Konten dari Pengguna
Burnout Akademik pada Mahasiswa: Mengapa Semakin Banyak yang Mengalaminya?
1 Desember 2025 11:49 WIB
·
waktu baca 2 menitTulisan dari HANIFAH SYIFA ALMUSYAROFAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Di tengah tuntutan akademik yang semakin kompleks, fenomena burnout menjadi salah satu masalah yang banyak dialami mahasiswa. Mereka dituntut untuk terus produktif, mengikuti berbagai mata kuliah, tugas, organisasi, hingga pekerjaan paruh waktu. Tanpa disadari, tekanan yang datang bertubi-tubi membuat mahasiswa mengalami kelelahan fisik dan mental yang berkepanjangan.
ADVERTISEMENT
Salah satu faktor terbesar pemicu burnout adalah budaya “harus selalu sibuk”. Banyak mahasiswa merasa tidak cukup jika hanya fokus pada kuliah. Mereka membandingkan diri dengan teman-teman yang aktif organisasi, magang, mengikuti lomba, atau punya proyek sampingan. Dalam sosiologi, konsep social comparison menjelaskan bahwa individu cenderung mengukur dirinya berdasarkan pencapaian orang lain, sehingga memicu rasa tidak mampu dan ketakutan dianggap kurang berprestasi.
Selain itu, sistem akademik yang menuntut nilai tinggi dan kesempurnaan juga memperburuk keadaan. Tugas menumpuk setiap minggu, dosen memiliki ekspektasi tinggi, dan kurikulum yang padat membuat mahasiswa jarang memiliki waktu untuk istirahat. Tidak sedikit yang merasa lelah secara emosional, kehilangan motivasi, hingga tidak merasakan lagi makna dari proses belajar.
ADVERTISEMENT
Perubahan era digital turut memperparah tekanan. Kehadiran AI, persaingan global, dan ketidakpastian dunia kerja membuat mahasiswa merasa harus selalu siap dengan keterampilan baru. Hal ini menciptakan kecemasan bahwa mereka akan tertinggal jika tidak terus belajar atau berprestasi.
Meski begitu, burnout bukanlah tanda kelemahan. Ini merupakan sinyal bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan jeda. Mahasiswa perlu mendapatkan dukungan sosial, ruang istirahat, dan lingkungan kampus yang memahami kesehatan mental mahasiswanya. Mengakui kelelahan bukan berarti menyerah, tetapi langkah awal untuk membangun kembali keseimbangan hidup. Pada akhirnya, produktivitas terbaik muncul ketika mahasiswa dapat memberi ruang bagi dirinya untuk beristirahat dan bernapas.

