Konten dari Pengguna

Career Planning ala HRD: Belajar Perencanaan SDM untuk Karier Sendiri

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hani Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi penyusunan rencana (Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penyusunan rencana (Unsplash)

Mahasiswi Universitas Pamulang, Hani Azizah Azaniansyach

Career Planning ala HRD: 4 Konsep untuk Merencanakan Karier

Pernah nggak, lagi asyik scroll media sosial, tiba-tiba muncul pertanyaan yang bikin kepikiran: "Nanti kerja apa, ya?" Buat sebagian besar mahasiswa, pertanyaan ini bukan cuma sekali muncul, tetapi bisa datang menjelang semester akhir. Skripsi belum kelar, magang belum jelas, dan rencana masa depan masih berupa kabut tebal. Padahal, merencanakan karier sejak kuliah bisa membantu mahasiswa mempersiapkan diri sebelum memasuki dunia kerja.

Menariknya, ada satu bidang ilmu yang sebenarnya sudah lama punya jawaban atas kegelisahan semacam ini, meskipun bukan dirancang untuk mahasiswa, yaitu perencanaan sumber daya manusia (SDM). Bidang ini biasanya digunakan perusahaan untuk memastikan mereka memiliki orang yang tepat, di posisi yang tepat, dan pada waktu yang tepat. Namun, kalau dipikir-pikir, prinsip yang sama sebenarnya bisa digunakan untuk merencanakan karier sendiri.

Apa Sebenarnya Perencanaan SDM Itu?

Secara sederhana, perencanaan SDM adalah proses sebuah organisasi dalam memprediksi kebutuhan tenaga kerja di masa depan, lalu menyusun langkah-langkah untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Perusahaan nggak asal merekrut orang begitu saja. Mereka menganalisis posisi yang dibutuhkan, keterampilan yang masih kurang, dan kebutuhan tenaga kerja dalam beberapa tahun mendatang. Dari situ, perusahaan bisa menentukan siapa yang perlu dilatih, direkrut, atau dipersiapkan untuk mengisi jabatan tertentu.

Kalau perusahaan saja repot-repot memikirkan siapa yang mereka butuhkan lima tahun ke depan, rasanya wajar jika mahasiswa mulai memikirkan ingin menjadi siapa dalam lima tahun mendatang.

Bedanya cuma satu. Kalau perusahaan merencanakan SDM untuk ribuan orang, mahasiswa cukup merencanakan karier untuk satu orang, yaitu dirinya sendiri.

Ilustrasi perencanaan strategi (Unsplash)

4 Konsep HRD yang Bisa Dipinjam untuk Merencanakan Karier

1. Analisis kebutuhan: kenali kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan

Dalam dunia kerja, HRD biasa membandingkan keterampilan yang dimiliki karyawan dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengisi posisi tertentu. Proses ini membantu perusahaan mengetahui kesenjangan keterampilan yang perlu dikembangkan.

Mahasiswa bisa melakukan hal serupa dengan cara yang lebih personal. Mulailah dengan membandingkan kemampuan yang sudah dimiliki dengan kualifikasi yang biasanya diminta untuk posisi pekerjaan impian.

Misalnya, kamu tertarik menjadi seorang content strategist. Coba lihat beberapa lowongan pekerjaan untuk posisi tersebut. Perhatikan keterampilan yang sering dicantumkan, seperti kemampuan menulis, analisis data, strategi konten, dan pemahaman media sosial.

Setelah itu, buat daftar keterampilan yang sudah kamu kuasai dan keterampilan yang masih perlu dipelajari. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui bagian mana yang perlu dikembangkan sebelum memasuki dunia kerja.

2. Forecasting: memprediksi tren dan kebutuhan industri

HRD tidak cuma melihat kebutuhan tenaga kerja saat ini, tetapi juga mencoba membaca arah perkembangan industri di masa depan.

Mahasiswa pun bisa melatih kebiasaan ini dengan mengikuti perkembangan bidang yang diminati. Caranya bisa melalui laporan industri, webinar, berita, atau obrolan dengan para praktisi.

Keterampilan yang relevan sekarang belum tentu memiliki tingkat kebutuhan yang sama lima tahun mendatang. Karena itu, penting untuk terus memperbarui pengetahuan dan mengembangkan kemampuan agar tetap relevan dengan perubahan dunia kerja.

Namun, perlu diingat bahwa prediksi tidak selalu tepat. Tujuan forecasting bukan untuk mengetahui masa depan secara pasti, melainkan membantu kita mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan.

