Konten dari Pengguna

Fenomena Hustle Culture: Motivasi atau Eksploitasi?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanna Z Fauziyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Fenomena Hustle Culture. Source: GeminiAI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Fenomena Hustle Culture. Source: GeminiAI

Pernahkah kalian merasa bersalah saat beristirahat? Mengapa tidur cukup sering dianggap sebagai tanda kemalasan, sementara lembur justru dipuji sebagai bukti kerja keras? Mengapa seseorang yang selalu sibuk dengan pekerjaannya dianggap lebih sukses dibanding mereka yang mampu menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi? Di tengah maraknya konten motivasi yang memenuhi media sosial, pertanyaan ini terlihat semakin relevan. Apakah budaya produktif tanpa henti benar-benar membawa kita menuju kesuksesan, atau justru membuat kita terjebak dalam tekanan yang tiada habisnya?

Belakangan ini, istilah Hustle Culture semakin akrab di telinga Generasi Z. Bekerja lebih lama tanpa kenal waktu, memiliki banyak kesibukan, mengejar berbagai proyek sekaligus, dan memanfaatkan setiap menit untuk menghasilkan sesuatu dianggap sebagai kunci keberhasilan. Di berbagai platform media sosial, banyak konten yang menampilkan rutinitas super produktif seolah menjadi standar hidup yang ideal. Akibatnya, muncul anggapan bahwa semakin sibuk seseorang, semakin bernilai pula dirinya.

Hustle Culture : Motivasi atau Bentuk Eksploitasi Modern?

Memiliki semangat untuk bekerja keras bukanlah sesuatu yang salah. Ambisi, disiplin, dan keinginan untuk berkembang juga merupakan beberapa hal yang penting dalam kehidupan. Namun, masalah muncul ketika produktivitas berubah dari kebutuhan menjadi tuntutan sosial.

Saat ini, banyak orang merasa harus selalu menghasilkan sesuatu. Waktu luang sering dianggap tidak produktif, sementara istirahat dipandang sebagai penghambat kesuksesan. Akibatnya, seseorang tidak hanya bekerja saat jam kerja, tetapi juga terus memikirkan pekerjaan di luar jam tersebut.

Fenomena ini tidak luput dari kondisi ekonomi yang dihadapi masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rata-rata upah buruh Indonesia pada Februari 2025 berada di kisaran Rp3,09 juta per bulan. Di sisi lain, biaya hidup di berbagai daerah terus mengalami peningkatan. Harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, transportasi, hingga perumahan semakin membebani masyarakat.

Dalam kondisi seperti itu, banyak orang akhirnya mencari pekerjaan tambahan atau side hustle. Fenomena ini sering dipromosikan sebagai simbol kemandirian dan kesuksesan. Apakah semua orang menjalani pekerjaan tambahan karena ingin memperkaya diri, atau karena penghasilan utama belum cukup memenuhi kebutuhan hidup?

Narasi yang berkembang sering kali hanya menampilkan sisi inspiratif dari bekerja tanpa henti. Yang jarang dibahas adalah kelelahan fisik dan mental yang muncul akibat tekanan untuk terus produktif. Tidak semua orang memiliki kesempatan, sumber daya, dan kondisi yang sama. Ketika standar kesuksesan hanya diukur dari tingkat produktivitas, maka banyak individu yang akan terus merasa kurang, meskipun telah bekerja keras setiap hari.

Hal ini cukup mengkhawatirkan, karena budaya ini perlahan menormalisasi gagasan bahwa bekerja lebih banyak selalu merupakan solusi. Padahal, tidak semua masalah ekonomi dapat diselesaikan hanya dengan menambah jam kerja. Ada persoalan yang lebih besar, seperti kualitas pekerjaan, tingkat upah, dan jaminan kesejahteraan yang juga perlu diperhatikan.

Produktif Terus atau Takut Tertinggal?

Salah satu alasan mengapa Hustle Culture begitu mudah diterima adalah karena ia memanfaatkan rasa takut yang dimiliki banyak orang, yaitu takut tertinggal.

Media sosial membuat kita melihat pencapaian orang lain hampir setiap saat. Ada yang berhasil mendapatkan pekerjaan impian, membangun bisnis sendiri, membeli rumah di usia muda, atau menghasilkan pendapatan dari berbagai sumber. Tanpa disadari, semua itu menciptakan tekanan sosial yang kuat.

Akibatnya, produktivitas sering kali tidak lagi didorong oleh tujuan pribadi, tetapi oleh rasa cemas. Banyak orang bekerja lebih keras bukan karena mereka benar benar menginginkannya, melainkan karena takut kalah bersaing dengan orang lain. Padahal nyatanya, kehidupan setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Membandingkan perjalanan hidup dengan potongan momen yang ditampilkan di media sosial tentu bukan ukuran yang adil. Sayangnya, budaya digital saat ini sering membuat seseorang merasa harus selalu bergerak agar tidak dianggap gagal.

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir bahwa jumlah penduduk bekerja di Indonesia telah mencapai lebih dari 145 juta orang pada Februari 2025. Angka ini menunjukkan besarnya aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, tingginya jumlah pekerja tidak serta merta mencerminkan kualitas hidup yang lebih baik. Banyak pekerja masih menghadapi ketidakpastian pekerjaan, tekanan ekonomi, dan tantangan kesejahteraan yang belum terselesaikan.

Teori Karl Marx: Eksploitasi Tenaga Kerja

Di sinilah muncul pertanyaan yang lebih mendasar. Mengapa solusi yang terus ditawarkan kepada individu adalah bekerja lebih keras, sementara persoalan struktural seperti kualitas lapangan kerja dan kesejahteraan pekerja jarang menjadi perhatian utama?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin menarik jika dilihat melalui teori eksploitasi tenaga kerja Karl Marx. Menurut Marx, dalam sistem kapitalisme, pekerja menghasilkan nilai yang lebih besar dibandingkan imbalan yang mereka terima. Semakin besar produktivitas yang dihasilkan, semakin besar pula keuntungan yang dapat diperoleh oleh pemilik modal.

Jika pada masa lalu eksploitasi identik dengan jam kerja panjang di pabrik, maka dalam masyarakat modern bentuknya menjadi lebih halus. Individu tidak selalu dipaksa bekerja secara langsung. Mereka justru terdorong untuk memaksimalkan dirinya sendiri atas nama kesuksesan, pengembangan diri, dan produktivitas.

Dalam konteks ini, Hustle Culture dapat dipahami sebagai budaya yang membuat seseorang terus bekerja bahkan ketika tidak ada yang memaksanya. Produktivitas menjadi standar nilai diri. Kesibukan menjadi simbol keberhasilan. Sementara itu, istirahat sering dipandang sebagai sesuatu yang harus dikurangi.

Tentu, bekerja keras tetap penting. Namun, masyarakat perlu berhati hati ketika kerja keras berubah menjadi kewajiban tanpa batas. Ketika seseorang merasa bersalah karena beristirahat, ketika kelelahan dianggap sebagai prestasi, dan ketika hidup hanya diukur dari seberapa banyak yang dapat dihasilkan, maka mungkin yang sedang kita hadapi bukan lagi motivasi semata.

Hustle Culture memang menjanjikan kesuksesan. Namun, di balik slogan "produktif terus" dan "jangan rebahan mulu", terdapat pertanyaan yang layak direnungkan. Apakah kita benar benar sedang mengejar impian, atau hanya sedang menyesuaikan diri dengan sistem yang membuat kita terus bekerja tanpa pernah merasa cukup?