tersebut dapat direbus secara tersendiri maupun dicampur dengan bahan-bahan alami lainnya seperti daun kumis kucing dan sebagainya. Rebusan sambiloto biasa dikonsumsi dengan merebus 5-6 lembar daun dalam 200 ml air hingga warna air berubah menjadi kehijauan(Sutrisno, H, 2020). Seiring perkembangan zaman, teknologi industri khususnya industri farmasi terus melakukan riset dan inovasi mengenai cara konsumsi obat-obatan herbal menjadi lebih praktis. Oleh karena itu, tak jarang ditemukan ekstrak daun sambiloto tersedia dalam bentuk kapsul, tablet, atau teh herbal yang dijual bebas di pasaran.

Perbedaan kandungan pada daun sambiloto muda dan tua

Daun sambiloto memiliki berbagai manfaat yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak terdapat perbedaan manfaat antara daun sambiloto muda ataupun tua. Namun, perlu diketahui bahwa kandungan senyawa metabolit sekunder berbeda antara daun muda dan daun tua. Penelitian menunjukkan bahwa daun sambiloto yang umurnya lebih tua mengandung andrographolide dalam jumlah yang lebih tinggi dibandingkan daun muda, sehingga daun tua lebih disarankan untuk pengobatan yang membutuhkan efek terapeutik kuat(Royani et al., 2014). Secara fisik, daun sambiloto tua memiliki warna hijau yang lebih gelap dibanding daun sambiloto muda. Selain itu, daun sambiloto tua cendrung memiliki diameter dan panjang daun yang lebih besar. Berikut ialah perbedaan daun sambiloto tua dan muda secara fisik:

Dokumentasi pribadi: Hana Shofura Ghaida
Dokumentasi pribadi: Hana Shofura Ghaida

Perbedaan kandungan pada daun sambiloto tidak hanya terletak pada umur tanaman, tetapi juga habitat asli tanaman dan jumlah komposisi unsur hara tepat dimana tanaman sambiloto tumbuh. Dengan mengetahui perbedaan kandungan antara daun sambiloto muda dan tua, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam mengonsumsi daun sambiloto sesuai dengan kebutuhan kesehatannya.