Menentukan Titik Potensi Kukang Jawa di Blok Lodadi

Saya mahasiswa UIN JAKARTA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN PRODI PAI. Saya menyukai olahraga, membaca, mendengar kan musik dan suka berpetualang / pecinta alam.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari HANIIFAH ZAKIYYAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pengamatan Habitat dengan Metode RHA (Rapid Habitat Assessment)
Menyusuri Hutan Blok Lodadi dan Mencari Jejak Kukang Jawa
Setiap 200 meter di dalam hutan selalu menyimpan potongan informasi yang berbeda. Ada kanopi yang rapat, liana yang menjuntai, sampai pohon-pohon besar yang membuat kami bertanya-tanya, apakah di antara rimbunnya hutan ini ada kukang yang sedang bersembunyi?
Di hari pertama, kami berhasil mengisi 10 Waypoint (WP) dengan jarak masing-masing 200 meter dan menemukan 4 Waypoint Spesial (WPS).
Kami dari tim Kepetualangan Ekspedisi Netra Nocturna memang tidak bertugas mencari kukang secara langsung. Tugas kami adalah melihat dan mencatat kondisi habitat yang kami lewati melalui tally sheet RHA (Rapid Habitat Assessment). Jadi, sambil menyusuri jalur, setiap 200 meter kami berhenti untuk mengamati keadaan sekitar.
Di hari pertama, kami berhasil mengisi 10 Waypoint (WP) dengan jarak masing-masing 200 meter dan menemukan 4 Waypoint Spesial (WPS). Kalau WP ditentukan setiap 200 meter, WPS merupakan titik tambahan yang kami temukan di luar interval tersebut dan dianggap memiliki kondisi atau potensi tertentu. Semua yang kami temukan tetap kami catat di tally sheetRHA.
Setelah pengambilan data selesai, tally sheet tersebut kami berikan kepada tim pengamatan malam. Kami juga menentukan titik flying camp untuk tempat beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Hari kedua, perjalanan kami dilanjutkan dari waypoint terakhir di hari sebelumnya. Semakin jauh berjalan, kondisi hutan yang kami lewati mulai terasa berbeda. Dari WP 5 hingga WP 10, kami mulai memasuki kawasan hutan sekunder hingga hutan primer. Vegetasinya semakin rapat, pohon-pohon yang kami temui juga semakin besar dan kanopinya semakin tinggi.
Di beberapa titik, kami menemukan sumber air. Sayangnya, karena sedang musim kemarau, sebagian sumber air tersebut sudah dalam kondisi kering. Temuan-temuan seperti ini tetap kami catat dalam RHA karena hal-hal kecil yang kami temui sepanjang perjalanan ternyata bisa memberikan gambaran mengenai kondisi habitat yang kami lewati.
Malam harinya, tally sheet kembali kami berikan kepada tim pengamatan. Kami tidak ikut melakukan pengamatan malam, jadi kami hanya bisa menunggu kabar dari mereka.
Keesokan harinya, sebelum kembali berangkat untuk melanjutkan RHA, kami justru mendapat kabar yang membuat kami senang. Tim pengamatan malam menemukan kukang di WP 6 dan WP 7, tepat di titik yang sebelumnya diberikan oleh tim Kepetualangan.
Mendengar kabar itu rasanya cukup menyenangkan. Catatan yang kami buat pada siang hari ternyata membawa tim pengamatan menuju titik ditemukannya kukang. Dari situ, kami semakin penasaran dengan perjalanan hari terakhir. Kami berharap bisa menemukan titik lain yang juga memiliki potensi keberadaan kukang.
Di hari ketiga, kami mendapatkan 8 WP dan 4 WPS. Kondisi habitat yang kami temui cukup beragam. Ada titik dengan tutupan kanopi sedang hingga rapat, kondisi tajuk yang umumnya sedang, serta cukup banyak pohon beringin. Keberadaan beringin menjadi salah satu hal yang menarik perhatian kami karena pohon tersebut berpotensi mendukung keberadaan kukang.
Selain vegetasi, kami juga menemukan tanda keberadaan satwa lain dan aktivitas manusia di sekitar jalur. Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi selama berada di hutan justru membuat kami semakin memperhatikan apa saja yang ada di sekitar jalur.
Setelah tiga hari berjalan dan mengumpulkan berbagai catatan, perjalanan kami tidak berhenti di tally sheet. Semua titik yang kami temukan kemudian didokumentasikan dan diolah menjadi peta
Pemetaan Titik Potensial dan Waypoint Spesial
Peta ini menjadi gambaran dari perjalanan kami di Blok Lodadi. Di dalamnya terdapat persebaran WP, titik potensial, dan WPS yang kami temukan selama berada di lapangan. Dari peta tersebut, hasil yang sebelumnya hanya berupa catatan di tally sheet bisa terlihat dalam bentuk persebaran titik di sepanjang jalur.
Bagi kami, peta ini bukan hanya hasil akhir dari pengolahan data. Di balik setiap titiknya ada perjalanan yang kami lalui, mulai dari berhenti setiap 200 meter, mencatat kondisi hutan, menemukan sumber air yang sudah mengering, sampai mendapat kabar bahwa kukang ternyata ditemukan di titik yang sebelumnya kami lewati.
Perjalanan tiga hari di Blok Lodadi akhirnya membuat kami sadar bahwa mencari keberadaan kukang bukan hanya soal menemukan satwanya. Sebelum sampai pada titik itu, ada banyak hal yang harus diperhatikan—mulai dari kondisi pohon, kanopi, liana, sumber air, hingga keadaan hutan yang kami lewati. Dari situlah kami mencoba memahami, seperti apa sebenarnya rumah yang masih memungkinkan bagi Kukang Jawa untuk bertahan.
