Konten dari Pengguna

Gen Z dan "Healing" : Kenapa Liburan Sekarang Dianggap Kebutuhan?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanifah Aulia A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau mendengar kata “healing”, hal pertama yang terlintas di pikiran mungkin jalan-jalan, pergi ke tempat yang bagus, makan enak, atau sekadar keluar dari rumah untuk beberapa waktu.

Sekarang kata healing juga sudah sering banget dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Lagi capek kuliah, healing. Lagi banyak pikiran, healing. Setelah melewati minggu yang penuh tugas, rasanya ingin pergi sebentar dan menjauh dari rutinitas.

Aku sendiri pernah merasa seperti itu.

Bukan karena sedang mengalami masalah besar. Kadang hanya karena merasa bosan dengan rutinitas yang terus berulang. Bangun, kuliah, mengerjakan tugas, mengurus berbagai hal, lalu tidur. Besoknya melakukan hal yang hampir sama lagi.

Sampai akhirnya aku punya kesempatan untuk naik gunung.

Naik Gunung Ternyata Bukan Cuma Soal Sampai Puncak

Kalau dipikir-pikir, naik gunung sebenarnya bukan bentuk healing yang paling santai.

Kita harus berjalan cukup jauh, membawa barang, menghadapi rasa capek, dan terkadang harus menahan pegal di badan. Tapi justru di situ aku merasa ada sesuatu yang berbeda.

Selama perjalanan, pikiranku terasa lebih sederhana.

Yang dipikirkan cuma jalan, istirahat kalau capek, minum, melihat sekitar, lalu melanjutkan perjalanan. Untuk beberapa waktu, aku nggak terlalu memikirkan tugas, rutinitas, atau hal-hal yang biasanya memenuhi kepala.

Apalagi ketika sudah sampai di tempat yang pemandangannya berbeda dari apa yang biasa dilihat sehari-hari.

Rasanya seperti mendapat kesempatan untuk berhenti sebentar.

Bukan berarti semua masalah langsung hilang setelah naik gunung. Setelah pulang pun kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Tugas tetap ada, kegiatan tetap menunggu, dan rutinitas kembali lagi.

Tapi setidaknya, aku merasa punya waktu untuk mengambil napas sebelum kembali menjalani semuanya.

Sumber foto: Dokumentasi pribadi. Gunung bukan hanya tentang destinasi, tetapi juga tentang menikmati perjalanan dan ketenangan.

Ternyata Liburan Memang Ada Kaitannya dengan Kesejahteraan

Awalnya aku mengira perasaan lebih tenang setelah pergi hanya karena sedang senang-senangnya menikmati perjalanan. Ternyata, ada penelitian yang memang membahas hubungan antara liburan dan kesejahteraan.

Pada 2025, Ryan S. Grant, Beth E. Buchanan, dan Kristen M. Shockley menerbitkan penelitian berjudul I Need a Vacation: A Meta-Analysis of Vacation and Employee Well-Being dalam Journal of Applied Psychology.

Penelitian tersebut merupakan meta-analisis yang melihat berbagai penelitian mengenai hubungan liburan dengan kesejahteraan. Hasilnya menunjukkan bahwa liburan memiliki hubungan positif dengan kesejahteraan. Penelitian tersebut juga melihat bahwa pengalaman seperti bisa melepaskan diri secara psikologis dari pekerjaan dan melakukan aktivitas fisik selama liburan dapat berkaitan dengan manfaat terhadap kesejahteraan.

Jadi, mungkin rasa “lebih ringan” yang dirasakan setelah berlibur bukan sekadar karena kita mendapatkan tempat baru untuk berfoto.

Ada proses pemulihan dari rutinitas yang sedang terjadi.

Tapi bukan berarti satu kali liburan bisa menyelesaikan semua masalah. Justru penelitian Grant dan rekan-rekannya melihat liburan sebagai salah satu kesempatan untuk membantu pemulihan kesejahteraan, bukan sebagai solusi untuk semua persoalan.

Ternyata perjalanan jadi lebih seru kalau dilewati bareng orang-orang yang tepat.

Liburan Bisa Membantu, Tapi Efeknya Nggak Selamanya

Hal menarik juga ditemukan dalam penelitian yang lebih dulu dilakukan oleh Jessica de Bloom, Michiel Kompier, Sabine Geurts, Carolina de Weerth, Toon Taris, dan Sabine Sonnentag.

Dalam penelitian berjudul Do We Recover from Vacation? Meta-analysis of Vacation Effects on Health and Well-being yang diterbitkan pada 2009, mereka meninjau tujuh penelitian mengenai efek liburan terhadap kesehatan dan kesejahteraan.

Hasil meta-analisis tersebut menunjukkan adanya efek positif liburan terhadap kesehatan dan kesejahteraan. Namun, efek tersebut cenderung berkurang setelah seseorang kembali menjalani aktivitas seperti biasanya.

Kalau dipikir-pikir, ini cukup masuk akal.

Kita mungkin merasa segar setelah liburan, tetapi setelah kembali kuliah atau bekerja, tugas dan rutinitas yang sama akan tetap menunggu.

Makanya menurutku, healing nggak seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang hanya dilakukan ketika sudah benar-benar merasa lelah.

