Konten dari Pengguna

Pergeseran Moral Generasi Alpha? Mari Simak Pandangan Paradigma Konstruktivisme

Haniifah Rahmadani

Haniifah Rahmadani

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Haniifah Rahmadani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gen Alpha. Foto: Rizky Arief Permana/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gen Alpha. Foto: Rizky Arief Permana/Shutterstock

Peran Dunia Digital bagi Generasi Alpha

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Kehadiran internet, media sosial dan berbagai platform digital membuat proses komunikasi lebih cepat, mudah dan tanpa batas ruang maupun waktu (Srg & Usiono, 2024). Saat ini masyarakat tidak hanya berinteraksi secara langsung, tetapi juga melalui ruang digital yang memungkinkan setiap individu untuk menyampaikan secara bebas pendapat, berbagi informasi dan membangun hubungan sosial secara luas.

Di tengah perkembangan yang pesat, lahirlah generasi Alpha, yaitu generasi yang lahir sekitar tahun 2010-2025 (Nurpratiwi et al, 2025). Berbeda dengan generasi sebelumnya, generasi ini tumbuh sejak kecil dalam lingkungan yang telah dipenuhi teknologi digital. Mereka terbiasa menggunakan gawai, mengakses internet secara luas, serta berinteraksi melalui media sosial sebagai bagian yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menjadikan mereka sebagai generasi yang sangat dekat dengan dunia digital.

Kemudahan akses terhadap teknologi membawa berbagai perubahan dalam pola komunikasi. Menurut Saputra & Supratama (2026), Salah satu fenomena yang sering menjadi perhatian adalah pergeseran moral dalam etika berkomunikasi generasi Alpha. Mereka kerap dianggap lebih terbuka, spontan dan berani mengungkapkan pendapat tanpa banyak mempertimbangkan norma sosial yang berlaku. Fenomena ini tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh lingkungan digital yang membentuk cara berpikir dan cara mereka memandang realitas sosial (Nurbaity, 2026). Oleh karena itu, tulisan ini akan membahas bagaimana paradigma konstruktivis dan perasaan subjektivitas generasi alpha yang tidak mempedulikan standar etika komunikasi objektif yang berlaku di masyarakat.

Cara berpikir generasi alpha tidak terbentuk begitu saja. Mereka tumbuh di tengah media sosial dan berbagai platform media sosial yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Jika generasi sebelumnya banyak mendapatkan pengalaman langsung dari keluarga, sekolah dan lingkungan sekitar dan tidak didominasi oleh faktor perkembangan teknologi yang pesat dan luas, berbeda dengan gen alpha yang tumbuh dalam pesatnya perkembangan teknologi. Pengalaman digital menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi cara mereka memahami dunia dan berinteraksi dengan orang lain (Andzani, 2023).

Media sosial juga bekerja melalui algoritma yang menampilkan konten sesuai pengguna. Akibatnya anak-anak akan rentan mendapatkan konten serupa secara terus menerus. Hal ini menyebabkan mereka berpikir bahwa apa yang muncul di layar merupakan gambaran realitas yang benar karena berpengaruh terhadap menurunya kemampuan berpikir kritis, daya fokus dan kognitif (Putri, 2025). Padahal, masih banyak sudut pandang lain yang tidak ditampil oleh algoritma. Dominasi media digital dalam kehidupan sehari-hari memengaruhi pola komunikasi dan interaksi sosial generasi alpha di dunia nyata (Zendrato & Ziliwu, 2025).

Di sisi lain, lingkungan digital juga mempercepat proses penyerapan nilai-nilai baru. Konten yang viral dianggap menarik dan layak ditiru karena memperoleh banyak perhatian dari pengguna lain. Kebebasan berekspresi menjadi nilai yang sangat dijunjung, sementara nilai kesopanan dan kehati-hatian dalam berkomunikasi sering kali kurang mendapatkan perhatian. Penelitian terdahulu menunjukan bahwa tingginya intensitas penggunaan media sosial pada generasi alpha tidak selalu diimbangi dengan pemahaman etika digital dan pendampingan moral yang memadai, sehingga dapat memengaruhi perilaku dan kontrol diri mereka di dunia maya (Aliska, 2025).

