Konten dari Pengguna

17 Agustus ke-81: Saat Muda-Mudi Bersatu, Berdaya, dan Berkarya

Bersatu, Berdaya, dan Berkarya di HUT RI ke-81. Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Bersatu, Berdaya, dan Berkarya di HUT RI ke-81. Dok. Istimewa

Setiap 17 Agustus, suasana di sekitar rumah biasanya mulai berubah. Jalanan mulai dihiasi merah putih, bendera dipasang di depan rumah, dan mulai terdengar obrolan tentang kegiatan yang akan dibuat untuk merayakan Hari Kemerdekaan.

Tahun ini juga tidak jauh berbeda. Muda-mudi di lingkungan rumah mulai ikut mempersiapkan berbagai kegiatan untuk menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Ada yang membantu menyiapkan perlengkapan, mengurus perlombaan, menghias lingkungan, dan ada juga yang ikut meramaikan kegiatan.

Kalau cuma dilihat sekilas, mungkin kegiatan seperti ini terlihat sederhana. Tapi sebenarnya ada banyak hal yang terjadi sebelum acara dimulai. Orang-orang yang biasanya sibuk dengan kegiatan masing-masing akhirnya punya alasan untuk berkumpul dan mengerjakan sesuatu bersama.

Menurutku, justru suasana seperti ini yang membuat perayaan 17 Agustus terasa berbeda. Bukan hanya karena ada lomba atau hadiah, tetapi karena orang-orang bisa kembali berkumpul dengan lingkungan sekitarnya.

Bersatu Bukan Berarti Harus Selalu Sama

Sebuah kegiatan tentu tidak akan berjalan kalau hanya dilakukan oleh satu atau dua orang. Ada banyak hal yang harus dikerjakan dan setiap orang biasanya punya bagian masing-masing.

Ada yang lebih suka mengurus bagian acara, ada yang punya ide untuk dekorasi, ada yang membantu menyiapkan perlengkapan, dan ada juga yang lebih banyak turun ketika kegiatan sudah berlangsung.

Pertemuan pertama muda-mudi untuk mulai mempersiapkan kegiatan HUT RI ke-81. Dok. Istimewa

Dari situ, kata “bersatu” menurutku bukan berarti semua orang harus melakukan hal yang sama. Justru perbedaan kemampuan itu yang membuat sebuah kegiatan bisa berjalan.

Kadang kita juga baru sadar kalau ternyata orang-orang di sekitar rumah punya kemampuan yang berbeda-beda setelah ikut terlibat dalam kegiatan seperti ini. Yang awalnya cuma saling sapa ketika bertemu, akhirnya bisa lebih sering ngobrol dan bekerja sama.

Hal sederhana seperti membagi tugas, berdiskusi, dan saling membantu ternyata sudah menjadi bentuk kebersamaan.

Berdaya Dimulai dari Mau Ikut Terlibat

Menjadi anak muda bukan berarti harus selalu melakukan sesuatu yang besar. Kadang, mau ikut membantu kegiatan di lingkungan sendiri saja sudah menjadi bentuk kontribusi.

Muda-mudi berdiskusi dan mempersiapkan kegiatan bersama. Dok. Istimewa

Dari kegiatan 17 Agustus, muda-mudi bisa belajar banyak hal. Mulai dari bagaimana mengatur acara, berkomunikasi dengan orang lain, menyampaikan pendapat, sampai menghadapi masalah ketika ada sesuatu yang tidak sesuai rencana.

Mungkin pengalaman tersebut terlihat kecil. Tapi justru dari hal-hal kecil seperti ini seseorang bisa belajar bertanggung jawab terhadap sesuatu yang sudah dipercayakan kepadanya.

Menurutku, berdaya itu ketika kita tidak hanya melihat orang lain bekerja, tetapi mau ikut turun tangan sesuai kemampuan yang kita punya.

Tidak harus menjadi orang yang paling aktif. Setiap bantuan, sekecil apa pun, tetap bisa memberikan pengaruh terhadap kegiatan yang sedang dilakukan bersama.

Berkarya Nggak Harus Selalu Sesuatu yang Besar

Kata “berkarya” kadang membuat kita berpikir bahwa sesuatu harus dibuat luar biasa supaya bisa disebut karya. Padahal, menurutku nggak selalu begitu.