Yang lebih penting justru bagaimana kita memberikan waktu istirahat secara seimbang di tengah rutinitas.

Healing Nggak Harus Pergi Jauh

Masalahnya, sekarang healing kadang terlihat seperti sesuatu yang harus mahal.

Melihat media sosial, kita bisa menemukan orang yang healing ke pantai, luar kota, hotel, tempat wisata, atau bahkan ke luar negeri.

Lama-lama muncul pikiran, “Kalau aku cuma di rumah, apa itu bisa disebut healing?”

Menurutku, bisa.

Healing nggak harus selalu naik pesawat atau menginap di tempat mahal.

Jalan-jalan sebentar, makan makanan yang disukai, menonton film, membaca buku, bertemu teman, atau sekadar tidur tanpa memikirkan tugas juga bisa menjadi cara untuk memberikan waktu istirahat.

Yang membuat seseorang merasa lebih baik belum tentu sama dengan orang lain.

Kalau aku merasa senang ketika naik gunung, orang lain mungkin justru merasa lebih tenang ketika menghabiskan waktu sendirian di kamar.

Nggak ada satu bentuk healing yang berlaku untuk semua orang.

Nggak cuma soal sampai puncak, tapi juga tentang menikmati setiap langkahnya.

Kenapa Alam Terasa Lebih Menenangkan?

Pengalaman naik gunung juga membuatku berpikir tentang satu hal: mungkin suasana tempat yang kita datangi memang ikut memengaruhi pengalaman ketika sedang beristirahat.

Hal ini juga pernah ditinjau oleh Sus Sola Corazon, Ulrik Sidenius, Dorthe Varning Poulsen, Marie Christoffersen Gramkow, dan Ulrika Karlsson Stigsdotter dalam penelitian Psycho-Physiological Stress Recovery in Outdoor Nature-Based Interventions: A Systematic Review of the Past Eight Years of Research yang diterbitkan pada 2019.

Mereka meninjau penelitian mengenai kegiatan berbasis alam dan pemulihan stres. Hasil tinjauan menunjukkan adanya bukti mengenai pengaruh positif lingkungan alam pada beberapa aspek emosional yang berkaitan dengan pemulihan stres, meskipun hasil pada aspek fisiologis tidak selalu sama.

Mungkin itu juga yang aku rasakan ketika berada di gunung.

Suasananya berbeda. Pemandangannya berbeda. Bahkan cara kita menggunakan waktu juga terasa berbeda.

Biasanya tangan sibuk memegang HP, tapi saat perjalanan naik gunung, perhatian lebih banyak tertuju pada langkah kaki dan keadaan sekitar.

Untuk beberapa saat, rasanya cukup menyenangkan untuk tidak terlalu memikirkan dunia yang ada di layar.

Sumber foto: Dokumentasi pribadi. Kadang, pergi sebentar dari rutinitas adalah cara sederhana untuk memberi waktu pada diri sendiri

Tapi Jangan Sampai Healing Malah Jadi Masalah Baru

Menurutku, ada satu hal yang sering terlupakan ketika membicarakan healing.

Jangan sampai karena ingin healing, kita malah memaksakan diri.

Misalnya pergi ke tempat yang sebenarnya belum mampu kita bayar hanya karena melihat orang lain melakukan hal yang sama di media sosial.

Setelah pulang memang senang, tapi beberapa hari kemudian malah stres memikirkan uang yang habis.

Kalau sudah begitu, tujuan awal untuk mencari ketenangan malah berubah menjadi masalah baru.

Karena itu, menurutku healing juga perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Nggak perlu memaksakan gaya liburan orang lain hanya supaya merasa hidup kita juga menyenangkan.

Mungkin yang Kita Butuhkan Sebenarnya Bukan Liburan

Setelah mengalami sendiri, membaca beberapa penelitian, dan melihat bagaimana kata healing digunakan sehari-hari, aku jadi berpikir bahwa mungkin yang sebenarnya kita butuhkan bukan selalu liburan.

Kita butuh jeda.

Kita butuh waktu untuk berhenti sebentar dari rutinitas yang terlalu padat.

Kita butuh kesempatan untuk melakukan sesuatu tanpa merasa harus terus produktif.

Dan bentuknya bisa berbeda-beda untuk setiap orang.

Buatku, salah satunya adalah naik gunung. Buat orang lain mungkin pergi makan, menonton film, bertemu teman, atau menghabiskan satu hari tanpa melakukan banyak hal.

Jadi ketika sekarang banyak anak muda mengatakan sedang butuh healing, menurutku nggak selalu berarti mereka ingin lari dari masalah.

Bisa saja mereka hanya sedang mencari waktu untuk mengisi tenaga sebelum kembali menghadapi rutinitas.

Karena hidup memang akan terus berjalan.

Tugas tetap akan datang. Kuliah tetap harus dijalani. Pekerjaan tetap menunggu.

Tapi sesekali mengambil waktu untuk berhenti dan menikmati hidup juga bukan sesuatu yang salah.

Mungkin kita memang nggak perlu terus berjalan tanpa berhenti.

Kadang, pergi sebentar justru membuat kita siap untuk kembali.

Sumber foto: Dokumentasi pribadi. Perjalanan yang capek, tapi justru bikin pikiran terasa lebih ringan.