Nubuat Rollo May dan Runtuhnya Jiwa Pendidikan

Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Menaruh perhatian pada isu kependidikan, kebijakan publik di bidang pendidikan, dan tantangan pendidikan Islam kontemporer di Indonesia.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Handi Wahyu Purnomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahun 2026 datang tanpa dentang peringatan, namun meninggalkan luka yang senyap di ruang-ruang kelas kita. Di tengah janji manis kecerdasan buatan yang mampu menyesuaikan pelajaran setepat sidik jari, jiwa anak-anak justru tampak semakin rapuh dan seragam. Mereka belajar lebih cepat, tetapi hidup terasa lebih lambat. Mereka tahu banyak, tetapi merasa sedikit.
Angka-angka berbicara dengan dingin. Data terbaru dari survei kesehatan mental remaja (I-NAMHS) dan laporan BPS tahun 2024-2025 melukiskan potret yang menunjukkan lebih dari sepertiga Generasi Z hidup dalam kecemasan dan burnout yang bukan sekadar kelelahan fisik, melainkan keletihan makna. Mereka cemas tanpa sebab yang jelas, lelah tanpa tahu harus berhenti di mana, dan yang paling mengkhawatirkan, merasa kosong. Seolah ada ruang di dalam diri mereka yang tak pernah terisi, meski data dan informasi terus dituangkan.
Kekosongan ini bukan sekadar gejala medis. Ia adalah gema lama yang kini menemukan tubuh baru. Lebih dari tujuh dekade lalu, Rollo May, seorang psikolog eksistensialis terkemuka, telah menuliskannya sebagai sebuah nubuat. Dalam Man’s Search for Himself (1953), ia memperingatkan kelahiran “Manusia Berongga” (The Hollow Men), manusia yang kehilangan pusat gravitasinya sendiri.
Rollo May mengutip penyair T.S. Eliot untuk menggambarkan individu yang kehilangan pusat gravitasinya sendiri, hidup tanpa kompas internal, dan hanya menjadi cangkang yang "bersandar bersama" (leaning together) dalam konformitas. Hari ini, ketika algoritma menentukan apa yang layak dipelajari, disukai, dan dirayakan, pertanyaan Rollo May kembali menghantui: apakah sekolah sedang mendidik manusia, atau hanya merakit pantulan ekspektasi pasar?
Keberanian untuk Mencipta
Rollo May memahami bahwa kekosongan bukan datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, dari kebiasaan menyerahkan diri pada penilaian luar. Dalam bukunya, Rollo May menceritakan seorang pasien yang mengaku, "I’m just a collection of mirrors, reflecting what everyone else expects of me" (Saya hanyalah sekumpulan cermin, memantulkan apa yang diharapkan orang lain dari saya). Di zaman digital, metafora itu kian terlihat nyata. Identitas siswa tidak lagi ditempa lewat perenungan, melainkan dirakit dari angka, likes, dan peringkat. Selama pantulan itu utuh, mereka merasa ada. Namun ketika cermin retak, ketika nilai turun atau pengakuan menghilang, harga diri pun runtuh bersamanya.
Kondisi ini diperparah oleh apa yang Rollo May sebut dalam bukunya Love and Will (1969) sebagai "Dunia Skizoid" (The Schizoid World), dunia yang membuat manusia menjauh dari perasaannya sendiri demi bertahan. Notifikasi tak henti, kurikulum yang menumpuk, dan tuntutan untuk selalu responsif memaksa siswa menarik diri secara emosional. Mereka hadir di bangku sekolah, tetapi jiwa mereka mengembara entah ke mana. Yang tersisa adalah apatisme, perasaan bahwa semuanya tidak lagi berarti. Sebuah benteng sunyi untuk melindungi diri dari dunia yang meminta terlalu banyak, namun memberi terlalu sedikit makna.
Ironisnya, sistem pendidikan sering kali ikut mengokohkan kebekuan ini. Dalam obsesinya pada standar dan jawaban benar, sekolah tanpa sadar membunuh keberanian, satu-satunya daya hidup yang bisa menyelamatkan manusia dari kekosongan. Dalam bukunya yang monumental, The Courage to Create (1975), Rollo May menegaskan sebuah dalil yang tajam: "The opposite of courage in our society is not cowardice, it is conformity" (lawan dari keberanian dalam masyarakat kita bukanlah kepengecutan, melainkan konformitas). Kita memuji kepatuhan, merayakan keseragaman, dan mencurigai perbedaan. Padahal yang dibutuhkan siswa bukan sekadar kepandaian mengikuti pola, melainkan keberanian untuk mencipta, untuk gagal, dan untuk menegaskan keberadaannya sendiri di hadapan dunia.
Pendidikan sebagai Tombak Kesadaran
Jika arah ini terus dibiarkan, kita berisiko melahirkan generasi yang mahir secara teknis tetapi yatim secara spiritual. Mereka menguasai cara, tetapi kehilangan alasan. Mereka tahu bagaimana melakukan sesuatu, namun tak pernah diajak bertanya mengapa hidup itu perlu dijalani dengan sungguh-sungguh.
Rollo May tidak menawarkan nostalgia masa lalu. Ia mengusulkan perubahan tujuan. Dalam Psychology and the Human Dilemma, ia menegaskan bahwa pendidikan sejati bukanlah pemindahan informasi, melainkan pelebaran dan pendalaman kesadaran. Pendidikan seharusnya membantu siswa mengenali potensi uniknya, berani merasakan emosinya, dan terlibat secara jujur dengan dunia.
Masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi di kelas, melainkan oleh seberapa hidup jiwa yang menggunakannya. Kita membutuhkan guru yang melampaui peran teknis, guru yang berani menjadi pembangun jiwa. Guru yang menatap muridnya dan berkata, dengan keyakinan yang sunyi namun teguh, bahwa mereka bukan cermin. Mereka adalah pencipta. Sebab hanya dengan keberanian itulah manusia berhenti menjadi berongga, dan mulai menemukan maknanya kembali.
