Konten dari Pengguna

Burung Moa Akan Hidup Lagi: Fakta, Risiko, dan Kontroversinya

Hanifati Nadhilah

Hanifati Nadhilah

S1 Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanifati Nadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

South Island Giant Moa (Sumber: Collosal Biosciences via Associated Pers)
zoom-in-whitePerbesar
South Island Giant Moa (Sumber: Collosal Biosciences via Associated Pers)

Selandia Baru tengah bersiap menghadapi kebangkitan moa yang telah punah lebih dari 500 tahun lalu. Namun, apakah dunia sudah siap menyambut makhluk masa lalu pada ekosistem masa kini?

Pada 8 Juli 2025, perusahaan bioteknologi Colossal Biosciences mengumumkan proyek ambisiusnya, menghidupkan kembali burung moa, spesies raksasa tak bisa terbang yang pernah mendominasi daratan Selandia Baru. Proyek ini didukung sineas The Lord of the Rings Peter Jackson, bersama lembaga penelitian Ngāi Tahu dan ilmuwan genetika dari berbagai negara. Dengan bantuan teknologi CRISPR dan DNA fosil, mereka optimistis bisa menciptakan versi modern dari moa raksasa dalam waktu beberapa tahun ke depan (AP News, 2025).

Sejumlah media memuji inisiatif ini sebagai tonggak sejarah bioteknologi, atau revolusi konservasi. Meskipun, masih pada tahap yang bena-benar awal. Namun, pada jangka panjang ada satu pertanyaan mendasar: bagaimana dampak kebangkitan spesies ini terhadap ekosistem modern yang sudah berubah drastis sejak moa terakhir menginjak tanah?

Rewilding Bukan Sekadar Nostalgia

Proyek de-extinction bukan hal baru. Sebelumnya, Colossal juga telah mengembangkan dire wolf dan mammoth versi sintetis untuk tujuan restorasi ekosistem purba di Siberia. Namun dalam praktiknya, mengembalikan spesies bukan hanya soal rekayasa genetika, melainkan rekayasa lingkungan hidup secara menyeluruh.

Burung moa dulunya memegang peran penting dalam penyebaran benih dan kontrol vegetasi. Namun, habitat mereka kini telah banyak berubah. Dihuni oleh manusia, ternak, dan spesies pendatang seperti rusa, possum, serta predator non-endemik. Jika moa tiba-tiba hadir, bukan tak mungkin ia akan mengganggu keseimbangan ekologis baru, mengubah struktur hutan, atau justru bersaing dengan spesies langka lain seperti kiwi dan takahe.

Jurnal Nature Plants (2025) menyebut bahwa reintroduksi spesies purba ke ekosistem modern cenderung memunculkan konsekuensi tak terduga, mulai dari penyebaran patogen baru, kompetisi pakan, hingga perubahan aliran nutrisi dalam tanah (Nature Plants, 2025). Pada konteks moa, risiko ini makin besar karena ukuran tubuh dan kebutuhan ruangnya yang luas.

Ilusi Kebangkitan?

Kritik datang dari berbagai ilmuwan, salah satunya biolog evolusi Jerry Coyne. Pada blognya, ia menilai bahwa proyek ini tak benar-benar membangkitkan moa, melainkan menciptakan “moa-like bird,” burung mirip moa yang belum tentu memiliki perilaku, insting, atau fungsi ekologis asli. “Ini seperti membuat tiruan dari lukisan kuno menggunakan kuas modern,” ujarnya (Why Evolution Is True, 2025).

Ada pula dilema etis: apakah benar kita menghidupkan kembali spesies demi menebus kesalahan manusia? Atau justru memperlakukan alam sebagai laboratorium besar demi ego ilmiah dan potensi wisata ekologis masa depan?

Belajar dari Masa Lalu, Mempersiapkan Masa Depan

Meskipun tahapan gentika moa ini masih sangat awal, pengujian interaksi antarspesies, dinamika rantai makanan, dan respons tumbuhan lokal perlu dikaji mendalam. Pendekatan konservasi modern menuntut bukan hanya teknologi, tapi juga kearifan ekologis dan partisipasi budaya. Pada hal ini, pelibatan masyarakat adat Māori yang memiliki hubungan spiritual dengan tanah dan fauna lokal menjadi elemen penting agar de-extinction ini tidak berdampak negatif ekologis.

Akankah Moa Jadi Model atau Peringatan?

Jika berhasil, proyek moa bisa menjadi preseden positif dalam konservasi spesies global. Namun bila gagal, ia akan menjadi pelajaran mahal tentang bagaimana sains bisa bertindak terlalu jauh tanpa memperhitungkan kompleksitas ekosistem. Dunia memang sedang menghadapi krisis keanekaragaman hayati, tapi solusinya bukan sekadar membawa masa lalu ke masa kini, jika berhasil, memastikan bahwa setiap langkah rekayasa harus sejalan dengan keseimbangan alam yang hidup.

Referensi Terkait:

  • "Lord of the Rings director backs long shot de‑extinction plan, starring New Zealand’s lost moa.” 9 Jul 2025. AP News. https://apnews.com/article/peter-jackson-moa-de-extinction-colossal-biosciences-04260e26cbe04e787640c9502df94dda

  • The Extinct Moa‑a 12‑ft. Flightless Bird‑May Follow In the Dire Wolf's Footsteps.” 8 Jul 2025. Time.com. https://time.com/7301013/colossal-biosciences-next-project-extinct-moa/

  • The Company That Brought Back Dire Wolves Plans to De‑Extinct a Giant Bird Next with Peter Jackson's Help.” 12 Jul 2025. People.com. https://people.com/colossal-biosciences-plans-to-de-extinct-giant-moa-birds-after-dire-wolves-11770656?utm

  • Interventions in conservation. Nat. Plants 11, 1–2 (2025). https://doi.org/10.1038/s41477-025-01911-3

  • Why Evolution Is True https://whyevolutionistrue.com/2025/07/09/now-colossal-proposes-to-de-extinct-the-moa-peter-jackson-helps/

  • Photo Sources: https://apnews.com/article/peter-jackson-moa-de-extinction-colossal-biosciences-04260e26cbe04e787640c9502df94dda