Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Mahasiswa semester 5 di Universitas Negeri Malang Fakultas Ilmu Pendidikan program studi S1 pendidikan luar biasa
Tulisan dari HANDAYANI PRIMANDANINGRUM tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Baru baru ini masyarakat dikejutkan dengan kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seorang mahasiswa dari salah satu universitas ternama di Indonesia. Di lansir dari antaranews.com mahasiswa ini melompat dari lantai 11 salah satu hotel di Yogyakarta dan pemicunya diduga karena masalah psikologi yang dialami korban merujuk pada surat hasil psikologi dari rumah sakit yang ditemukan di TKP. Hal ini menjadi bukti bahwa saat ini Indonesia sedang darurat kesehatan mental, apalagi pada remaja.
Kesehatan mental merupakan faktor penting yang menunjang produktivitas dan kesehatan fisik seseorang. Oleh karena itu, kesadaran akan menjaga kesehatan mental menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Akan tetapi, pemahaman masyarakat Indonesia tentang kesehatan mental masih rendah. Stigma buruk masyarakat tentang orang dengan gangguan mental adalah sebuah aib, pengucilan dan labelling seorang yang gila/kurang iman membuat mereka yang sedang mengalami gangguan mental lebih memilih bungkam dan tidak berkonsultasi dengan ahli. Respon seseorang yang seringkali menganggap sepele kondisi dan masalah orang lain juga menyebabkan seseorang dengan gangguan mental enggan untuk menceritakan kondisi yang sedang dialami karena takut dianggap lebay dan alih alih memberikan dukungan moral justru berujung pada adu nasib.
Usia 16-24 tahun merupakan usia kritis seseorang mengalami gangguan mental. Pada rentan usia ini gangguan mental yang banyak dialami adalah depresi dan gangguan kecemasan. Banyak hal yang dapat memicu seseorang mengalami gangguan mental seperti tuntutan dari orang tua dan lingkungan sosial, gaya hidup, serta lingkungan keluarga dan pertemanan yang tidak sehat. Ekspektasi dan standar standar tertentu yang secara tidak sadar dibentuk oleh masyarakat (society) juga dapat menjadi penyebab gangguan mental seseorang.
Setiap orang memiliki sisi mental yang berbeda beda, ada orang yang lemah dalam menghadapi sebuah masalah dan ada juga yang kuat menghadapinya. Dan kita sebagai penonton tidak layak untuk menganggap enteng dan sepele setiap masalah yang sedang dihadapi orang lain. Karena apa yang kita anggap remeh dan mudah belum tentu sama bagi orang lain. Menjadi lebih peka dengan kondisi mental diri sendiri dan orang disekitar menjadi hal yang harus ditingkatkan saat ini. Karena kesehatan mental bukanlah hal yang sepele dan bisa dialami oleh siapa saja.
Ada beberapa beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental dimulai dari diri sendiri yaitu:
Menghargai diri sendiri dengan tidak membanding-bandingkan kualitas, kuantitas, potensi diri dan proses hidup diri sendiri dengan orang lain.
Selalu berusaha melihat suatu masalah dari sisi positifnya.
Istirahat, beri jeda sejenak untuk diri sendiri.
Luapkan segala emosi yang ada di kepala, nangis kalo lagi sedih, ketawa kalo lagi seneng dan Bahagia.
Sayangi diri sendiri sebelum menyayangi orang lain.
Temukan dan syukuri hal hal sederhana namun berharga yang dimiliki supaya mampu menerima dan mencintai diri sendiri.
Lakukan hal hal yang membuatmu bahagia tanpa perlu memikirkan pandangan orang lain selama hal itu tidak merugikan.
Jangan takut menjadi berbeda dari kebanyakan orang.
Jika sedang tidak baik baik saja, jangan pernah malu meminta bantuan orang lain. Dan untuk kalian yang saat ini masih berjuang, terima kasih karena sudah bertahan, terima kasih karena tidak menyerah, terima kasih karena terus berjuang sampai saat ini. No matter what you do, you’re doing great. No matter who you are, you’re loved.
