Konten dari Pengguna

Indonesia Sedang Tidak Krisis tetapi Banyak Orang Mulai Merasa Ekonomi Berat ?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hani Aprilia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Dokumentasi Pribadi, Pasar Reni Jaya Pamulang Tangerang Selatan.
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dokumentasi Pribadi, Pasar Reni Jaya Pamulang Tangerang Selatan.

Perekonomian Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang relatif terjaga. Namun, di balik angka-angka tersebut, muncul pertanyaan yang semakin relevan mengapa sebagian masyarakat masih merasa bahwa kondisi ekonomi semakin berat? Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan persepsi, melainkan mencerminkan adanya kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi secara agregat dan pengalaman ekonomi yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Perekonomian Indonesia pada semester I-2026 tumbuh sebesar 5,45 persen secara kumulatif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (cumulative to cumulative). Sementara itu, pada triwulan II-2026, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih berkembang.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang positif tidak otomatis menjamin bahwa seluruh lapisan masyarakat merasakan peningkatan kesejahteraan. Produk Domestik Bruto (PDB) menggambarkan nilai keseluruhan aktivitas ekonomi suatu negara, tetapi tidak sepenuhnya menjelaskan bagaimana pendapatan, kesempatan kerja, dan manfaat pertumbuhan tersebut terdistribusi di antara masyarakat.

Di sinilah letak persoalan yang perlu mendapat perhatian. Ketika indikator ekonomi nasional menunjukkan perkembangan positif, masyarakat tetap berhadapan dengan kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi, mulai dari pangan, transportasi, pendidikan, hingga biaya tempat tinggal. Bagi rumah tangga dengan pendapatan terbatas, kenaikan pengeluaran untuk kebutuhan pokok dapat mengurangi kemampuan memenuhi kebutuhan lainnya.

Persoalan ekonomi tidak cukup dilihat hanya dari seberapa besar pertumbuhan yang dicapai, tetapi juga dari sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan daya beli dan kualitas hidup masyarakat.

Salah satu faktor yang memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi adalah perubahan harga barang dan jasa. Harga sejumlah komoditas dapat meningkat lebih cepat dibandingkan komoditas lainnya sehingga dampaknya berbeda pada setiap rumah tangga. Keluarga berpendapatan rendah, misalnya, cenderung mengalokasikan bagian pendapatan yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ketika harga beras, telur, minyak goreng, atau biaya transportasi meningkat, ruang anggaran untuk kebutuhan lain menjadi semakin terbatas.

Bagi masyarakat, ukuran kesejahteraan bukan hanya seberapa terkendali kenaikan harga, melainkan juga apakah pendapatan yang mereka peroleh masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak.

Faktor berikutnya adalah ketidakseimbangan antara perkembangan pendapatan dan pengeluaran rumah tangga. Pertumbuhan ekonomi dapat terjadi bersamaan dengan kondisi ketika sebagian pekerja belum mengalami peningkatan pendapatan yang memadai. Pekerja informal, pelaku usaha mikro, dan masyarakat dengan penghasilan tidak tetap menghadapi tantangan tersendiri. Pendapatan mereka dapat berubah mengikuti permintaan pasar, jumlah pelanggan, dan kondisi usaha. Sementara itu, sebagian besar kebutuhan pokok harus tetap dipenuhi secara rutin.

Dalam situasi seperti ini, kenaikan pendapatan yang kecil belum tentu menghasilkan peningkatan kesejahteraan apabila pengeluaran meningkat lebih cepat. Bahkan, ketika pendapatan nominal tidak berubah, kenaikan harga dapat mengurangi daya beli riil masyarakat.

Kondisi tersebut bukan berarti pertumbuhan ekonomi tidak memiliki manfaat. Namun, pertumbuhan perlu diiringi kebijakan yang mampu memperluas akses terhadap pekerjaan, pendidikan, pembiayaan usaha, dan layanan dasar agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih merata.

Stabilitas makroekonomi merupakan fondasi penting bagi pembangunan. Inflasi yang terkendali, nilai tukar yang relatif stabil, serta sistem keuangan yang sehat dapat menciptakan kepastian bagi dunia usaha dan masyarakat. Namun, stabilitas tersebut perlu diterjemahkan menjadi perbaikan kondisi ekonomi rumah tangga.

Kebijakan stabilisasi perlu berjalan beriringan dengan upaya memperkuat sektor riil. Dunia usaha membutuhkan iklim investasi yang kondusif, sedangkan masyarakat membutuhkan kesempatan kerja yang layak dan pendapatan yang memadai. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya mendorong peningkatan aktivitas produksi, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Persoalan utama yang perlu dijawab bukan semata-mata apakah Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi, melainkan apakah pertumbuhan yang dicapai telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat secara luas. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, evaluasi pembangunan perlu melampaui indikator pertumbuhan PDB.

Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu memperhatikan perkembangan pendapatan riil, kualitas lapangan kerja, tingkat kemiskinan, ketimpangan pendapatan, serta kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar. Indikator-indikator tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi ekonomi masyarakat.

Dengan demikian, keberhasilan pembangunan tidak hanya dinilai dari peningkatan produksi nasional, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menikmati hasil pembangunan secara berkelanjutan. Pada saat yang sama, masyarakat perlu memperoleh informasi ekonomi yang transparan dan mudah dipahami. Data mengenai harga kebutuhan pokok, perkembangan upah, kondisi ketenagakerjaan, serta daya beli rumah tangga perlu disampaikan secara terbuka agar publik dapat menilai perkembangan ekonomi berdasarkan kondisi yang nyata.

Indonesia mungkin tidak sedang menghadapi krisis ekonomi dalam pengertian makroekonomi yang luas. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti seluruh masyarakat terbebas dari tekanan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang positif dapat berjalan berdampingan dengan persoalan daya beli, pendapatan yang belum memadai, dan ketidakpastian pekerjaan.

Situasi ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur melalui angka pertumbuhan, tetapi juga melalui perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat. Tantangan ke depan adalah memastikan agar pertumbuhan ekonomi mampu menciptakan pekerjaan yang produktif, menjaga keterjangkauan kebutuhan pokok, memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta meningkatkan pendapatan riil masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi tidak hanya tercermin dalam laporan statistik, tetapi juga dalam kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai pendidikan anak, menabung untuk masa depan, dan menjalani kehidupan dengan rasa aman secara ekonomi. Sebab, ekonomi yang tumbuh seharusnya bukan hanya terlihat baik dalam angka, melainkan juga terasa nyata dalam kehidupan masyarakat.

Penulis: Hani Aprilia Mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang