Jakarta Utara Menuju Atlantis? Ancaman Tenggelam Bukan Sekadar Mitos

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Hanna Z Fauziyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana jadinya, Kota Jakarta Utara yang wilayah pesisirnya dianggap identik dengan rob, kini seolah-olah berproses tenggelam diam-diam layaknya mitos Atlantis. Hal ini bukan dongeng, melainkan kenyataan tersurat bahwa penurunan tanah dan kenaikan muka air laut telah menjadikan Jakarta Utara rentan tenggelam. Bayangkan ketika bangun pagi, melihat laut menyapa pintu rumah di beberapa permukiman Jakarta Utara. Wilayah ini, dengan permukiman padat dan tembok raksasa penahan air laut yang dibangun untuk menahan air, justru terperangkap dalam lingkaran setan penurunan tanah (subsidence) akibat pompa air tanah berlebih, sehingga membuat daratan tenggelam jauh lebih cepat daripada naiknya permukaan laut.
Akar Masalah: Pompa Air Tanah dan Beban Kota
Penurunan tanah (subsidence) Jakarta Utara merupakan fakta keras dari data terkini. Pada 2023, rata-rata penurunan tanah di DKI Jakarta mencapai 3,9 cm per tahun, dengan titik-titik tertentu seperti Muara Angke hingga 9,7 cm dan Pantai Mutiara 7,6 cm. Menilik beberapa penyebab utama, ekstraksi air tanah berlebih oleh sumur dalam milik perumahan elit. Akibatnya, penduduk miskin di permukiman kumuh justru memakai sumur dangkal. Sementara itu, elit bisnis yang menggali lebih dalam demi untung, mempercepat "lubang" ini hingga 20 cm per tahun di titik tertentu.
Pembangunan tembok laut seperti Giant Sea Wall (NCICD) senilai miliaran dolar untuk memblokir air laut memang memberi solusi, tetapi melupakan akar masalahnya. Proyek ini dimulai tahun 2014 dan fase awal dipercepat 2025. Tanggul dibangun 30 km dan 17 pulau buatan tetapi penurunan tanah (subsidence) tetap berlanjut karena tidak menghentikan pompa air tanah ilegal. Hasilnya air laut yang "tertembok" naik relatif cepat saat tanah turun.
Jutaan Jiwa di Ujung Tanduk: Tembok Laut—Solusi atau Penutup Mata?
Jakarta Utara dipenuhi kampung-kampung padat seperti Penjaringan, Pluit, Tanjung Priok, dan Cilincing. Permukimannya mencapai 86% luas wilayah pada 2008 dan terus bertambah. Jutaan orang tinggal di zona rawan. Banjir rob rutin datang. Peringatan BMKG November 2025 akibat bulan purnama dekat Bumi, banjir reguler 2024–2025 menggenangi puluhan RT dengan ketinggian hingga 1,3 meter. Atlantis bukan dongeng, tapi realita jika polanya tidak diubah.
Giant Sea Wall menjanjikan perlindungan dari banjir dengan fase 1 selesai 2030 dan total 32 km garis pantai. Akan tetapi, proyek ini tidak mengatasi akar masalah penurunan tanah (subsidence) yang tetap ada karena tidak diatur. Di belakang tembok besar, air laut terperangkap naik saat tanah turun 1–1,5 meter per tahun di Jakarta Utara. Proyek ini seperti plester untuk luka kanker, biaya US$40 miliar bisa dialihkan ke reklamasi berkelanjutan dan relokasi warga pulau buatan itu sendiri. Tanpa itu, Jakarta Utara akan menjadi "kolam" raksasa.
Pemerintah harus memprioritaskan pengaturan air tanah via transparansi sumur dalam dan subsidi air bersih. Ini dapat didukung dengan mendorong relokasi bertahap ke 17 pulau NCICD yang dapat menyerap 2 juta jiwa, sekaligus menanam hutan bakau (mangrove) untuk melawan erosi. Masyarakat perlu meningkatkan kesadaran dengan menolak membangun ilegal di zona rawan.
Kata "Atlantis" memang cukup mengerikan, tetapi data ilmiah menunjukkan bahwa Jakarta Utara memang menyusut secara pelan tapi pasti karena kombinasi kesalahan manusia dan perubahan alam. Jakarta Utara bukan hanya "ekspektasi banjir" tetapi "zona kerentanan besar" terhadap tenggelam perlahan. Oleh karena itu, semua harus bergerak dan bersuara. Masih ada peluang untuk menyelamatkannya. Krisis ini dapat diatasi bersama dengan kebijakan cerdas, inovasi, serta semangat gotong royong.
