Kuliah Online: Ilmu Nambah atau Cuma Kuota yang Hilang?

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hanna Syafana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pertama Kali Terbitnya Perkuliahan Online
Adanya wabah COVID-19 menyerang seluruh dunia, termasuk Indonesia, aktivitas belajar secara langsung termasuk perkuliahan terpaksa dihentikan demi melindungi kesehatan dan keselamatan bersama. Sejak saat itu, pembelajaran online muncul sebagai pilihan yang tidak hanya bersifat sementara melainkan berlanjut sampai saat ini. Banyak lembaga pendidikan mulai mengembangkan bahan ajar dalam bentuk modul digital, video rekaman, audio, dan teks sehingga proses belajar tetap berjalan meskipun tanpa kehadiran fisik mahasiswa di ruangan kelas.

Dampak Negatif Perkuliahan Online
Dalam praktik perkuliahan online, mahasiswa sering dihadapkan pada berbagai tantangan yang menguras tenaga dan fokus. Tenaga dan fokus mahasiswa sering terkuras karena harus menatap layar berjam-jam setiap hari. Belum lagi persoalan kuota internet yang cepat habis, gangguan jaringan, hingga distraksi di rumah yang membuat konsentrasi belajar semakin sulit dijaga. Tidak heran banyak mahasiswa mengeluhkan bahwa kuliah online kadang terasa “lebih berat” dibanding kuliah tatap muka, sebab setelah kelas selesai, rangkaian tugas digital dengan deadline ketat sudah menunggu. Meski begitu, kuliah online tetap punya sisi yang disukai. Sebagian mahasiswa merasa lebih santai karena tidak perlu datang ke kampus, bisa belajar dari mana saja, bahkan dari kamar kos. Namun, kesukaan itu juga datang dengan konsekuensi: semakin banyak kuota internet yang harus dikorbankan.
Bagi mahasiswa dengan kondisi ekonomi terbatas terutama anak rantau yang jauh dari orang tuanya situasi ini menjadi beban tambahan. Ada rasa khawatir ketika kuota habis sementara uang saku menipis, sehingga mereka berpotensi tidak bisa mengikuti perkuliahan. Di titik inilah terlihat bahwa kuliah online tidak hanya persoalan metode belajar, tetapi juga menyangkut ketidaksetaraan akses pendidikan. Mahasiswa yang memiliki perangkat dan jaringan stabil cenderung lebih diuntungkan, sementara mereka yang kurang mampu semakin rentan tertinggal.
Dari pengalaman banyak mahasiswa, ada tahapan kuliah online yang terasa sangat monoton. Misalnya, dosen hanya memberikan tugas melalui chat atau platform belajar tanpa adanya interaksi langsung selama perkuliahan. Situasi seperti ini membuat mahasiswa kehilangan semangat yang mengakibatkan, motivasi belajar mahasiswa cenderung menurun. Tidak sedikit yang merasa bahwa dosen tidak benar-benar memeriksa tugas mereka, sehingga muncullah sikap abai: tugas dikerjakan sekadarnya, bahkan ada yang memilih menyalin jawaban dari teman. Praktik ini menunjukkan bahwa kuliah online tidak hanya menimbulkan masalah teknis seperti kuota dan jaringan, tetapi juga menyentuh aspek psikologis dan etika akademik mahasiswa.
Fenomena tersebut mencerminkan bagaimana minimnya interaksi sosial dalam pendidikan dapat mengurangi makna belajar itu sendiri. Belajar bukan sekadar mengumpulkan tugas, tetapi juga membangun diskusi, mendapat umpan balik, dan mengalami proses berpikir kritis bersama dosen maupun teman sekelas. Ketika hal-hal itu hilang dalam kuliah online, maka pembelajaran menjadi sekadar formalitas.
Dampak Positif Perkuliahan Online
Meski banyak dampak negatif yang dirasakan mahasiswa, kuliah online juga menghadirkan sejumlah sisi positif yang patut diapresiasi. Bagi sebagian mahasiswa, pengalaman ini justru menjadi sarana untuk mengembangkan diri. Misalnya, kuliah online melatih mereka untuk lebih bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas yang tenggat waktunya berdekatan. Situasi tersebut menuntut mahasiswa untuk belajar memanajemen waktu agar tidak kewalahan, sekaligus menyeimbangkan tugas kuliah dengan aktivitas lain di luar perkuliahan.
Selain itu, kuliah online memperkaya mahasiswa dalam hal literasi digital. Interaksi yang intens dengan teknologi membuat mereka semakin terampil menggunakan berbagai perangkat dan aplikasi pendukung pembelajaran. Keahlian ini bisa menjadi bekal penting saat memasuki dunia kerja, di mana keterampilan digital dan soft skill seperti manajemen waktu, komunikasi daring, hingga kolaborasi online semakin dibutuhkan.
Tidak sedikit mahasiswa juga menyukai kuliah online karena alasan praktis: lebih hemat waktu dan biaya. Tanpa perlu mengeluarkan ongkos transportasi atau menghabiskan waktu di perjalanan menuju kampus, mereka bisa memanfaatkan sisa waktu untuk bekerja paruh waktu, mengembangkan hobi, atau membantu keluarga.
Dengan kata lain, meskipun kuliah online membawa banyak tantangan, tetap ada peluang positif yang dapat membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang lebih adaptif, mandiri, dan melek teknologi.
Kuliah Online: Menambah Ilmu atau Menghabiskan Kuota?
Kuliah online memang menghadirkan banyak pengalaman baik yang positif maupun negatif, bagi mahasiswa. Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah kuliah online benar-benar menambah ilmu, atau justru hanya menghabiskan kuota? Jawabannya kembali pada diri setiap mahasiswa.
Jika kita menjalaninya dengan keseriusan, maka ilmu akan bertambah, keterampilan berkembang, dan kuota yang dikeluarkan tidak akan terasa sia-sia. Namun, jika kuliah online dijalani tanpa niat dan tanggung jawab, maka yang tersisa hanyalah keluhan, kuota yang habis, dan waktu yang terbuang percuma.
Oleh karena itu, sebagai mahasiswa, kita perlu melakukan introspeksi diri: bagaimana caranya agar setiap kuota yang kita keluarkan benar-benar sepadan dengan ilmu yang kita peroleh? Jawabannya ada pada pilihan sikap kita sendiri.
