Kos, Kopi, dan Kegelisahan: Hidup yang Tak Pernah Diajarin di Buku

Mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari M Rizky Hanafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kehidupan anak rantau tak pernah benar-benar bisa diceritakan utuh lewat Instagram Story atau status WhatsApp. Ia hadir dalam potongan-potongan kecil yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang menjalani: suara ceret air panas di pagi buta, tumpukan cucian yang terus ditunda, dan mie instan yang jadi penyelamat di akhir bulan.
Saya datang ke kota ini dengan satu tujuan: kuliah. Tapi ternyata, yang saya pelajari lebih luas dari apa yang tertulis di silabus.
Kampus Memberi Ilmu, Tapi Kos Memberi Hidup
Di ruang kuliah, saya belajar tentang teori sosiologi, politik Islam, atau filsafat modern. Tapi di kamar kos, saya belajar cara mengatur uang 500 ribu untuk sebulan. Saya belajar mengendalikan emosi ketika air mati tiga hari, dan saya belajar menahan ego saat hidup harus berbagi dapur dengan lima orang. Kos jadi semacam laboratorium sosial. Tempat kita belajar empati, toleransi, bahkan manajemen konflik—tanpa disadari.
Kopi Sebagai Teman, Bukan Sekadar Minuman
Entah sejak kapan, kopi menjadi teman setia. Ia bukan sekadar pengusir kantuk, tapi pengingat bahwa malam-malam panjang harus dijalani dengan sadar. Sering kali saya duduk sendiri di meja belajar, dengan kopi sachet murah, sambil mendengar suara hujan di luar, berpikir: “Apa benar saya sudah berada di jalan yang tepat?” Kopi tidak pernah menjawab. Tapi dia menemani. Dan itu sudah cukup.
Kegelisahan yang Tak Pernah Hilang
Salah satu hal yang jarang dibicarakan di kampus adalah kegelisahan eksistensial mahasiswa. Kita kuliah, ikut organisasi, bercanda di kantin, tapi di dalam hati ada tanya: “Setelah lulus, saya jadi apa?” Lebih jauh lagi: “Saya hidup untuk apa?”
Kegelisahan itu nyata. Tapi anehnya, kegelisahan itu pula yang membuat kita terus bergerak. Mencari. Mencoba. Gagal. Dan mengulang semuanya lagi dari awal.
Hidup Tidak Akan Pernah Siap
Banyak dari kita berharap bisa lulus dengan IPK tinggi, langsung dapat kerja bagus, dan membahagiakan orang tua. Tapi kenyataan tak selalu seperti itu.
Kita akan jatuh, gagal wawancara, mungkin diabaikan perusahaan, atau ditinggal pasangan di tengah perjuangan. Tapi justru di situlah hidup benar-benar terasa hidup. Karena hidup bukan soal “siap atau tidak”, tapi tentang berjalan meski takut.
Akhir Kata: Kita Semua Sedang Belajar
Jika hari ini kamu merasa lelah, gelisah, atau bingung akan masa depan—itu wajar. Kita semua sedang belajar. Dan kadang, pelajaran paling penting justru datang dari hal-hal kecil yang sering kita abaikan:
Mie instan pukul dua pagi. Teman kos yang pinjam charger. Ibu yang menelepon dan bertanya, “Kamu sehat?”
Mungkin hidup memang tak pernah diajarkan di buku. Tapi dia bisa dipahami jika kita cukup sabar membaca setiap babak yang datang. Karena hidup adalah proses. Dan setiap dari kita sedang menulis kisahnya masing-masing.
