Generasi Z Tidak Apatis, Mereka Hanya Berpolitik dengan Cara Lain

Sociology Education Student, Jakarta State University
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Hanifah Syifa Almusyarofah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang masih menganggap Generasi Z sebagai kelompok yang apatis terhadap politik. Anggapan ini muncul karena mereka dinilai jarang mengikuti kegiatan politik konvensional seperti menghadiri rapat partai, mengikuti kampanye secara langsung, atau terlibat dalam organisasi politik formal. Namun, jika diamati lebih jauh, sebenarnya Generasi Z tidak menjauhi politik. Mereka hanya mengekspresikan partisipasi politik melalui cara yang berbeda.
Salah satu karakteristik utama Generasi Z adalah kedekatannya dengan teknologi digital. Mereka tumbuh bersama media sosial, internet, dan arus informasi yang cepat. Akibatnya, ruang politik bagi mereka tidak lagi terbatas pada panggung kampanye atau gedung parlemen, tetapi juga hadir di platform digital seperti media sosial. Melalui unggahan, diskusi daring, petisi digital, hingga kampanye isu sosial, Generasi Z menunjukkan kepeduliannya terhadap berbagai persoalan publik.
Dalam perspektif sosiologi politik, bentuk partisipasi ini dapat dipahami sebagai transformasi dari politik konvensional menuju politik digital. Generasi Z cenderung lebih tertarik pada isu-isu yang memiliki dampak langsung terhadap kehidupan mereka, seperti pendidikan, lingkungan, kesetaraan gender, kesehatan mental, lapangan kerja, dan hak-hak sipil. Mereka lebih sering mendukung gerakan berbasis isu dibandingkan loyalitas terhadap partai atau tokoh politik tertentu.
Selain itu, rendahnya keterlibatan dalam politik formal tidak selalu berarti rendahnya kesadaran politik. Banyak anggota Generasi Z justru aktif mengkritisi kebijakan publik, memverifikasi informasi, serta mengajak orang lain untuk lebih peduli terhadap isu sosial. Kemampuan mengakses berbagai sumber informasi membuat mereka lebih kritis terhadap narasi politik yang beredar. Meski demikian, kemudahan akses informasi juga membawa tantangan berupa maraknya hoaks, disinformasi, dan polarisasi opini di ruang digital.
Perubahan pola partisipasi politik ini menunjukkan bahwa definisi keterlibatan politik perlu dipahami secara lebih luas. Jika generasi sebelumnya mengekspresikan aspirasi melalui organisasi dan aktivitas lapangan, Generasi Z memanfaatkan teknologi sebagai sarana utama untuk menyuarakan pendapat dan membangun kesadaran kolektif. Bentuknya mungkin berbeda, tetapi tujuannya tetap sama, yaitu memengaruhi kebijakan dan mendorong perubahan sosial.
Pada akhirnya, menyebut Generasi Z sebagai generasi apatis merupakan penyederhanaan yang kurang tepat. Mereka tetap peduli terhadap berbagai persoalan masyarakat, hanya saja memilih jalur yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Politik bagi Generasi Z tidak selalu hadir dalam ruang formal, tetapi juga hidup dalam setiap unggahan, diskusi, dan gerakan digital yang mereka bangun bersama.