Illustrasi anak tumbuh dalam dunia digital (Sumber: Pexels)

Munculnya Standar Baru Generasi Alpha

Perkembangan media sosial telah mendorong munculnya kecenderungan untuk mengutamakan kebenaran pribadi dalam berkomunikasi. Banyak pengguna internet, terutama generasi yang tumbuh di lingkungan digital, merasa bahwa pendapat pribadi merupakan sesuatu yang benar dan layak disampaikan secara bebas tanpa mempertimbangkan konsekuensinya (Ghani & Hakim, 2025). Akibatnya, pertimbangan terhadap normal sosial dan tata krama sering kali menjadi hal yang luput dari perhatian.

Dalam kondisi tersebut, standar etika objektif seperti unggah-ungguh kesantunan berbahasa, dan rasa hormat kepada orang yang lebih tua terkadang dianggap sebagai hambatan bagi kebebasan berekspresi. Penelitian menunjukan bahwa penggunaan media sosial yang tidak disertai pemahaman etika dapat menyebabkan menurunya kualitas interaksi dan munculnya berbagai bentuk komunikasi yang kurang santun (Sudarja, 2025 ; Alisa, 2025; Mutiarani et al, 2024).

Fenomena ini banyak tampak pada penggunaan bahasa slang yang kasar, komentar bernada merendahkan, atau candaan yang berpotensi menyinggung orang lain (Mutiarani et al, 2024). Selain itu, batasan privasi juga semakin memudar karena banyak pengguna yang mudah membagikan informasi pribadi. Hal ini dapat menyebabkan semakin kaburnya batas antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab dalam berkomunikasi.

Pergeseran etika komunikasi pada generasi alpha tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh berbagai karakteristik interaksi di ruang digital. Salah satu faktor yang berperan adalah kecenderungan seseorang merasa lebih bebas saat berkomunikasi melalui layar dibandingkan ketika berinteraksi secara langsung (Fitri & Laela, 2026). Dalam dunia maya, pengguna tidak berhadapan secara langsung. Dalam dunia maya, pengguna tidak berhadapan secara fisik dengan lawan bicaranya sehingga rasa canggung, takut, atau malu jadi berkurang. Kondisi ini dikenal sebagai online disinhibition effect, yakni kecenderungan individu menunjukan perilaku yang berbeda di dunia digital dibandingkan di dunia nyata (Shafira & Ardelia, 2025). Akibatnya komentar kasar, candaan yang berlebihan, atau ungkapan informasi pribadi sering dilakukan tanpa pertimbangan dampaknya terhadap orang lain.

Selain itu, komunikasi digital yang serba cepat membuat proses refleksi moral seringkali terlupakan. Pengguna dapat langsung memberikan komentar, memberikan unggahan, atau menanggapi suatu isu hanya dalam hitungan detik. Kecepatan tersebut membuat banyak orang lebih mengutamakan respons spontan daripada mempertimbangkan kesesuaian pesan dengan etika komunikasi. Pada saat yang sama, budaya media sosial juga mendorong munculnya sistem validasi instan melalui likes, views, shares dan comment (Hasnah et al., 2025). Popularitas sering kali menjadi ukuran keberhasilan yang lebih nyata dibanding kesantunan, tanggung jawab atau etika dalam berkomunikasi.

Kondisi tersebut membawa sejumlah dampak bagi kehidupan sosial. Perbedaan cara berkomunikasi sering memunculkan ketegangan antara generasi alpha dan generasi sebelumnya. Selain itu, jika standar etika komunikasi semakin bergantung pada kebebasan dan penilaian pribadi, maka norma sosial yang selama ini menjadi pedoman bersama dapat melemah (Bustami et al., 2024). Dalam jangka panjang, masyarakat berisiko mengalami kesulitan dalam membangun kesepahaman karena setiap individu memiliki ukuran kebenaran dan kepantasan yang berbeda. Akibatnya, batas antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial menjadi pudar.

Illustrasi pergeseran moral anak (Sumber: Magnific)

Apa yang Dapat Kita Lakukan?

Pergeseran etika komunikasi pada Gen alpha tidak hanya berkaitan dengan perubahan perilaku individu, tetapi juga mencerminkan perubahan cara pandang yang terbentuk oleh lingkungan digital. Paparan media sosial, dan budaya validasi intan turut memengaruhi cara generasi ini memahami kebebasan berekspresi dan etika dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menyeimbangan perkembangan teknologi dengan pendidikan karakter, literasi digital, serta penanaman nilai moral sejak dini. Dengan demikian, generasi alpha dapat memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa mengabaikan tanggung jawab dan etika dalam kehidupan sosial.