Konten dari Pengguna

“Gerakan BASMI” di Desa Grajegan: Solusi Alami Usir Nyamuk Instan

Hanifa Ayustin

Hanifa Ayustin

Mahasiswa Antropologi Sosial - Universitas Diponegoro

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanifa Ayustin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Hanifa Ayustin - KKN TIM 1 UNDIP 2025

GRAJEGAN, 26 Januari 2025 – Sebagai bagian dari rangkaian program KKN TIM 1 UNDIP 2025, saya, Hanifa Ayustin, mahasiswa Antropologi Sosial Universitas Diponegoro (UNDIP), menginisiasi kegiatan “Gerakan BASMI: Bahan Alami Usir Nyamuk Instan”. Kegiatan ini diselenggarakan pada 26 Januari 2025 di Balai Desa Grajegan, dengan dihadiri oleh masyarakat setempat yang antusias menyimak materi dan demonstrasi yang saya sampaikan.

Desa Grajegan memiliki potensi pertanian yang unggul, dengan sawah yang mengelilingi hampir seluruh wilayahnya. Namun, kondisi ini juga membawa tantangan tersendiri, terutama saat musim hujan di bulan November hingga Februari, di mana kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) cenderung meningkat akibat banyaknya genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Berangkat dari pemahaman saya dalam mata kuliah Antropologi Lingkungan, saya teringat konsep ekobotani, yaitu bagaimana manusia dapat memanfaatkan tanaman di sekitarnya secara tradisional. Saya ingin membuktikan bahwa pendekatan ekobotani bisa menjadi solusi praktis dalam menghadapi masalah kesehatan di lingkungan desa.

Dari situlah saya terinspirasi untuk menciptakan pengusir nyamuk berbahan alami menggunakan serai dan kulit jeruk, yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Pemilihan bahan ini bukan tanpa alasan.

🌿 Serai dipilih karena bisa ditanam sendiri dengan mudah di pekarangan rumah, sehingga masyarakat tidak perlu membeli bahan tambahan. Selain itu, serai mengandung minyak citronella, yang aromanya menyengat dan mengganggu penciuman nyamuk. Minyak citronella juga dapat menutupi bau karbon dioksida dan asam laktat yang dikeluarkan tubuh manusia, yang biasanya menjadi cara nyamuk mendeteksi keberadaan manusia.

🍊 Kulit jeruk dipilih karena merupakan limbah rumah tangga yang sering terbuang begitu saja, padahal memiliki manfaat besar. Kulit jeruk mengandung limonene, senyawa kimia yang beracun bagi nyamuk, serta minyak esensial dengan aroma yang tidak disukai oleh serangga. Dengan memanfaatkan limbah ini, masyarakat bisa mengurangi sampah organik sekaligus mendapatkan solusi alami untuk mengusir nyamuk.

Dalam kegiatan ini, saya secara langsung mendemonstrasikan cara membuat pengusir nyamuk sederhana dari bahan-bahan alami tersebut. Prosesnya mudah, murah, dan bisa dibuat sendiri di rumah. Warga yang hadir pun terlihat antusias, menyimak dengan saksama setiap langkah pembuatan dan manfaat dari bahan-bahan yang digunakan.

Acara ini berjalan dengan lancar, dan antusiasme warga semakin terlihat dalam sesi tanya jawab. Banyak peserta yang penasaran dengan efektivitas dan cara penggunaan pengusir nyamuk alami ini, serta bagaimana mereka bisa membuatnya sendiri untuk digunakan sehari-hari.

Dengan adanya Gerakan BASMI, saya berharap masyarakat Desa Grajegan bisa memiliki alternatif alami dalam mengatasi nyamuk penyebab DBD, sekaligus memanfaatkan sumber daya alam yang sudah tersedia di sekitar mereka. Pendekatan ekobotani ini bukan hanya solusi kesehatan, tetapi juga bentuk kearifan lokal yang dapat terus dikembangkan untuk keberlangsungan hidup yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari KKN TIM 1 UNDIP 2025, saya senang bisa berkontribusi dalam memberikan solusi berbasis antropologi yang bermanfaat bagi masyarakat. Saya berharap program ini tidak hanya berdampak selama masa KKN, tetapi juga dapat diterapkan dalam jangka panjang untuk mengurangi risiko penyakit akibat nyamuk di Desa Grajegan.