Konten dari Pengguna

Kami Bayar, Tapi Tak Paham: Saat Gen Z Bingung di Tengah Sistem Pajak

Hanifah Nida Utami

Hanifah Nida Utami

Mahasiswa Aktif Program Studi Akuntansi Perpajakan di Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanifah Nida Utami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai bagian dari generasi Z yang tumbuh dengan internet di genggaman, aku dan banyak teman seusiaku sering merasa bahwa pajak itu seperti “ujian tanpa kisi-kisi.” Kami tahu itu penting. Kami tahu itu wajib. Tapi kami juga bingung apa sebenarnya yang kami bayar, dan ke mana perginya?

Source : Generated AI Illustration
zoom-in-whitePerbesar
Source : Generated AI Illustration

Kalimat “kami bayar, tapi tak paham” bukan sekadar ungkapan frustrasi, melainkan realita yang sering kami alami. Menurut survei yang dilakukan oleh Katadata Insight Center pada tahun 2023, hanya sekitar 30% generasi muda berusia 18-25 tahun yang merasa paham dengan sistem perpajakan di Indonesia. Mulai dari pelajaran di sekolah yang minim membahas soal pajak, hingga sistem perpajakan yang terasa kompleks dan sulit dipahami, membuat kami seringkali merasa terasing dari proses ini. Bahkan ketika pemerintah mulai mengadopsi teknologi digital seperti Coretax untuk mempermudah administrasi pajak, survei Direktorat Jenderal Pajak tahun 2022 menunjukkan bahwa hanya 40% wajib pajak muda yang merasa nyaman menggunakan aplikasi pajak digital.

Padahal, pemahaman soal pajak sangat penting bagi kami, generasi muda yang mulai memasuki dunia kerja dan berpenghasilan. Pajak bukan hanya soal kewajiban, tapi juga tentang kontribusi nyata kami untuk membangun negara dari pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur. Namun tanpa edukasi yang memadai dan komunikasi yang jelas, kami sulit merasa terlibat dan termotivasi untuk patuh pajak. Data dari Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementerian Keuangan tahun 2023 mengungkapkan bahwa kurang dari 25% sekolah menengah memasukkan materi pajak secara komprehensif dalam kurikulum mereka. Kami butuh pendekatan yang lebih ramah dan mudah dipahami. Edukasi pajak yang tidak hanya formal dan kaku, tapi dikemas dengan bahasa sederhana dan relevan dengan gaya hidup kami. Misalnya, lewat media sosial, video pendek, atau aplikasi interaktif yang bisa menjelaskan pajak secara praktis dan menyenangkan. Kami ingin jadi generasi yang bukan cuma melek teknologi, tapi juga paham kontribusi. Bukan generasi yang cuek, tapi juga bukan yang dibikin bingung. Jadi, yuk mulai dari hal paling dasar: edukasi yang ramah, bahasa yang dekat, dan sistem yang tidak bikin takut duluan. Karena pajak bukan cuma tentang negara, tapi juga masa depan kami.