WABAH DAN BERAKHIRNYA KEPAKARAN
Tulisan dari hanifacep tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : Hanif Acep Nur Adhi
Wabah datang di saat yang tepat. Era informasi sedang di puncak kejayaannya. Inovasi dan perusahaan start up bermunculan. Artificial intelellegence menjadi solusi kehidupan. Smartphone hampir menjadi sarana komunikasi setiap orang. Hanya sedikit orang yang masih menggunakan teknologi analog dan serba manual. Teknologi beralih digital. Perlombaan go online. Semua yang tak terhubung dunia digital dianggap ketinggalan jaman.
Budaya manusia berubah. Istilah disruption masuk ke semua lini kehidupan. Cara orang bekerja, belajar hingga bermain berubah. Bisnis lama siap-siap gulung tikar dilibas perubahan. Perusahaan Air BnB mengalahkan dominasi perhotelan yang sudah eksis puluhan tahun. Taksi dan ojek online mengalahkan perusahaan taksi konvensional. Bahkan sekolah online tumbuh menjamur di era wabah. Aplikasi Zoom jadi primadona pengganti belajar online.
Tetapi ada fenomena anomali. Saat informasi berlimpah. Semua orang mudah mengakses informasi. Justru di saat yang sama informasi hoax lebih dipercaya dibandingkan informasi valid. Kepakaran dipertanyakan. Di saat yang sama anonimitas dipercaya. Siapa pun bisa bicara apapun. Yang penting retorika menarik. Teknik audio visual menarik. Validitas dan kredibilitas informasi jadi pertimbangan ke sekian. Era yang sering disebut "the end of expertise". Berakhirnya kepakaran. Seorang epidemiolog yang memiliki gelar akademis. Pengalaman kerja dan reputasi internasional justru tidak mendapatkan panggung selayaknya di saat wabah terjadi. Justru para artis TV yang dengan sigap menjadi artis youtuber, ratingnya tinggi. Narasumber yang diambil juga bukan pakar di bidangnya. Tetapi justru lebih dipercaya publik.
Ada fenomena distrust. Krisis kepercayaan kepada otoritas. Di saat yang sama muncul "pahlawan kesiangan" yang bisa mencuri panggung public. Hingga muncul meme,"Inilah jaman di mana pendidikan dirusak oleh guru, kesehatan dirusak oleh dokter, hokum dirusak oleh hakim." Padahal percaya otoritas adalah bentuk sikap ilmiah. Bahwa ada oknum yang menjadi pagar makan tanaman, tidak bisa digebyah uyah. Tidak bisa siapapun bicara apapun. Tanpa kepakaran. Tanpa kapabilitas. Tanpa legitimasi professional. Tanpa seleksi ketat reviewer kritikus di bidangnya.
Ada kritik sanad dan matan kalau dalam studi hadits. Laulal isnad laqola man sya-a ma sya-a. Seandainya tanpa sanad, siapa pun akan bicara apa pun semaunya.
Tiba-tiba muncul klaim instan. Ada kalung anti corona. Ada jamu probiotik obat corona. Ada empon-empon obat corona. Tanpa riset. Tanpa uji klinis. Yang berlaku murni hukum pasar. Ada permintaan ada penawaran. Karena penawaran yang lolos uji klinis belum ada. Akhirnya muncul pasar illegal bawah tangan obat corona. Yang dipasarkan diam-diam. Dengan dalih membahayakan elit global. Entah elit global siapa yang dimaksud. Itu bagi publik tidak penting. Yang penting rasionalisasi pemasaran bisa masuk. Membangun kebutuhan. Membangun kepercayaan. Memberi solusi. Dan closing penjualan tercapai.
Di tengah histeria teori konspirasi wabah corona dengan berbagai varian bumbu penyedapnya. Korban terus berjatuhan. Jumlah korban meninggal seluruh dunia sudah melebihi setengah juta manusia. Dan elit global yang dituduh belum juga tampil atau terungkap. Saat paramedis berjibaku menyelamatkan pasien termasuk dirinya dari wabah. Publik kian meragukan keberadaan wabah beserta bahayanya. Wabah ini dianggap seperti flu biasa. Yang akan selalu ada. Dan bisa sembuh sendiri. Sehingga dianggap suatu kebodohan menegakkan protokol kesehatan.
Penolakan memakai masker, jaga jarak dan mencuci tangan bukan karena kedisiplinan semata. Tetapi lebih kepada penolakan kepada otoritas dan kepakaran. Penjelasan medis yang rasional harus adu viral dengan analisa teori konspirasi yang absurd. Inkonsistensi kebijakan turut menyumbang simpang siur kejelasan informasi. Virus yang tak tampak mata menjadi barang ghaib yang absurd. Jika tak kelihatan maka dianggap tak ada. Ketidakpastian membuka celah asumsi. Sesuatu yang menggiurkan untuk ditunggangi aneka kepentingan.
Budaya literasi di era informasi bukan lagi sekedar melek aksara. Tapi kemampuan learning, unlearning dan relearning. Kelincahan (agile) berselancar di era informasi masih membutuhkan kemampuan memilah informasi. Menganalisis. Membuat hipotesis. Tidak terjebak kepada jump to conclusion adalah keterampilan wajib manusia abad ini. Jika tidak, akan tenggelam dalam banjir informasi. Celaka dan mencelakakan orang lain. Sesat dan menyesatkan.
Data berlimpah menjadi tidak bermakna jika kita tak memiliki sistem pengolah informasi yang efektif dan efisien. Wabah dan era berakhirnya kepakaran membuktikan bahwa "meskipun kecerdasan buatan berlimpah, kita masih membutuhkan kecerdasan alami."
*)Kolumnis dan anggota Corps Dai Dompet Dhuafa