Konten dari Pengguna

Pray for Kalimantan Saja Tidak Cukup: Karhutla dan Tugas Pendidikan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanifah Syifa Almusyarofah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Karhutla dan Pendidikan Lingkungan di Kalimantan. Sumber Foto: Canva.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Karhutla dan Pendidikan Lingkungan di Kalimantan. Sumber Foto: Canva.com

Setiap kali kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Kalimantan, media sosial kembali dipenuhi ungkapan “Pray for Kalimantan”. Banyak orang menunjukkan kepedulian dengan membagikan foto hutan yang terbakar atau berharap hujan segera turun. Namun, setelah api padam dan kabut asap menghilang, muncul pertanyaan yang sering terlupakan: apakah kita benar-benar belajar dari kejadian ini?

Bayangkan seorang siswa yang harus belajar dari rumah karena udara di sekitar sekolahnya dipenuhi asap. Ia mungkin tidak pernah menyalakan api, tetapi tetap harus menanggung akibatnya. Di sisi lain, ada masyarakat yang masih menganggap pembakaran lahan sebagai cara praktis untuk membuka kebun. Dua keadaan ini memperlihatkan bahwa karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga persoalan kebiasaan dan pendidikan.

Pierre Bourdieu, melalui konsep habitus, menjelaskan bagaimana kebiasaan terbentuk dari lingkungan sosial dan dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam konteks karhutla, kebiasaan membuka lahan dengan membakar bisa terus dilakukan karena dianggap murah, cepat, dan sudah biasa. Ketika suatu tindakan dianggap lumrah, orang mungkin tidak lagi memikirkan dampaknya bagi orang lain.

Namun, kebiasaan tidak muncul begitu saja dan tidak pula berubah hanya karena masyarakat diberi tahu bahwa membakar lahan itu berbahaya. Masyarakat perlu memahami dampaknya sekaligus memiliki pilihan lain yang memungkinkan mereka membuka lahan tanpa membakar. Tanpa alternatif yang realistis, imbauan untuk menjaga hutan berisiko berhenti sebagai slogan.

Di sinilah pendidikan memiliki peran penting. Émile Durkheim memandang pendidikan sebagai sarana menanamkan nilai dan norma yang diperlukan dalam kehidupan bersama. Udara bersih, misalnya, bukan hanya kebutuhan individu, tetapi juga kepentingan seluruh masyarakat. Ketika seseorang membakar lahan secara sembarangan, dampaknya tidak berhenti di batas kebunnya. Anak-anak, guru, dan warga lain dapat ikut menanggung akibatnya.

Sayangnya, pendidikan lingkungan tidak cukup jika hanya disampaikan melalui hafalan. Siswa mungkin mampu menjelaskan pengertian pencemaran udara saat ujian, tetapi belum tentu terbiasa mempertanyakan penyebab kebakaran di sekitarnya atau memahami mengapa praktik pembakaran terus berulang.

Paulo Freire mengkritik model pendidikan yang menempatkan siswa sebagai penerima informasi semata. Menurutnya, pembelajaran seharusnya membantu peserta didik memahami dan mengkritisi kenyataan yang mereka hadapi. Dalam persoalan karhutla, siswa dapat diajak membahas hubungan antara pembukaan lahan, kerusakan hutan, kualitas udara, dan terganggunya kegiatan belajar. Mereka tidak sekadar menghafal dampak kebakaran, tetapi belajar melihat persoalan secara lebih utuh.

Pembelajaran seperti ini juga tidak boleh berhenti di ruang kelas. Orang tua, masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha perlu terlibat dalam membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab. Sekolah dapat mengembangkan pembelajaran lingkungan sesuai kondisi setempat, termasuk mengenalkan fungsi lahan gambut dan pentingnya hutan bagi kehidupan masyarakat Kalimantan.

Tentu saja, pendidikan bukan satu-satunya jawaban. Pengawasan dan penegakan hukum tetap diperlukan untuk menangani pembakaran yang melanggar aturan. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa masyarakat memiliki akses terhadap metode pembukaan lahan tanpa bakar yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan mereka. Mengandalkan pendidikan saja tanpa memperbaiki keadaan di lapangan sama saja meminta orang mengubah kebiasaan tanpa menyediakan jalan untuk melakukannya.

Kepedulian melalui doa dan media sosial tetap berarti. Namun, kepedulian seharusnya tidak berhenti ketika unggahan tenggelam oleh berita baru. Karhutla mengingatkan kita bahwa menjaga lingkungan bukan hanya soal memadamkan api, tetapi juga membangun cara berpikir dan kebiasaan yang mencegahnya kembali terjadi.

Mungkin kita tidak bisa langsung menghentikan seluruh kebakaran hutan. Namun, kita bisa mulai dengan mengubah cara belajar, cara memperlakukan lingkungan, dan cara memandang tanggung jawab bersama. Sebab, ketika musim kemarau berikutnya datang, yang dibutuhkan Kalimantan bukan hanya lebih banyak doa, melainkan juga masyarakat yang lebih siap mencegah kebakaran sejak awal.