Konten dari Pengguna

Merdeka Belajar Belum Tentu Setara

Hanifah Suwandi

Hanifah Suwandi

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi di Universitas Negeri Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanifah Suwandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sekolah. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sekolah. Foto: Shutterstock

Kurikulum Merdeka sebagai Harapan Baru Pendidikan

Kurikulum Merdeka membawa harapan baru bagi dunia pendidikan Indonesia. Siswa diberikan ruang yang lebih luas untuk belajar sesuai minat dan kemampuannya, sementara guru memiliki kebebasan yang lebih besar dalam mengembangkan proses pembelajaran. Konsep ini dinilai mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dibandingkan sistem yang hanya berfokus pada nilai dan ujian.

Namun, kebebasan dalam belajar belum tentu berarti kesempatan yang sama bagi semua siswa. Di tengah berbagai perbedaan fasilitas, kualitas sekolah, dan akses pendidikan yang masih terjadi di Indonesia, muncul pertanyaan: Apakah manfaat Kurikulum Merdeka benar-benar bisa dirasakan secara merata oleh seluruh peserta didik?

Ketimpangan Akses Pendidikan

Meski kurikulum ini banyak hal positifnya, Merdeka Belajar tidak bisa dilepaskan dari persoalan lama yang masih dihadapi pendidikan Indonesia, yaitu ketimpangan akses pendidikan. Sampai hari ini, masih ada perbedaan yang cukup besar antara sekolah di kota besar dan sekolah di daerah terpencil.

Sebagian sekolah sudah memiliki fasilitas yang lengkap, mulai dari laboratorium, perpustakaan, akses internet yang stabil, hingga berbagai media pembelajaran digital. Namun di sisi lain, masih ada sekolah yang harus berjuang dengan keterbatasan ruang belajar, minim sarana pendidikan, bahkan kesulitan mendapatkan jaringan internet yang memadai terutama di wilayah 3T. Situasi seperti ini membuat kesempatan untuk memanfaatkan kebebasan belajar menjadi berbeda bagi setiap siswa.

Kurikulum dan Perubahan Sosial

Ilustrasi pendidikan di Indonesia. Foto: Dok. Kemendikdasmen

Menurut Sosiologi Kurikulum, kurikulum tidak hanya dipahami sebagai daftar mata pelajaran atau materi yang harus dipelajari siswa. Kurikulum juga lahir dari kebutuhan masyarakat. Karena ini lah perubahan dalam kurikulum biasanya berubah dengan menyesuaikan perubahan yang terjadi di lingkungan sosial, ekonomi, budaya, maupun perkembangan teknologi.

Hal yang sama juga bisa dilihat pada lahirnya Merdeka Belajar. Kebijakan ini hadir ketika dunia sedang berubah dengan sangat cepat. Saat ini, kemampuan menghafal saja tidak lagi cukup. Siswa juga dituntut untuk mampu berpikir kritis, bekerja sama, berkomunikasi, dan beradaptasi dengan berbagai perubahan.

Oleh karena itu, Merdeka Belajar mencoba memberikan ruang yang lebih luas agar siswa bisa mengembangkan kemampuan yang mereka butuhkan dalam kehidupan sehari-hari maupun di masa depan.

Ketimpangan Sosial dan Fungsi Pendidikan dalam Masyarakat

Menurut pandangan Pierre Bourdieu, keberhasilan pendidikan itu tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh modal sosial, modal budaya, dan modal ekonomi yang dimiliki seseorang. Misalnya seperti siswa yang memiliki modal atau memiliki lingkungan yang mendukung, fasilitas yang mendukung, biasanya memiliki peluang yang besar untuk memanfaatkan berbagai kesempatan yang tersedia dalam pendidikan. Namun untuk siswa yang tidak memiliki modal yang sama, peluangnya cukup minim. Dari sinilah ketimpangan itu terlihat sangat jelas.

Ilustrasi pendidikan di Indonesia. Foto: Kemendikbudristek

Pemikiran Emile Durkheim juga relevan dalam melihat persoalan ini. Menurut Durkheim, pendidikan memiliki peran penting dalam mempersiapkan individu agar dapat hidup dan berpartisipasi di masyarakat. Karena itu, pendidikan seharusnya mampu memberikan kesempatan yang setara bagi setiap orang untuk berkembang.

Kesetaraan (Equality) dan Keadilan (Equity)

Dalam pembahasan pendidikan, ada dua konsep yang sering dianggap sama, yaitu kesetaraan (equality) dan keadilan (equity). Padahal, keduanya memiliki makna yang berbeda. Kesetaraan berarti setiap siswa mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan. Misalnya, semua anak memiliki hak untuk bersekolah, menggunakan kurikulum yang sama, dan mengikuti proses pembelajaran yang sama.

Namun kenyataannya, kondisi setiap siswa tidak selalu setara. Ada yang belajar dengan fasilitas lengkap, akses internet yang mudah, dan dukungan keluarga yang kuat. Ada pula yang harus belajar dengan keterbatasan. Karena itulah muncul konsep keadilan atau equity. Keadilan dalam pendidikan berarti memberikan dukungan sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa agar mereka memiliki peluang yang lebih seimbang untuk berkembang.

Jika dikaitkan dengan Merdeka Belajar, konsep ini menjadi penting untuk diperhatikan. Memberikan kebebasan belajar yang sama kepada seluruh siswa memang merupakan bentuk kesetaraan. Namun, kebebasan itu belum tentu dapat dimanfaatkan secara optimal oleh semua siswa apabila kondisi yang mereka hadapi berbeda-beda. Siswa yang memiliki fasilitas lengkap tentu akan lebih mudah mengeksplorasi minat dan mengembangkan potensinya dibandingkan siswa yang masih berjuang dengan berbagai keterbatasan.

Ilustrasi siswa SMA. Foto: phectography/Shutterstock

Contoh yang dapat kita lihat dalam Kurikulum Merdeka adalah pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Dalam kegiatan ini, siswa didorong untuk membuat proyek, melakukan observasi, bekerja sama dalam kelompok, dan menghasilkan karya yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Bagi sekolah yang memiliki fasilitas lengkap, akses internet yang baik, serta dukungan sumber belajar yang memadai, kegiatan seperti ini tentu lebih mudah dilaksanakan. Namun, tidak semua sekolah berada dalam kondisi yang sama. Masih ada sekolah yang menghadapi keterbatasan fasilitas, teknologi, bahkan tenaga pendidik.

Akibatnya, pengalaman belajar yang diperoleh siswa dalam menjalankan P5 bisa berbeda-beda, meskipun mereka sama-sama menggunakan Kurikulum Merdeka. Dari sini terlihat bahwa kebijakan yang sama belum tentu memberikan kesempatan yang sama bagi semua siswa.

Karena itu, keberhasilan Merdeka Belajar tidak hanya bergantung pada kebebasan yang diberikan kepada siswa dan guru, tetapi juga pada sejauh mana sistem pendidikan mampu menghadirkan keadilan. Ketika sekolah yang kekurangan fasilitas mendapatkan perhatian lebih, daerah terpencil memperoleh akses pendidikan yang lebih baik, dan siswa yang membutuhkan bantuan memperoleh dukungan yang memadai, tujuan pendidikan yang setara akan lebih mudah terwujud.