Inovasi Pindang Lebih Aman : Rahasia Pindang Sehat Ala Mahasiswa UNDIP!!
Tulisan dari Hanif Faturahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenapa Asap Bisa Berbahaya?
Selama ini, proses pemindangan atau pengasapan ikan dilakukan menggunakan arang sebagai bahan bakar. Namun, pembakaran langsung ini berpotensi menghasilkan senyawa PAH (Polycyclic Aromatic Hydrocarbons) yang bersifat karsinogenik. Senyawa ini dapat menempel pada permukaan ikan dan menjadi ancaman bagi kesehatan konsumen.
“Kalau dibiarkan, ikan yang diasap tanpa kontrol bisa mengandung zat pemicu kanker. Makanya perlu solusi sederhana yang bisa diterapkan langsung oleh UMKM,” jelas Hanif, mahasiswa Teknologi Hasil Perikanan UNDIP.
Serabut Kelapa, Solusi Alami yang Aman
Inovasi ini cukup simpel: meletakkan lapisan serabut kelapa di atas arang saat proses pemindangan. Serabut kelapa akan menyaring sebagian besar senyawa berbahaya yang terbentuk dari pembakaran langsung arang, sekaligus menghasilkan aroma khas yang menambah cita rasa ikan asap.
“Serabut kelapa ini bertindak seperti filter alami. Murah, mudah didapat, dan terbukti aman,” tambah Hanif saat demonstrasi di Desa Tambaksari, Kendal.
Antusiasme Warga: Solusi Ini Ramah Lingkungan dan Ekonomis
Dalam kegiatan sosialisasi yang digelar di Balai Desa Tambaksari, para ibu-ibu PKK dan pelaku UMKM pengolah ikan terlihat sangat antusias. Mereka menyambut metode ini karena tidak memerlukan alat baru, biaya tambahan, atau keterampilan khusus.
“Kalau begini caranya, kami bisa langsung praktek. Nggak mahal, nggak ribet, tapi manfaatnya besar,” ujar Bu Sri, salah satu peserta pelatihan.
Dari Mahasiswa untuk Masyarakat: Inovasi yang Berdampak
Kegiatan ini merupakan bagian dari program KKN Tematik UNDIP dengan tema "Penambahan serabut kelapa di atas arang saat Pemindangan guna menghindari senyawa karsinogenik yang mampu menyebabkan kanker". Harapannya, metode sederhana ini bisa diterapkan secara luas oleh pelaku usaha kecil-menengah, sehingga produk ikan asap lokal makin sehat dan kompetitif.
Dengan adanya inovasi ini, mahasiswa UNDIP turut serta menjaga kesehatan masyarakat sekaligus meningkatkan mutu produk olahan ikan tradisional Indonesia.
Batok Kelapa Jadi Bracket: Inovasi Sederhana, Efisiensi Maksimal
Tak hanya serabutnya, batok kelapa juga dimanfaatkan menjadi bracket—yakni alat dudukan atau penyangga untuk menggantikan fungsi kayu bakar konvensional saat proses pemindangan. Inovasi ini muncul dari pemikiran mahasiswa UNDIP untuk mengurangi penggunaan kayu yang semakin sulit dan mahal.
“Batok kelapa kami bentuk menjadi penyangga bara, jadi lebih terfokus panasnya dan tidak cepat habis seperti kayu biasa. Apinya juga lebih stabil,” ujar Hanif.
Batok kelapa yang biasanya hanya menjadi limbah, kini dapat diolah dan digunakan kembali sebagai sumber panas terbarukan yang lebih efisien, ekonomis, dan ramah lingkungan. Selain mengurangi ketergantungan terhadap kayu bakar, metode ini juga memanfaatkan bahan lokal yang mudah ditemukan di desa-desa pesisir.
Harapan untuk Dukungan Pemerintah Daerah
Melalui kegiatan ini, para mahasiswa juga berharap agar inovasi seperti ini didorong oleh pemerintah desa dan Dinas Perikanan. Pelatihan lanjutan, sertifikasi, hingga pendampingan usaha bisa membuat pengolah ikan lokal naik kelas dan lebih siap menghadapi persaingan pasar.
“Kami sudah siap kalau nanti diajak pelatihan lagi atau dibantu alat sederhana. Ingin usaha pindang kami lebih sehat dan laris,” ujar salah satu warga.
Langkah Kecil, Dampak Besar
Inisiatif mahasiswa UNDIP ini menjadi bukti bahwa ilmu kampus bisa membawa dampak nyata bagi masyarakat. Lewat pendekatan langsung, edukasi yang mudah dipahami, dan solusi yang aplikatif, warga bisa menerima dan menerapkan teknologi dengan cepat.
“Serabut kelapa yang tadinya cuma limbah, sekarang jadi penyelamat kualitas ikan asap. Harapannya, makin banyak desa yang ikut menerapkan,” tutup Hanif.

