Resensi Buku Masyarakat Sunda Tradisonal

Humam Syarifuddin
Berprofesi sebagai pebisnis di bidang kuliner, saya memiliki ke tertarikan yang tinggi untuk pengembangan dan inovasi produk indonesia khususnya di bidang makanan dan minuman. Saya juga tertarik dalam permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat banyak
Konten dari Pengguna
20 Januari 2023 13:42 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Humam Syarifuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber : Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Dokumen Pribadi
ADVERTISEMENT
Judul Buku : Masyarakat Sunda Tradisional Kebudayaan, Nalar, dan Konsepsi Kekuasaan Politik
ADVERTISEMENT
Penerbit : Madani, Kelompok Intrans Publishing
Pengarang : Dr. Indiana Ngenget, M.Si.
ISBN : 978-602-0899-96-1
Jumlah Halaman : 169
Harga : Rp. 70.000
" Pakena gawe rahayu pakeun heubeul jaya di buana "
" Membiasakan diri untuk berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia "
-. Wasiat Prabu Watukancana, hlm. 134
Kebudayaan sunda memiliki banyak pengaruh secara bahasa, adat maupun budaya yang mana tidak dapat dipungkiri berimbas secara massive di pulau jawa. Tiga wilayah pulau jawa yang terbagi menjadi barat, tengah, dan timur memiliki keunikan masing-masing yang mana, sudah banyak buku yang membahas hal tersebut. Akan tetapi, sangat disayangkan literasi tentang Jawa Barat sangat minim untuk di diketahui oleh masyarakat awam. Dalam buku ini akan di bahas beberapa potongan kecil yang menggambarkan identitas masyarakat sunda tradisional secara kebudayaan, cara berfikir serta konsep kekuasaan politik.
ADVERTISEMENT
Perbedaan yang sangat signifikan sangat ditunjukkan dalam buku ini, konsep berfikir masyarakat sunda yang banyak terpengaruh dari masa Hindu, Buddha, Islam hingga Kolonialisme melahirkan suatu afiliasi budaya dan tradisi yang sangat unik. Sebagai contoh, kerajaan yang berdiri di jawa barat seperti Kerajaan Pajajaran, sangat amat berbeda dengan kerajaan-kerajaan lain yang berada di jawa timur seperti Kerajaan Majapahit. Dari konsep identitas penguasa, sifat masyarakat hingga peraturan yang tertulis maupun tidak. Dalam konsep sunda tradisional raja dianggap sebagai perantara antara dunia ini dengan dunia supranatural. Kekuatan supranatural mempunyai peran penting untuk seorang raja selama memegang kekuasaan, sehingga masyarakat sunda tradisional benar-benar menganut konsep tersebut.
Kemudian, perbedaan lain yang terlihat antara kerajaan sunda dengan kerajaan jawa adalah konsep Kabuyutan (Tempat keramat bagi para leluhur). Pada kerajaan sunda, Kabuyutan bukan hanya sebagai area keagamaan dan sosial, namun juga sebagai pusat kekuatan mistis bagi raja dan kerajaannya. Penguasaan Kabuyutan yang baik dan benar oleh seorang raja akan menghasilkan harmonisasi antara dunia ini dengan dunia lain, serta akan memperkuat legitimasi religius bagi penguasa. Berbeda dengan kerajaan jawa, yang mana arti dan konsep Kabuyutan berbeda jauh dengan apa yang diterapkan di kerajaan sunda. Kabuyutan pada masa Kerajaan Majapahit, dikenal sebagai daerah Kawikuan/Karsyan (Keagamaan) bagi para Wiku (Bhiksu), sedangkan untuk kedudukan Kabuyutan sendiri pada kerajaan jawa, tidak dijelaskan dalam naskah-naskah kuno.
ADVERTISEMENT
Beberapa hal unik yang di paparkan oleh penulis dalam buku ini, seperti bagaimana pandangan masyarakat sunda tradisional terhadap Masyarakat Jawa, bagaimana penyebaran Agama Islam yang dianggap lebih sulit dibandingkan dengan daerah-daerah lain di pulau jawa, nilai-nilai keteladanan dan semangat masyarakat sunda dari peristiwa Perang Bubat, Kabuyutan atau tempat sakral sebagai tempat yang dianggap wajib dan dijaga ketat oleh kerajaan, dan juga Konsep Tri Tangtu, yaitu sebuah struktur dimana raja muda, raja tua dan pemuka agama yang saling berkaitan.
Penulis buku ini, Dr. Indiana Ngenget, M.Si. Adalah seorang dosen dan peneliti Prodi Ilmu Politik Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Penulis mengajar beberapa mata kuliah seperti Kekuatan-kekuatan Politik di Indonesia, Metodologi Ilmu Politik, Ekonomi Politik dan lain sebagainya. Selain sebagai akademisi, penulis juga aktif sebagai peneliti dan menjadi Kepala Bagian Penelitian di LPPKM IISIP Jakarta. Penulis juga pernah menjadi Kepala Laboratorium Ilmu Politik di FISIP IISIP Jakarta. Sebagai akdemisi, penulis cukup aktif melakukan penelitian dan menulis paper/journal.
ADVERTISEMENT
Pada hakikatnya, buku ini sangat menarik bagi para penikmat Sejarah Indonesia, akan tetapi masih belum mampu menjawab beberapa pertanyaan yang muncul dalam benak pembaca. Di karenakan, buku ini secara garis besar berfokus tentang pembahasan politik masyarakat sunda dengan sedikit aspek budaya, tradisi maupun sosial yang dijelaskan. Seluruh poin-poin yang tertulis dalam buku ini tertuju kepada hal-hal yang berkaitan dengan politik yang dianut oleh masyarakat sunda tradisional, sehingga ekspetasi dari para pembaca yang mungkin menginginkan informasi tentang masyarakat sunda lebih banyak lagi, tidak terdapat dalam buku ini.
Di sisi lain, buku ini sangat mudah di pahami bagi masyarakat awam, di karenakan pembahasan yang mengerucut kepada konsep politik, tidak melebar dan rinci. Yang membuat para pembaca bisa fokus terhadap pembahasan yang di bahas oleh penulis. Walaupun secara rujukan dan informasi yang diambil oleh penulis hanya sebatas pada beberapa naskah-naskah Sunda Kuno seperti ' Carita Parahyangan ', ' Fragmen Carita Parahyangan ', ' Sahyang Siksa Kandang Karesian ', serta beberapa wawancara dengan para ahli sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan konsepsi politik masyarakat sunda tradisional.
ADVERTISEMENT