Konten dari Pengguna

Seni Berdamai dengan Overthinking Lewat Komunikasi Intrapersonal

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hannan Majid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Ilustrasi oleh AI/Gemini. Prompt oleh Hannan Majid.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Ilustrasi oleh AI/Gemini. Prompt oleh Hannan Majid.

Pernah gak meluangkan waktu berjam-jam cuma demi menatap langit-langit kamar kosan atau melamun panjang di meja belajar saat malam hari? Sebagai mahasiswa, pemandangan ini tentu sudah tidak asing lagi. Berkat tekanan tugas kuliah, ekspektasi masa depan, hingga drama pertemanan, sebuah masalah yang tadinya biasa aja bisa mendadak menjadi komoditas paling menakutkan di dalam kepala. Kita sering menyebut fenomena ini sebagai overthinking.

Namun, jika kita mau sedikit melangkah mundur dan membuka kembali buku kuliah—khususnya "Tekom Modul #04 Teori-teori dalam Komunikasi Intra Personal_2.pdf" —kita akan menyadari bahwa perilaku "latah cemas" ini bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa alasan. Apa yang kita lakukan di dalam kesendirian pikiran kita hari ini sebenarnya adalah cerminan hidup dari proses pengolahan informasi yang sudah dirumuskan oleh para ahli psikologi komunikasi.

Artikel ini akan mencoba membedah, mengapa kita begitu mudah terjebak oleh asumsi dan kecemasan di dalam kepala dengan menggunakan pendekatan teori komunikasi intrapersonal yang santai, ringan, dan tentunya dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Menghidupkan Kembali Teori Klasik di Dunia Pikiran

Dalam studi ilmu komunikasi, Profesor Wilbur Schramm dan Deddy Mulyana mengingatkan kita bahwa komunikasi pada dasarnya dipicu oleh kebutuhan manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan beradaptasi dengan lingkungannya. Melalui interaksi, kita memenuhi kebutuhan emosional dan intelektual kita. Namun, sebelum kita melempar pesan ke masyarakat luas, ada satu wilayah privat yang bekerja nonstop, yaitu sistem komunikasi intrapersonal (komunikasi dengan diri sendiri).

Kalau dipikir-pikir, wilayah ini mirip dengan sebuah pabrik pengolahan data. Otak kita tidak pernah berhenti menerima sinyal dari luar. Menurut Dennis Coon, alat-alat indra kita bertugas mengubah informasi mentah menjadi impuls saraf yang dapat dipahami oleh otak. Proses awal inilah yang disebut sebagai Sensasi.

Namun, apakah kita menerima semua informasi itu mentah-mentah? Tentu tidak. Sebagai mahasiswa, otak kita secara otomatis menyaring, memilih, dan memberikan makna pada setiap sinyal yang masuk. Di sinilah badai pikiran itu mulai menunjukkan taringnya.

Studi Kasus: Drama Koridor Kampus dan Kekuatan Persepsi

Mari kita ambil sebuah studi kasus yang sangat dekat dengan anak muda: tren mencurigai sikap teman sekelas. Pernah gak kamu berjalan di koridor kampus, melihat teman dekatmu berjalan dari arah berlawanan, lalu saat kamu senyumin, dia lempeng aja melewati kamu tanpa menoleh sedikit pun? Mengapa situasi sekecil itu bisa membuat kita tidak tenang seharian?

Fenomena ini sangat pas jika dibedah menggunakan proses Persepsi. Menurut Devito, persepsi adalah proses di mana individu menjadi sadar akan stimulus yang memengaruhi indra mereka, kemudian menyimpulkan dan menafsirkannya. Alur pengolahan informasi ini berjalan melalui tahapan kilat berikut:

  1. Tahap Pertama (Sensasi): Mata kita menangkap stimulus fisik berupa pergerakan teman kita yang berjalan lurus tanpa merespons lambaian tangan.

