Guru Mencerdaskan Bangsa, tetapi Siapa yang Memperjuangkan Kesejahteraannya?

Sociology Education Student, Jakarta State University
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Hanifah Syifa Almusyarofah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap peringatan Hari Guru, pujian mengalir: guru adalah pilar bangsa dan pahlawan tanpa tanda jasa. Namun di ruang guru yang sama, ada pendidik yang kepastian kerjanya belum aman. Kemendikdasmen mencatat lebih dari 200 ribu guru non-ASN mengajar di sekolah negeri, dan Surat Edaran Nomor 7 Tahun 2026 menjamin masa kerja serta penggajian mereka hanya sampai 31 Desember 2026, sementara skema 2027 masih disiapkan.
Emile Durkheim memandang guru sebagai penyalur nilai moral bagi masyarakat. Ia juga memperkenalkan anomie, yaitu kondisi ketika aturan dan harapan menjadi kabur. Guru dituntut menjadi teladan, tetapi tidak tahu pasti bagaimana masa depannya diatur. Max Weber menambahkan bahwa pelapisan sosial punya dimensi kelas, status, dan kekuasaan. Guru kaya kehormatan, tetapi miskin penghasilan dan daya tawar, kondisi yang oleh Gerhard Lenski disebut status inconsistency.
Pierre Bourdieu menyebut guru kaya kapital simbolik, tetapi sering miskin kapital ekonomi. Pujian "pahlawan" bisa menjadi kekerasan simbolik, karena membuat ketimpangan terasa wajar dan sulit digugat. Dari sisi Marx dan Michael Apple, kerja guru ikut mengalami proletarisasi ketika kontrol atas pekerjaan makin ditentukan dari atas lewat administrasi dan aturan seragam.
Guy Standing menyebut pekerja tanpa keamanan kerja sebagai prekariat, dan guru honorer memenuhi banyak cirinya. Erving Goffman membantu kita melihat sisi lain: di kelas guru tampil tenang dan berwibawa, sedangkan di belakang panggung ada kecemasan soal kontrak, dan label "honorer" bisa menjadi stigma. Dampaknya mungkin sampai ke kelas, misalnya guru yang mencari penghasilan tambahan punya waktu lebih sedikit untuk murid. Ini hipotesis yang layak diteliti.
Kemendikdasmen menyatakan kabar guru honorer dirumahkan pada 2027 tidak benar. Meski begitu, kepastian skema, data terbuka tentang status dan penghasilan guru, serta penghargaan yang berjalan bersama perbaikan nyata tetap diperlukan. Murid belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan gurunya, tetapi juga dari cara masyarakat memperlakukan guru.
