Konten dari Pengguna

Lebaran, Pertanyaan Basa-Basi, dan Luka yang Tak Terlihat

Handi Wahyu Purnomo

Handi Wahyu Purnomo

Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Menaruh perhatian pada isu kependidikan, kebijakan publik di bidang pendidikan, dan tantangan pendidikan Islam kontemporer di Indonesia.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Handi Wahyu Purnomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi lebaran di suatu rumah yang terasa seperti ruang hakim sosial (Sumber: Generated by AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lebaran di suatu rumah yang terasa seperti ruang hakim sosial (Sumber: Generated by AI)

Lebaran selalu datang dengan janji kebahagiaan. Setelah sebulan penuh menahan lapar, dahaga, dan emosi, hari kemenangan seharusnya menjadi ruang lega untuk saling memaafkan dan memeluk kembali kehangatan keluarga. Namun, di balik suasana itu, ada kegelisahan yang diam-diam tumbuh di banyak hati, terutama di wilayah seperti pedesaan.

Bagi sebagian orang, pulang ke rumah saat Lebaran bukan hanya tentang rindu, tetapi juga tentang menghadapi “sidang keluarga” yang tak tertulis. Pertanyaan seperti “kapan nikah?”, “kerja di mana sekarang?”, atau “kok belum lulus?” menjadi percakapan yang dianggap biasa. Di mata penanya, itu mungkin bentuk perhatian. Namun, bagi yang ditanya, kalimat-kalimat itu bisa terasa seperti pisau halus yang mengiris harga diri.

Kondisi ini menjadi semakin berat jika kita melihat realitas ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja. Data ketenagakerjaan menunjukkan bahwa pada tahun 2025, angka pemutusan hubungan kerja di Kabupaten Tangerang melonjak hingga 93 persen. Lebih dari 9.700 pekerja kehilangan pekerjaan, terutama di sektor industri padat karya. Bayangkan seseorang yang baru saja kehilangan penghasilan, pulang dengan harapan menemukan ketenangan, tetapi justru disambut dengan pertanyaan yang membuka luka.

Di titik ini, kita perlu jujur bertanya dalam hati: mengapa hari yang seharusnya penuh kasih justru berubah menjadi ruang penilaian yang sunyi tapi menyakitkan?

Ketika Basa-Basi Menjadi Beban Psikologis

Masalah ini yang paling sering dianggap sepele, padahal dampaknya tidak ringan. Banyak orang masih percaya bahwa menanyakan hal pribadi adalah bentuk keakraban, peduli atau sebutan baik lainnya. Namun, pandangan ini perlu dikoreksi. Menurut Ayunda Ramadhani, seorang psikolog dari Universitas Mulawarman, pertanyaan sensitif di momen seperti Lebaran bukan sekadar basa-basi. Ia bisa menjadi pemicu stres yang nyata. Ayunda mengatakan bahwa ada individu yang bisa saja merasa cemas berlebihan saat menjelang Lebaran karena takut menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut.

“Jadi memang fenomena ini setiap tahun terjadi ya, bahkan bagi beberapa orang bisa menjadi trauma tersendiri ketika berkumpul dengan keluarga besar,” ungkapnya.

Tekanan semacam ini dapat memunculkan kecemasan sosial, yaitu kondisi ketika seseorang merasa takut, gugup, dan tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang lain.

Dalam kasus tertentu, individu bahkan memilih menghindari pertemuan keluarga demi menjaga kesehatan mentalnya. Artinya, silaturahmi yang seharusnya mendekatkan, justru berpotensi menjauhkan. Jika hal ini justru diabaikan terus-menerus, kondisi ini bisa mengarah pada gangguan psikologis yang lebih serius.

“Kalau tidak teratasi, setiap momen Lebaran bisa menjadi traumatis. Bahkan ada yang sampai susah tidur karena memikirkan pertemuan dengan saudara yang sering bertanya hal-hal sensitif,” tambah Ayunda.

Fenomena ini bisa dijelaskan lebih dalam melalui teori sosiologi. Erving Goffman dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life memperkenalkan konsep dramaturgi. Ia menjelaskan bahwa kehidupan sosial manusia ibarat panggung sandiwara. Dalam momen seperti Lebaran, kita sedang berada di “panggung depan”, di mana setiap orang berusaha menampilkan versi terbaik dari dirinya.

