Konten dari Pengguna

Di Balik Tawa: Sunyi yang Tak Pernah Ditanyakan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Rizky Hanafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Foto : Ilustrasi seseorang yang berdiri di antara keramayan tapi tetap merasa sunyi, Doc; Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
(Foto : Ilustrasi seseorang yang berdiri di antara keramayan tapi tetap merasa sunyi, Doc; Pribadi)

"Kamu kelihatan baik-baik saja."

Kalimat itu sering terdengar. Tapi apakah kita pernah benar-benar baik-baik saja?

Menjadi mahasiswa sering kali dianggap sebagai masa paling bebas dan menyenangkan. Tidak lagi terlalu diawasi orang tua, punya banyak teman baru, dan hidup di kota besar dengan segudang aktivitas. Tapi ada satu hal yang jarang dibicarakan: sunyi.

Sunyi yang datang saat semua orang sudah tidur. Sunyi yang muncul meski sedang ramai-ramai di kantin. Sunyi yang membuat seseorang bertanya pada dirinya sendiri, “Kenapa aku merasa kosong?”

Tertawa Tak Selalu Bahagia

Di media sosial, mahasiswa tampil dengan senyum, ikut organisasi, unggah foto wisuda teman, dan story kopi sambil belajar. Tapi tidak sedikit dari kita yang tertawa sambil menyembunyikan perasaan lelah yang dalam.

Lelah jadi anak pertama yang diharapkan keluarga.

Lelah mengejar IPK demi beasiswa.

Lelah berpura-pura kuat.

Banyak dari kita menjalani hari demi hari dengan autopilot. Bangun, kelas, tugas, scroll medsos, tidur. Lalu mengulang lagi.

Kampus, Tempat Belajar atau Tempat Bertahan?

Tak semua orang kuliah dengan kondisi ideal. Ada yang berkuliah sambil kerja. Ada yang setiap hari memikirkan uang kos, makan, dan pulsa. Ada pula yang diam-diam berjuang melawan cemas, depresi, atau trauma masa kecil—semua tanpa pernah benar-benar dibicarakan ke siapa pun.

Kampus sering hanya jadi tempat "singgah". Kita belajar, iya. Tapi banyak juga yang hanya bertahan—agar tidak terlihat lemah, agar tidak menyusahkan orang tua, agar tetap bisa "nampak baik".

Kita Butuh Lebih dari Sekadar Motivasi

Saran seperti "semangat ya", "kamu pasti bisa", atau "positive thinking" terdengar baik, tapi sering kali tidak cukup. Karena yang kita butuhkan bukan selalu solusi—tapi ruang untuk jujur dan didengar.

Sayangnya, tidak semua orang punya ruang itu. Bahkan kadang, keluarga pun tidak jadi tempat aman.

Akui Rasa Lelah, Itu Bukan Tanda Gagal

Mengakui bahwa kamu lelah, takut, atau bingung bukan berarti kamu lemah. Justru itu tanda kamu manusia. Dan sebagai manusia, kamu tidak harus selalu punya jawaban atas segalanya.

Menangis di kamar bukan aib. Butuh bantuan bukan kekalahan.

Kita hanya butuh lebih banyak ruang untuk mengakui bahwa tidak semua mahasiswa kuat setiap hari.

Mari Lebih Jujur pada Diri Sendiri

Jika hari ini kamu masih bisa bangun pagi dan ke kampus, itu sudah luar biasa. Kalau kamu masih bisa makan meski sederhana, itu rezeki. Dan kalau kamu sedang lelah tapi memilih bertahan—itu kekuatan.

Kita tidak sedang berlomba siapa yang paling sibuk, paling sukses, atau paling cepat lulus. Kita semua sedang bertumbuh, dengan luka dan cerita masing-masing.

Kadang, satu-satunya hal yang perlu kamu katakan pada diri sendiri adalah:

“Terima kasih sudah bertahan sampai hari ini.”