Meninjau Sistem Pendidikan dari Sudut Psikologi Siswa

Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Menaruh perhatian pada isu kependidikan, kebijakan publik di bidang pendidikan, dan tantangan pendidikan Islam kontemporer di Indonesia.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Handi Wahyu Purnomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi hari seharusnya menjadi waktu yang ringan bagi anak-anak untuk melangkah ke sekolah. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Di banyak sudut kota dan kampung, langkah kaki menuju gerbang sekolah justru terasa berat. Wajah-wajah muda yang mestinya cerah, kini sering tampak murung dan dipenuhi kecemasan yang tidak terucap. Di balik seragam yang rapi, tersimpan pikiran yang lelah, penuh beban, dan terus berputar tanpa henti.
Banyak siswa hari ini hidup dalam tekanan yang tidak sederhana. Mereka harus memenuhi ekspektasi nilai tinggi, menjaga citra di hadapan guru dan teman, serta menanggung harapan orang tua yang sering kali terlalu tinggi. Istilah yang kini populer adalah "overthinking". Overthinking saat ini bukan lagi sekadar kata tren, tetapi kenyataan yang menggerogoti keseharian mereka. Ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya rasa ingin tahu, perlahan berubah menjadi ruang uji nyali yang menakutkan.
Masalah ini bukan dugaan kosong. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada rentang 2025 hingga awal 2026 menunjukkan bahwa dari sekitar tujuh juta anak yang diperiksa, hampir sepuluh persen mengalami gangguan kesehatan jiwa. Lebih rinci, sekitar 338 ribu anak mengalami kecemasan kronis, dan 363 ribu lainnya mengalami depresi berat. Lebih mengkhawatirkan lagi, angka percobaan bunuh diri pada pelajar melonjak dari 3,9 persen pada tahun 2015 menjadi 10,7 persen pada tahun 2023. Laporan UNICEF tahun 2024 bahkan mencatat bahwa bunuh diri menjadi salah satu dari lima penyebab utama kematian pada usia muda di Indonesia.
Ketika Sistem Lebih Keras dari Jiwa Anak
Untuk memahami masalah ini, kita harus berhenti menyalahkan anak. Terlalu mudah bagi masyarakat untuk memberi label “lemah” atau “manja” pada generasi muda. Istilah generasi stroberi yang dipopulerkan oleh Rhenald Kasali dalam bukunya Strawberry Generation sering digunakan untuk menggambarkan anak muda yang tampak kuat dari luar, tetapi sangat rapuh saat menghadapi tekanan.
Namun, pandangan ini terlalu dangkal. Jika dilihat lebih dalam, kerapuhan itu bukan muncul begitu saja. Ia adalah hasil dari tekanan yang terus menumpuk tanpa jeda. Anak-anak hari ini tidak hanya belajar, mereka juga memikul beban ekspektasi yang sering kali bukan milik mereka sendiri. Mereka diminta menjadi sesuatu yang belum tentu sesuai dengan potensi dan jati dirinya.
Masalah semakin rumit ketika sistem pendidikan memaksakan standar yang sama untuk semua. Ken Robinson dalam bukunya Creative Schools: The Grassroots Revolution That's Transforming Education menjelaskan bahwa sistem pendidikan modern dibangun dengan pola pikir industri. Anak diperlakukan seperti produk yang harus memenuhi standar tertentu, bukan sebagai individu yang unik.
Akibatnya, hanya sebagian kecil siswa yang dianggap berhasil, sementara yang lain merasa tertinggal. Anak yang pandai matematika dipuji, tetapi yang berbakat di seni atau olahraga sering dipinggirkan. Ukuran keberhasilan menjadi sempit, hanya dilihat dari angka di rapor. Dalam jangka panjang, hal ini menciptakan rasa tidak berharga pada diri anak.
Lebih jauh lagi, metode pengajaran yang digunakan sering kali memperparah keadaan. Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed memperkenalkan konsep banking concept of education, yaitu cara belajar di mana siswa dianggap sebagai wadah kosong yang harus diisi. Guru berbicara, siswa mendengar. Guru memberi, siswa menerima.
Model ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Anak tidak diberi ruang untuk bertanya, berpikir kritis, atau mengekspresikan diri. Mereka belajar bukan karena ingin tahu, tetapi karena takut salah. Rasa takut ini terus menumpuk, menjadi kecemasan yang tidak terlihat, tetapi sangat nyata.
Di sinilah ruang kelas kehilangan jiwanya. Ia tidak lagi menjadi tempat yang aman untuk tumbuh, melainkan tempat yang membuat anak merasa diawasi, dihakimi, dan dibandingkan.
Padahal, bangsa ini memiliki warisan pemikiran pendidikan yang jauh lebih manusiawi. Ki Hajar Dewantara sejak lama menegaskan bahwa pendidikan adalah proses menuntun, bukan memaksa. Anak itu sejatinya bukan kertas kosong yang harus ditulis sesuka hati, melainkan benih yang harus dirawat sesuai dengan kodratnya.
Menurutnya, tugas pendidik adalah membantu anak menemukan jalannya sendiri, bukan menyeragamkan langkah mereka. Pendidikan seharusnya menjadi ruang yang hangat, tempat anak merasa aman untuk mencoba, gagal, dan belajar kembali.
Ketika prinsip ini diabaikan, ruang kelas berubah menjadi tempat yang menekan. Anak belajar untuk takut, bukan untuk memahami. Mereka mengejar nilai, bukan makna. Mereka menghafal, tetapi tidak mengerti.
Mengembalikan Jiwa pada Pendidikan
Pada akhirnya, kita harus jujur melihat kenyataan. Lonjakan masalah kesehatan mental pada siswa bukanlah kesalahan individu semata. Ia adalah tanda bahwa ada yang keliru dalam sistem yang kita bangun.
Sekolah seharusnya menjadi tempat yang menenangkan, bukan menegangkan. Tempat di mana anak merasa dihargai, bukan diukur semata-mata dari angka. Tempat di mana mereka bisa menjadi diri sendiri, bukan menjadi bayangan harapan orang lain.
Perubahan harus dimulai dari cara kita memandang pendidikan. Guru tidak lagi cukup menjadi penyampai materi, tetapi harus menjadi pendamping yang memahami kondisi psikologis siswa. Kurikulum tidak cukup hanya mengejar target akademik, tetapi juga harus menjaga kesehatan jiwa anak.
Kita juga perlu mengubah cara menilai keberhasilan. Tidak semua anak harus unggul di bidang yang sama. Setiap anak memiliki keunikan yang layak dihargai. Ketika perbedaan ini diterima, tekanan akan berkurang, dan ruang kelas bisa kembali menjadi tempat yang hidup.
Pada akhirnya, pertanyaan besar yang harus kita jawab bersama adalah, apakah kita ingin mencetak anak-anak yang tampak berhasil di atas kertas, tetapi hancur di dalam jiwa? Atau kita ingin membesarkan generasi yang utuh. Tidak hanya cerdas, tetapi juga tenang, kuat, dan bahagia?
Jawaban dari pertanyaan itu akan menentukan masa depan pendidikan kita. Dan lebih dari itu, masa depan manusia itu sendiri.