Ilustrasi salah satu dampak pertanyaan yang tidak terkontrol saat lebaran yang mengundang depresi (Sumber: Generated by AI)

Masalah muncul ketika ada pertanyaan yang memaksa seseorang membuka “panggung belakang”, atau bagian hidup yang penuh perjuangan, kegagalan, atau kesedihan. Tidak semua orang siap membagikan cerita itu. Ketika dipaksa, yang muncul bukan kejujuran, tetapi rasa malu, tertekan, bahkan luka.

Lebih jauh lagi, tekanan ini juga dipengaruhi oleh budaya masyarakat kita yang komunal. Hamdi Muluk turut menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia sangat dipengaruhi oleh norma kelompok. Ada semacam “timeline kehidupan” yang dianggap ideal: sekolah, lulus, kerja, menikah, lalu mapan. Masalahnya, tidak semua orang berjalan di jalur yang sama. Ketika seseorang berbeda dari standar itu, ia sering dianggap tertinggal. Padahal, setiap orang memiliki cerita dan waktu yang berbeda.

Pemikir budaya Ariel Heryanto juga menegaskan bahwa masyarakat modern telah berubah. Tekanan ekonomi, persaingan kerja, dan perubahan sosial membuat standar lama tidak lagi relevan. Namun, cara berpikir masyarakat sering tertinggal. Kita masih memakai ukuran lama untuk menilai kehidupan yang sudah berubah.

Ironisnya, tekanan ini terkadang bisa saja dibungkus dengan narasi keagamaan. Max Weber dalam Sosiologi Agama, telah lama membedah bagaimana doktrin keyakinan sering kali disalahartikan menjadi dorongan untuk meraih dan memamerkan kesuksesan duniawi semata. Dalam konteks silaturahmi kita saat ini, kelancaran rezeki dan status sosial seolah dijadikan tolok ukur utama apakah seseorang mendapatkan berkah Tuhan atau tidak. Pandangan yang sangat materialistis inilah yang melahirkan sikap gemar membandingkan anak sendiri dengan pencapaian anak tetangga.

Pandangan ini sangat berbahaya. Ia menggeser makna keberhasilan dari yang seharusnya batiniah menjadi sekadar materi. Akibatnya, silaturahmi berubah menjadi ajang perbandingan, bukan lagi ruang penerimaan.

Ilustrasi momen lebaran yang sehat, supportif, dan tidak ada penghakiman di dalamnya (Sumber: Generated by AI)

Mengembalikan Lebaran sebagai Rumah yang Teduh

Jika masalah ini dibiarkan, maka Lebaran akan kehilangan ruhnya. Ia akan menjadi tradisi yang indah di permukaan, tetapi menyakitkan di dalam.

Solusinya tidak harus rumit. Ia bisa dimulai dari hal sederhana, yaitu dimulai dari cara kita berbicara. Tokoh pendidikan, Sri Lestari, dalam bukunya Psikologi Keluarga: Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga menegaskan pentingnya menanamkan nilai moral yang tidak hanya berpusat pada tumpukan materi. Keluarga harus menjadi tempat bernaung yang selalu mengutamakan kebahagiaan batin yang hakiki.

Kita juga perlu membangun apa yang disebut sebagai literasi empati. Ini bukan sekadar kemampuan memahami orang lain, tetapi kesediaan untuk menahan diri agar tidak melukai. Hafied Cangara dalam Komunikasi Keluarga: Jalan Menuju Ketahanan Keluarga dalam Era Digital, menjelaskan bahwa komunikasi yang sehat adalah komunikasi yang menjaga perasaan, sebab itu adalah kunci utama ketahanan mental sebuah keluarga. Percakapan yang baik seharusnya memeluk erat segala kelemahan, bukan menelanjangi kegagalan demi kepuasan rasa ingin tahu semata.

Lebaran seharusnya menjadi tempat istirahat bagi jiwa yang lelah. Tempat di mana seseorang bisa pulang tanpa harus menjelaskan segalanya. Tidak semua orang sedang baik-baik saja, dan tidak semua luka bisa diceritakan.

Maka, mungkin yang perlu kita ubah bukan tradisinya, tetapi cara kita menjalankannya. Mengganti pertanyaan dengan doa, mengganti penilaian dengan pelukan, dan mengganti rasa ingin tahu dengan pengertian.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana tapi penting: apakah kita ingin menjadi bagian dari luka orang lain, atau justru menjadi alasan mereka kembali merasa utuh?

Jawaban itu ada pada cara kita menyapa di hari yang fitri esok hari.