Konten dari Pengguna

Kopi Terus, Teman Seharian atau Musuh dalam Selimut?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanif Rasik Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak muda yang meminum kopi ketika belajar atau beraktivitas
zoom-in-whitePerbesar
Anak muda yang meminum kopi ketika belajar atau beraktivitas

Mau mulai aktivitas, kopi. Mau mengerjakan tugas, kopi. Berkumpul bersama teman-teman, kopi lagi. Bagi sebagian besar anak muda zaman sekarang, kopi tak lagi sekadar menjadi minuman penawar lelah, melainkan telah menjadi identitas, kebiasaan, bahkan alasan untuk keluar rumah. Coba perhatikan linimasa media sosial. Sudah banyak unggahan aktivitas anak muda yang tidak jauh dari minum kopi sebagai sandingannya. Hal itu diperkuat dengan rekomendasi tempat nongkrong yang mudah menjadi perhatian anak muda, tidak lain dan tidak bukan adalah toko kopi dengan ciri khas varian menu masing-masing. Fenomena ini mungkin terasa wajar, bahkan keren. Namun, di balik gelas yang terus terisi ulang itu, sebenarnya tubuh kita diam-diam mencatat setiap tegukan yang kita minum.

Bagaimana Kopi Berubah Menjadi Rutinitas Wajib Dahulu, kopi sering diminum oleh orang tua yang sesekali ingin menemani obrolan atau sekadar menjadi teman sarapan. Sekarang, banyak orang, terutama kalangan muda, merasa "belum hidup" kalau belum minum kopi di hari itu. Ini bukanlah kebetulan. Di dalam tubuh, kafein terserap ke aliran darah lalu menahan sinyal kantuk. Begitu efek tersebut hilang, tubuh justru mencari cara agar kembali merasa "normal" dan tidak mengantuk. Lama-kelamaan, otak menjadi terbiasa dan mulai menganggap kafein sebagai bagian dari kebutuhan, bukan lagi pilihan. Belum lagi kopi kini identik dengan gaya hidup, tempat belajar alternatif, ruang diskusi, bahkan tempat memamerkan kebiasaan di media sosial. Ditambah harga kopi kekinian yang relatif lebih murah dan makin terjangkau, serta variannya yang mudah mengikuti arus zaman, wajar jika frekuensi minum kopi terus naik tanpa disadari.

Kondisi "Protes" dalam Tubuh Sesekali minum kopi memang tidak masalah. Namun, ketika kopi menjadi kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang, beberapa organ tubuh bisa mulai menanggung dampaknya. Jantung dan pembuluh darah: Kafein mampu memicu peningkatan detak jantung dan tekanan darah untuk sementara. Pada orang yang sensitif atau memiliki riwayat gangguan jantung, konsumsi berlebihan bisa memperberat kerja jantung. Lambung: Kopi bersifat asam dan dapat merangsang produksi asam lambung secara berlebihan. Bagi yang sering minum kopi dalam kondisi perut kosong, risiko kenaikan asam lambung atau gejala yang mirip maag akan makin sering muncul. Ginjal: Kafein memiliki efek diuretik yang membuat tubuh lebih banyak mengeluarkan cairan. Apabila tidak diimbangi dengan asupan air putih yang cukup, ginjal bisa bekerja lebih keras dan tubuh berisiko mengalami dehidrasi ringan tanpa disadari. Sistem saraf dan kualitas tidur: Efek kafein bisa bertahan hingga berjam-jam dalam tubuh. Kopi malam yang diminum demi mengejar tenggat sering berakhir dengan jam tidur yang berantakan, dan pada akhirnya justru menurunkan konsentrasi pada keesokan harinya.

Ngopi Boleh, Asal Tahu Batasan Bukan berarti kopi harus dijauhi atau tidak boleh diminum sama sekali. Inilah beberapa cara sederhana agar kita tetap menikmati kopi tanpa membebani tubuh: 1. Batasi konsumsi kopi agar tidak berlebihan. 2. Hindari minum kopi saat perut benar-benar kosong. 3. Beri jarak minimal enam jam sebelum tidur. 4. Imbangi kopi dengan air putih yang cukup setiap hari. 5. Coba alternatif minuman berkafein lain yang lebih sehat.

Pada akhirnya, kopi bukanlah musuh. Kopi hanya bisa menjadi berbahaya apabila dijadikan solusi instan untuk mengatasi kantuk, stres, atau tekanan tugas yang sebenarnya butuh istirahat yang sungguh-sungguh. Jadi, sebelum menyeduh atau memesan kopi berikutnya, mungkin ada baiknya kita berpikir sejenak:

"Apakah kita benar-benar butuh kopi, atau sebenarnya kita hanya butuh tidur untuk menghilangkan lelah?"