Ketika ada yang punya ide untuk membuat perlombaan, menghias lingkungan, membuat dekorasi, mengatur konsep acara, atau bahkan membantu mendokumentasikan kegiatan, semuanya bisa menjadi bagian dari sebuah karya.

Hasilnya mungkin tidak selalu sempurna. Ada saja kekurangan selama prosesnya. Tapi justru di situlah serunya. Kita membuat sesuatu bersama dengan kemampuan yang ada.

Apalagi kalau kegiatan tersebut bisa membuat orang lain ikut senang dan lingkungan menjadi lebih hidup. Rasanya sudah cukup untuk disebut sebagai sebuah karya.

Panitia memanggil peserta yang sudah terdaftar untuk bersiap mengikuti perlombaan. Dok. Istimewa

17 Agustus Bukan Cuma Soal Lomba

Kalau bicara soal 17 Agustus, lomba memang menjadi salah satu hal yang paling ditunggu. Anak-anak biasanya sudah sibuk memilih lomba yang ingin diikuti, sementara orang dewasa dan muda-mudi ikut membantu supaya semuanya berjalan.

Ada yang serius ingin menang, ada yang ikut hanya untuk seru-seruan, dan ada juga yang awalnya cuma menemani teman tetapi akhirnya ikut lomba.

Tapi kalau diperhatikan lagi, yang menarik dari kegiatan seperti ini sebenarnya bukan hanya soal siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Orang-orang yang sehari-hari jarang berkumpul akhirnya bisa duduk bersama. Anak-anak bermain, orang tua mengobrol, dan muda-mudi sibuk mengurus kegiatan. Suasananya menjadi lebih ramai dibandingkan hari-hari biasa.

Salah satu momen kebersamaan panitia dalam mempersiapkan perayaan 17 Agustus. Dok. Istimewa

Mungkin itu salah satu alasan kenapa perayaan 17 Agustus selalu punya kesan tersendiri.

Dari Lingkungan Rumah, Kita Bisa Belajar Mengisi Kemerdekaan

Kemerdekaan yang kita rasakan sekarang tentu tidak datang begitu saja. Ada perjuangan panjang yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kita.

Sebagai generasi muda, bentuk perjuangannya memang sudah berbeda. Kita tidak perlu mengangkat senjata seperti para pahlawan dulu. Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengisi kemerdekaan, termasuk berkontribusi di lingkungan sendiri.

Ikut kegiatan warga mungkin terlihat sederhana kalau dibandingkan dengan hal-hal besar yang terjadi di luar sana. Tapi dari lingkungan kecil seperti inilah kita bisa belajar untuk peduli, bekerja sama, dan menggunakan kemampuan yang kita punya.

Tidak harus menunggu punya jabatan atau melakukan sesuatu yang besar. Selama ada kemauan untuk ikut membantu dan memberikan sesuatu yang positif, menurutku itu sudah menjadi salah satu cara untuk menghargai kemerdekaan.

Bersatu, Berdaya, dan Berkarya Jangan Berhenti di Bulan Agustus

Perayaan 17 Agustus memang hanya berlangsung dalam waktu tertentu. Setelah lomba selesai, dekorasi akan dilepas dan warga kembali menjalani kesibukan masing-masing.

Tapi semangat yang muncul selama kegiatan seharusnya tidak ikut hilang setelah bulan Agustus selesai.

Bersatu bisa dilakukan dengan tetap menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitar. Berdaya bisa dimulai dengan mau mengambil peran ketika lingkungan membutuhkan bantuan. Sementara berkarya bisa dilakukan dengan menggunakan kemampuan yang kita punya untuk membuat sesuatu yang bermanfaat.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak selalu bisa melakukan sesuatu yang besar untuk Indonesia. Tapi kita bisa mulai dari tempat yang paling dekat dengan kita.

Dari lingkungan rumah, dari orang-orang yang setiap hari kita temui, dan dari hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan bersama.

Kebersamaan muda-mudi setelah mengikuti rangkaian kegiatan 17 Agustus. Dok. Istimewa

Karena merayakan kemerdekaan bukan cuma tentang memasang bendera atau mengikuti lomba. Ada kebersamaan yang perlu dijaga, ada kemampuan yang bisa digunakan, dan ada karya yang bisa dibuat bersama.