Salah Kaprah Orde Baru yang Abadi: Mengapa "Kiri" Selalu Dibilang Komunis

Mahasiswa Fakultas Hukum UPN "Veteran" Jakarta, Hukum Tata Negara, Hukum Lingkungan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Handy Razaq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernamaan antara “kiri” dan komunisme merupakan sebuah penyederhanaan terhadap pemikiran politik yang sebenarnya jauh lebih dalam. Di dalam konteks Indonesia, pernamaan tersebut tidak dapat dilepaskan dari pengalaman sejarah G30S, kebijakan anti-komunisme, serta warisan Orde Baru yang kemudian membentuk persepsi masyarakat terhadap berbagai gagasan yang dianggap kiri.
Pemikiran kiri, termasuk Marxisme, memiliki sejarah yang panjang dan tidak hanya berhenti pada satu bentuk pemikiran. Dalam perkembangannya, pemikiran Marx telah ditafsirkan dan dikembangkan oleh berbagai tokoh dan gerakan dengan cara yang berbeda-beda. Oleh karena itu, memahami Marxisme tidak seharusnya langsung berarti menganggap seseorang sebagai pendukung komunisme. Namun, mengapa yang terjadi di Indonesia justru kata “kiri” sering kali hanya dianggap sebagai komunisme?
Trauma sejarah mengenai G30S menjadi salah satu alasan mengapa pemikiran kiri memiliki stigma yang kuat di Indonesia. Berbagai kebijakan anti-komunisme pada masa setelahnya juga ikut membentuk cara masyarakat dalam melihat gagasan yang dianggap berhubungan dengan kiri. Padahal, pemikiran mengenai sosialisme dan berbagai gagasan kiri telah hadir dalam perjalanan sejarah Indonesia sejak sebelum dan setelah kemerdekaan.
Jika kita melihat kehidupan masyarakat saat ini, terdapat berbagai kebijakan yang memiliki gagasan mengenai jaminan sosial, pemerataan, dan upaya mengurangi kesenjangan ekonomi. Misalnya, adanya sistem BPJS dan kebijakan perpajakan yang mengenakan beban lebih besar kepada kelompok dengan kemampuan ekonomi yang lebih tinggi. Gagasan mengenai jaminan sosial dan redistribusi ekonomi sendiri juga pernah menjadi bagian dari perdebatan dalam berbagai pemikiran politik kiri. Namun, apakah masyarakat menyadari bahwa suatu gagasan kebijakan tidak dapat begitu saja diberi label sebagai komunisme hanya karena memiliki kemiripan dengan gagasan tertentu dari pemikiran kiri?
Menurut penulis, pemahaman mengenai kiri tidaklah tepat jika selalu disamakan dengan komunisme. Bahkan, menganggap semua pemikiran kiri sebagai sesuatu yang buruk juga merupakan bentuk penyederhanaan terhadap sejarah. Kita dapat tidak menyetujui suatu pemikiran tanpa harus berhenti mempelajarinya.
Hal ini dapat kita lihat dari sejarah para tokoh bangsa kita sendiri. Tidak semua orang yang memiliki pemikiran sosialisme atau kiri kemudian menjadi bagian dari komunisme. Mereka memiliki pemikiran dan pandangan masing-masing mengenai bagaimana seharusnya Indonesia dibangun.
Jika setiap orang yang memiliki pemikiran kiri otomatis dicap sebagai PKI atau komunis, maka kita harus mempertanyakan kembali bagaimana kita memahami sejarah pemikiran para tokoh bangsa. Sutan Sjahrir, misalnya, dikenal memiliki pemikiran sosialisme, tetapi bukan berarti pemikirannya dapat begitu saja disamakan dengan komunisme. Begitu pula Mohammad Hatta yang memiliki perhatian besar terhadap persoalan sosial dan ekonomi serta gagasan koperasi. Mereka memiliki pemikiran sendiri mengenai bagaimana Indonesia seharusnya dibangun dan tidak dapat begitu saja dimasukkan ke dalam satu kategori yang sama.
Memberikan label terhadap pemikiran politik kiri yang begitu luas sebagai “komunisme” bukan hanya membuat kita kehilangan kesempatan untuk memahami perbedaan antar-pemikiran, tetapi juga dapat membuat sejarah Indonesia menjadi terlalu sederhana. Sejarah seharusnya tidak hanya dipelajari untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi juga untuk memahami mengapa berbagai pemikiran tersebut pernah muncul dan berkembang di Indonesia.
Penulis membuat tulisan ini berdasarkan pengalaman yang dirasakan secara langsung. Ketika membaca buku mengenai “kiri”, penulis justru menemukan adanya kesenjangan antara apa yang sedang dipelajari dengan bagaimana sebagian masyarakat memandangnya. Ketika seseorang membaca buku mengenai pemikiran kiri, belum tentu ia sedang menjadi seorang komunis. Namun, anggapan tersebut terkadang muncul hanya karena seseorang tertarik untuk mempelajari pemikiran yang dianggap sensitif.
Menurut penulis, mempelajari suatu pemikiran tidak sama dengan menganut pemikiran tersebut. Membaca Marxisme tidak otomatis menjadikan seseorang komunis, mempelajari sejarah komunisme tidak berarti seseorang sedang membenarkan komunisme. Justru dengan mempelajarinya, kita dapat mengetahui apa yang sebenarnya dimaksud oleh suatu pemikiran dan bagaimana pengaruhnya terhadap sejarah.
Pada akhirnya, pertanyaan mengenai “kiri” dan komunisme tidak seharusnya dijawab hanya dengan memberikan sebuah label. Jika setiap pemikiran yang dianggap kiri langsung disamakan dengan komunisme, maka jangan-jangan bukan hanya pemikiran yang kita sederhanakan, tetapi juga sejarah Indonesia yang kita lupakan.