3. Talent development plan: susun rencana pengembangan diri

Dalam dunia HRD, talent development plan digunakan untuk membantu karyawan mengembangkan kemampuan agar dapat memenuhi kebutuhan organisasi dan mencapai tujuan karier.

Mahasiswa bisa meniru konsep ini dengan menyusun rencana belajar sendiri.

Misalnya, pada semester ini kamu ingin mengikuti kursus tertentu, mengambil sertifikasi pada semester berikutnya, lalu mencoba magang sebelum lulus kuliah.

Rencana tersebut sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan, waktu, dan kondisi masing-masing. Nggak perlu mempelajari semuanya sekaligus. Lebih baik berkembang secara bertahap dan terarah daripada mencoba banyak hal tanpa tujuan yang jelas.

4. Succession planning: siapkan rencana karier cadangan

Di perusahaan, succession planning merupakan proses mempersiapkan calon pengganti untuk mengisi posisi penting agar organisasi tetap berjalan ketika terjadi pergantian jabatan.

Prinsip ini juga bisa diterapkan dalam perencanaan karier pribadi, yaitu dengan mempersiapkan beberapa pilihan karier.

Sebagai mahasiswa, punya satu pekerjaan impian tentu nggak salah. Namun, terlalu bergantung pada satu jalur karier juga bisa membuat kita kesulitan ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan.

Cobalah menyusun rencana A, B, bahkan C. Bukan karena kurang percaya diri, tetapi sebagai bentuk persiapan menghadapi berbagai kemungkinan.

Misalnya, jika tujuan utamamu adalah menjadi content strategist, kamu juga bisa mempertimbangkan pekerjaan di bidang social media specialist, copywriting, atau pemasaran digital yang membutuhkan keterampilan serupa.

Dengan begitu, kamu tetap memiliki alternatif ketika kesempatan pada jalur utama belum terbuka.

Contoh Sederhana Penerapan Perencanaan SDM

Bayangkan seorang mahasiswa jurusan komunikasi yang bercita-cita menjadi content strategist di sebuah perusahaan media.

Dengan menerapkan konsep perencanaan SDM, ia mulai mengecek berbagai lowongan pekerjaan untuk mengetahui keterampilan yang paling sering diminta, seperti kemampuan menulis, strategi konten, analisis data, dan pemahaman media sosial.

Dari situ, ia menyadari bahwa kemampuan menulisnya sudah cukup baik, tetapi masih perlu mempelajari analisis data. Ia pun mulai belajar dasar-dasar Google Analytics secara mandiri.

Di sisi lain, ia juga mengikuti perkembangan industri media digital melalui berita, webinar, dan newsletter. Sambil mempersiapkan diri, ia menyusun rencana cadangan untuk berkarier di bidang lain yang masih berkaitan dengan keterampilannya.

Semua langkah kecil tersebut, jika disusun dengan sadar, sebenarnya merupakan bentuk penerapan perencanaan SDM untuk diri sendiri.

Langkah Praktis yang Bisa Dicoba

Sebagai permulaan, coba luangkan waktu untuk menuliskan tiga hal: posisi atau bidang kerja yang diminati, keterampilan yang sudah dimiliki sekarang, dan keterampilan yang masih perlu dikembangkan.

Dari situ, susun rencana belajar sederhana untuk satu semester ke depan, lengkap dengan target yang realistis. Misalnya, menyelesaikan satu kursus, membuat portofolio, atau mengikuti program magang yang relevan.

Jangan lupa menyiapkan rencana alternatif supaya kamu tidak terlalu bergantung pada satu jalur karier saja.

Evaluasi rencanamu secara berkala. Jika minat atau kondisi industri berubah, kamu bisa menyesuaikan langkah tanpa harus merasa gagal karena rencana awal tidak berjalan sesuai harapan.

Penutup

Perusahaan saja rela menghabiskan waktu dan anggaran untuk merencanakan kebutuhan sumber daya manusianya dengan matang. Rasanya aneh kalau mahasiswa yang sedang mempersiapkan masa depannya sendiri justru menjalani semuanya dengan prinsip "lihat nanti saja".

Belajar dari cara kerja HRD bukan berarti harus menjadi seorang HRD. Namun, kita bisa meminjam pola pikirnya: kenali kebutuhan, pantau perkembangan industri, siapkan rencana pengembangan, dan selalu punya opsi cadangan.

Kalau perusahaan saja niat banget merencanakan SDM-nya, masa kita nggak niat merencanakan karier sendiri?