Konten dari Pengguna

Santri Pun Pilih Bank karena Kepraktisan, Bukan karena Label Syariah

Salwaa

Salwaa

Mahasiswa Universitas UIN Syafif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salwaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nilai agama diajarkan sejak kecil di pesantren, tapi urusan bank ternyata jalan sendiri. Foto: (Masjid Maba/Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Nilai agama diajarkan sejak kecil di pesantren, tapi urusan bank ternyata jalan sendiri. Foto: (Masjid Maba/Unsplash)

Saya lulusan pesantren di Kuningan, dekat Cirebon, Jawa Barat. Sampai sekarang rekening utama saya BCA, bukan bank syariah, meski pesantren saya dulu punya afiliasi dengan Bank Muamalat atau BSI—saya sendiri lupa persisnya yang mana. Alasan saya pindah ke BCA sederhana saja: cabangnya paling dekat, bisa buka rekening cuma lewat aplikasi, dan tidak ada syarat saldo minimum. Teman saya yang juga lulusan pesantren, tapi dari Jawa Timur, malah pakai BNI. Kami berdua sama-sama besar di lingkungan santri, tapi keduanya memilih bank berdasarkan kepraktisan, bukan label syariah.

Ternyata Saya Enggak Sendirian

Ternyata pola yang saya alami bukan kasus terisolasi. Indeks literasi keuangan syariah nasional sebenarnya melonjak dari 9,14 persen di tahun 2022 menjadi 39,11 persen. Tapi kenaikan pemahaman itu tidak diikuti kenaikan pengguna: pangsa pasar perbankan syariah per Maret 2026 justru turun ke 7,51 persen, dari posisi Desember 2025 yang sempat menyentuh 7,69 persen. Artinya masyarakat—termasuk santri seperti saya dan teman saya—makin paham konsep bagi hasil dan larangan riba, tapi pemahaman itu ternyata tidak otomatis membuat kami pindah rekening. Sebuah studi bahkan mencatat 61 persen muslim Indonesia masih memakai bank konvensional, dan hanya 35 persen yang memakai bank syariah.

Contoh paling dekat justru keluarga saya sendiri. Kakak saya dulu memakai bank konvensional, sekarang lebih sering memakai Bank Jago dan BSI—tapi alasannya tetap soal kepraktisan, bukan murni pertimbangan syariah. Bank Jago dipakai karena terhubung dengan aplikasi saham yang dia mainkan, sementara BSI dipakai supaya transfer sesama BSI dengan ayah saya tidak kena biaya admin, mengingat kakak saya merantau dan sering butuh kiriman uang. Ayah saya sendiri nasabah BSI dan Bank DKI—DKI karena gajinya masuk ke sana, BSI karena memang sudah lama jadi nasabah di situ. Ibu saya malah punya tiga rekening sekaligus: BCA untuk bisnis, Mandiri untuk bayar kontrakan dan listrik, BSI untuk simpanan. Bahkan di keluarga yang akhirnya memakai bank syariah pun, alasannya tetap soal jaringan transfer dan kepraktisan transaksi, bukan semata pertimbangan keagamaan.

Aplikasi Gampang Ngalahin Dalil

Menurut saya, ada tiga alasan konkret di balik pola ini. Pertama, soal akses. Di Kuningan, kampung halaman saya, mencari bank saja susah—yang paling banyak justru Bank BJB, sementara BCA atau Mandiri pun jarang ada cabangnya, apalagi bank syariah. Kedua, soal kemudahan digital. Generasi saya terbiasa dengan QRIS dan pembukaan rekening lewat aplikasi tanpa perlu ke kantor cabang, dan pengalaman saya sendiri, kemudahan semacam itu lebih dulu saya temukan di bank konvensional yang saya pakai dibanding opsi bank syariah yang saat itu saya tahu. Ketiga, dan ini yang menurut saya paling mengejutkan: topik perbankan syariah nyaris tidak pernah dibahas di pesantren saya. Guru-guru kami fokus mengajarkan hukum riba secara teori, tapi soal bank mana yang kami pakai sehari-hari, itu dianggap urusan pribadi masing-masing santri.

Akibatnya, ada semacam jarak antara pemahaman agama dan keputusan finansial sehari-hari. Saya sendiri, misalnya, tidak pernah merasa ada yang salah memakai BCA, karena bagi saya rekening bank cuma tempat menyimpan uang dalam jumlah kecil, bukan ranah yang terasa berkaitan dengan riba secara langsung.

Bukan Nambah Dalil, Tapi Nambah Akses

Kalau bank syariah mau benar-benar menjangkau santri seperti saya, dua hal ini penting. Pertama, perluas akses digital sekuat bank konvensional besar—pembukaan rekening lewat aplikasi tanpa syarat saldo minimum, karena itu yang paling menentukan pilihan Gen Z, bukan sekadar label syariahnya. Kedua, pesantren perlu mulai membahas pilihan perbankan secara eksplisit, bukan cuma mengajarkan teori riba lalu membiarkan santri memilih sendiri tanpa panduan praktis soal bank syariah mana yang bisa mereka pakai dan bagaimana caranya.

Perluasan jaringan kantor cabang di daerah seperti Kuningan dan kota-kota kecil berbasis pesantren lainnya juga tidak kalah penting, supaya bank syariah tidak kalah akses dibanding bank konvensional yang sudah puluhan tahun lebih dulu hadir di sana.

Ngaji Soal Riba Saja Tidak Cukup

Pengalaman saya dan teman saya menunjukkan, latar belakang pesantren yang kuat sekalipun tidak otomatis membuat seseorang jadi nasabah setia bank syariah. Selama akses masih timpang dan pembahasan soal bank syariah cuma berhenti di teori riba tanpa panduan praktis, jangan heran kalau santri yang paham hukum agama justru tetap membuka rekening di bank konvensional—bukan karena melawan nilai yang mereka yakini, tapi karena itulah pilihan paling masuk akal yang ada di depan mata mereka.