Konten dari Pengguna

Flexing dan Ketimpangan Sosial: Ketika Pamer Bukan Sekadar Gaya Hidup

Hanifa Shaliha

Hanifa Shaliha

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanifa Shaliha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seorang anak duduk sendiri sambil memandangi ponsel, menggambarkan tekanan sosial di era digital. Foto: Gaelle Marcel/Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang anak duduk sendiri sambil memandangi ponsel, menggambarkan tekanan sosial di era digital. Foto: Gaelle Marcel/Unsplash

Fenomena "flexing" atau pamer kekayaan di media sosial telah menjadi tren yang semakin mengakar dalam kehidupan digital masyarakat Indonesia, terutama di kalangan anak muda. Video memperlihatkan mobil mewah, saldo ATM fantastis, hingga liburan ke luar negeri bukan lagi hal asing di linimasa. Namun, di balik tampilan gemerlap itu, ada pertanyaan penting yang perlu diajukan: apakah budaya pamer ini sekadar hiburan, atau justru menjadi refleksi dari persoalan sosial yang lebih dalam?

Flexing, dalam konteks sosiologis, dapat dipahami sebagai ekspresi status sosial. Dalam masyarakat yang semakin terhubung lewat dunia digital, citra menjadi mata uang yang sangat berharga. Media sosial memungkinkan siapa pun membentuk persona ideal, dan kekayaan baik nyata maupun dibuat-buat menjadi simbol dominan dari keberhasilan. Ironisnya, di tengah masih tingginya angka kemiskinan dan ketimpangan ekonomi di Indonesia, budaya flexing ini justru semakin menjamur.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), rasio gini Indonesia per Maret 2023 berada di angka 0,388, menunjukkan masih lebarnya ketimpangan pendapatan antara si kaya dan si miskin (BPS, 2023). Bahkan menurut laporan Oxfam (2022), 4 orang terkaya di Indonesia memiliki kekayaan yang setara dengan 100 juta penduduk termiskin. Di sinilah letak masalahnya: ketika sebagian masyarakat berjuang memenuhi kebutuhan dasar, sebagian lainnya justru menjadikan kemewahan sebagai konten konsumsi publik. Fenomena ini bukan hanya menciptakan jurang psikologis dan sosial, tapi juga menormalisasi standar kesuksesan yang sempit dan semu.

Flexing tidak bisa hanya dilihat sebagai pilihan pribadi. Ia adalah hasil bentukan budaya yang lebih besar—budaya konsumerisme dan pencitraan. Dalam teori sosiologi, terutama perspektif simbolik interaksionisme dari George Herbert Mead dan Erving Goffman, tindakan sosial seperti memamerkan kekayaan adalah bentuk komunikasi simbolik: menunjukkan siapa kita, di mana posisi kita, dan apa yang ingin kita capai secara sosial. Ini menjelaskan mengapa banyak anak muda merasa perlu tampil wah meskipun dengan cara berutang atau memalsukan citra.

Ilustrasi pengguna membuka Instagram di ponsel, memperlihatkan bagaimana media sosial menjadi pusat representasi identitas. Foto: Erik Lucatero/Pixabay

Dampak jangka panjangnya tidak sederhana. Budaya flexing dapat menurunkan empati sosial, memicu kecemasan kolektif, bahkan memperburuk krisis kepercayaan diri generasi muda. Banyak anak muda yang merasa gagal hanya karena tidak bisa tampil seperti influencer yang mereka lihat setiap hari. Penelitian oleh American Psychological Association (APA, 2021) menunjukkan bahwa paparan konten kemewahan secara terus-menerus berhubungan dengan meningkatnya tingkat stres dan perasaan tidak cukup baik di kalangan remaja.

Solusinya bukan dengan melarang media sosial atau menyalahkan pengguna semata. Yang diperlukan adalah literasi sosial dan finansial yang lebih kuat serta kemampuan untuk menyadari bahwa apa yang ditampilkan di media sosial tidak selalu mencerminkan realitas. Pendidikan yang menekankan nilai kesederhanaan, empati, dan pencapaian jangka panjang harus menjadi bagian dari kurikulum dan kampanye publik. Program semacam "Digital Wellbeing" oleh Kominfo, yang saat ini masih dalam tahap penguatan, bisa menjadi wadah pengembangan literasi digital yang lebih kritis.

Di sisi lain, penting juga bagi para content creator, influencer, dan publik figur untuk lebih sadar akan dampak dari konten mereka. Mempromosikan gaya hidup autentik, perjuangan nyata, dan keberhasilan yang dicapai dengan cara yang etis bisa menjadi arus tandingan yang membangun.

Pada akhirnya, flexing akan selalu ada selama media sosial menjadi panggung identitas. Namun, sebagai masyarakat, kita punya tanggung jawab untuk membentuk budaya yang lebih sehat: yang merayakan keaslian, bukan sekadar kemewahan; yang mendorong semangat berbagi, bukan berlomba-lomba dalam pamer diri.

Perubahan budaya digital yang lebih sehat bisa dimulai dari lingkungan kecil seperti kampus, komunitas, bahkan dari tulisan seperti ini. Kesadaran sosial tidak harus menunggu kita jadi tokoh publik. Cukup dengan memilih untuk lebih jujur, lebih empati, dan lebih kritis terhadap budaya yang kita konsumsi setiap hari.

Kita tidak bisa memaksa semua orang untuk berhenti flexing, tapi kita bisa memilih untuk tidak menjadikan kemewahan sebagai tolak ukur nilai manusia. Kita bisa memilih untuk lebih menghargai proses daripada pencitraan, kerja keras daripada hasil instan, dan substansi daripada tampilan luar. Karena pada akhirnya, makna hidup yang sesungguhnya tidak pernah ditentukan oleh seberapa sering kita dilihat, tetapi oleh seberapa dalam kita hidup dengan kesadaran dan kebermanfaatan.