Konten dari Pengguna

Bagaimana Perkembangan Kesusastraan Indonesia di Era Milenial?

Hanifah Izzati

Hanifah Izzati

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanifah Izzati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 gambar kolaborasi antara sastra dan media digital.
zoom-in-whitePerbesar
gambar kolaborasi antara sastra dan media digital.

Sastra adalah suatu karya yang mengisahkan atau menggambarkan kehidupan masyarakat pada masanya. Sastra biasanya juga disebut dengan cermin, yang mengartikan bahwa yang ditulis dalam sastra merupakan cerminan dari kehidupan nyata.

Awalnya sastra digunakan untuk menuliskan sejarah atau kondisi masyarakat di masa itu, dimana di dalamnya terkait kata, kalimat, serta tulisan-tulisan yang dikenal dengan karya sastra. Seiring berjalannya waktu sastra terus berkembang bukan hanya sebagai catatan sejarah. Namun, karakteristik sastra diberi imajinasi demi meraih nilai keindahan dalam karya sastra. Bahkan, adapula karya sastra yang bersifat fiksi atau khayalan yang dimana tokoh, latar cerita, sampai permasalahan dalam cerita bersifat realitas imajinatif, bukan objektif. Jadi, penilaian dalam karya sastra fiksi terdapat pada pesan (amanat) dan keindahan pemakaian bahasanya.

Keterkaitan sastra dengan bahasa sangatlah erat. Bahasa merupakan aspek utama yang dipakai dalam karya sastra. Dalam perkembangan karya sastra, kala itu sebelum diproklamirkan Sumpah Pemuda karya sastra masih menggunakan bahasa Melayu, seiring berjalannya waktu tepat pada 28 Oktober 1928 yang diperingati sebagai “Hari Sumpah Pemuda” karya sastra saat itu mulai menggunakan bahasa Indonesia.

Daftar Perkembangan sastra Indonesia, yaitu:

1. Angkatan Balai Pustaka, sekitar tahun 1920 nama angkatan balai Pustaka ini dicetuskan karena pengarang yang aktif memberikan karyanya untuk diterbitkan di Penerbit Balai Pustaka.

2. Pujangga baru, ada sejak tahun 1933. Nama Pujangga Baru ini dicetuskan dari tempat publikasi yaitu Majalah Pujangga Baru.

3. Periode tahun 45, di angkatan ini corak sastra baru muncul. Angkatan yang memakai bahasa Indonesia dalam suatu karya sastra yang diciptakan oleh sastrawan Indonesia.

4. Periode tahun 60, periode ini diantara 1960-1970an ditandai oleh terbitnya majalah sastra Horison yang dipimpin oleh Mochtar Lubis. Karya sastra pada tahun 60-an ini lebih beralitan surealistik arus kesadaran arketip dan absurd.

5. Periode reformasi, pada masa reformasi ini merupakan masa maraknya sastra yang berlatarkan politik. Karena, lingkungan masa itu sedang terjadinya pergolakan politik.

6. Periode tahun 2000, sastra pada periode ini terjadi kemarakkan pada dunia digital (cyber sastra). Cyber sastra merupakan bukti bahwasannya sastra pun berkaitan dengan dunia teknologi.

Berbicara tentang zaman milenial sama saja dengan berbicara tentang teknologi, kecanggihan IPTEK yang sangat pesat sehingga membuat segalanya dikaitkan dengan teknologi. Begitu pula dengan sastra, sastra yang memiliki keterkaitan dengan teknologi biasa disebut dengan cyber sastra.

Bagaimana perkembangan sastra di era milenial?

Sastra sangat berkembang pesat di era milenial, adanya teknologi menjadikan sastra mudah di akses oleh siapapun dan dimanapun. Cyber sastra adalah sebutan untuk sastra di media internet. Bukan lagi dalam versi kertas cetak, namun sudah berdalih dalam media yang memiliki jaringan internet. Banyak keuntungan dan kerugian yang di dapatkan dari cyber sastra ini. Keuntungannya, yaitu:

1. Membuka peluang dan pengalaman untuk sastrawan pemula, dalam hal ini para sastrawan pemula tidak sulit untuk menerbitkan suatu karya. Karyanya tidak harus di terbitkan di media cetak yang bersangkutan dengan perusahaan penerbit. Sastrawan pemula hanya perlu menerbitkan karyanya di wadah digital yang bisa berinteraksi langsung dengan para penikmat karya. Dan sastrawan pemula ini bisa menilai karyanya melalui saran dan kritik dari para penikmat sastra.

2. Mudah mengakses karya sastra untuk para pecinta sastra, keuntungan dari cyber sastra salah satunya adalah tidak perlu bermodalkan besar untuk menikmati suatu karya sastra. Hanya dengan bermodalkan internet kita bisa menikmati karya sastra yang kita inginkan.

Adapun kerugian dari cyber sastra, yaitu:

1. Nilai keestetikan pada sastra menurun, banyaknya wadah digital yang menyediakan fasilitas untuk siapapun yang ingin menulis tanpa adanya penyaringan dari tulisan tersebut, menjadikan nilai pada sastra itu menurun. Banyaknya penulis belum tentu menghasilkan karya sastra yang berbobot sehingga orang-orang menilai bahwa karya sastra hanyalah hiburan semata, namun pada hakikat sebenarnya sastra itu indah.

2. Sulit mendeteksi sastrawan yang sesungguhnya, dalam dunia sastra. Sastra memiliki 4 (empat) pendekatan. Pendekatan tersebut ialah pendekatan objektif, pendekatan mimetik, pendekatan ekspresif, dan pendekatan pragmatik. Dari keempat pendekatan tersebut bisa dikatakan bahwa pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang pengarang tersebut berperan penting pada karya sastranya. Namun, sangking banyaknya orang yang mengikutsertakan dirinya dalam media kepenulisan dan tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni. Dalam hal ini menyulitkan untuk mengetahui siapakah sastrawan sesungguhnya.

Adanya dampak baik atau buruk sudah menjadi suatu hal yang ada pada setiap periode sejarah sastra, begitu pula di era milenial atau periode 2000-an. Yang dimana teknologi ikut berperan serta dalam perkembangan sastra ini dan juga membawa dampak perubahan yang signifikan dalam dunia sastra.