  2. Tahap Kedua (Atensi/Perhatian): Kita mengalihkan fokus perhatian kita secara penuh pada stimulus tersebut dan mengabaikan lingkungan sekitar koridor.

  3. Tahap Ketiga (Interpretasi/Persepsi): Otak kita mulai memberikan makna sepihak, misalnya menyimpulkan bahwa dia sedang sombong atau marah kepada kita.

Sifat persepsi ini cenderung selektif secara fungsional, artinya sangat dipengaruhi oleh kebutuhan, kecemasan, dan suasana batin kita saat itu. Ketika kita sedang merasa kurang percaya diri, kita cenderung menarik kesimpulan yang konsisten dengan kecemasan kita, meskipun stimulus aslinya belum lengkap.

Mengapa Kita Mengkhayal? Menilik Teori Berpikir Autistik

Selain faktor pengaruh dari apa yang kita lihat, keputusan kita untuk membesarkan masalah juga dipicu oleh cara kita mengintegrasikan memori dengan proses berpikir. Konsep ini dijelaskan dengan sangat baik melalui pembagian cara berpikir menurut para ahli dalam modul.

Ketika kita membiarkan asumsi negatif menguasai kepala, tahap keempat dari komunikasi intrapersonal—yaitu proses Berpikir—akan didominasi oleh jenis Berpikir Autistik. Berpikir autistik adalah proses mental yang melibatkan melamun, fantasi, atau menghayal skenario-skenario fiktif yang tidak riil. Kita mulai menebak-nebak akhir yang tragis dari tugas kuliah kita, atau membayangkan penolakan sosial dari lingkungan sirkel kampus kita.

Berbeda dengan berpikir autistik, kita sebenarnya dibekali kemampuan Berpikir Realistik, khususnya Berpikir Evaluatif (penilaian kritis terhadap gagasan berdasarkan kebenaran). Jika kita mengaktifkan berpikir evaluatif, kita akan mencari kemungkinan lain yang lebih logis: Bisa jadi teman tadi sedang buru-buru ke toilet, tidak memakai lensa kontak sehingga pandangannya buram, atau pikirannya sedang kacau karena urusan lain. Jadi, kita punya kendali penuh untuk memutus rantai overthinking jika kita aktif mengarahkan cara berpikir kita ke arah yang rasional.

Siapa di Balik Layar? Proses Memori dan Rem Darurat ESQ

Meskipun kita merasa terjebak dalam imajinasi buruk, kita tidak boleh lupa bahwa sistem Memori kita bertindak sebagai gudang rekaman masa lalu yang ikut mencampuri persepsi hari ini. Menurut Teori Interferensi (Interference Theory), pengalaman atau memori baru bisa mengaburkan informasi lama, begitu pula sebaliknya. Saat kita stres, emosi negatif bertindak sebagai interferensi yang memaksa otak kita memanggil kembali (retrieval) ingatan-ingatan kegagalan masa lalu, sehingga kita makin yakin bahwa masa depan kita akan buruk.

Untuk mengatasi dikotomi pikiran yang melelahkan ini, file "Tekom Modul #04 Teori-teori dalam Komunikasi Intra Personal_2.pdf" menawarkan sebuah rem darurat yang sangat indah, yaitu Teori ESQ (Emotional dan Spiritual Quotient). Teori ini menekankan pentingnya peran "mata hati" atau intuisi dalam mengungkap kebenaran hakiki, melampaui logika dunia material yang sempit.

Melalui kecerdasan emosional dan spiritual, kita diajak untuk menurunkan ego, mengolah pikiran bawah sadar, dan membangun hubungan intrapersonal yang penuh dengan penerimaan diri dan ketenangan batin. Ketika batin kita tenang, energi cemas itu bisa dialihkan menjadi Berpikir Kreatif untuk menciptakan solusi baru atas masalah sosial yang kita hadapi sehari-hari.

Kesimpulan: Menjadi Mahasiswa yang Bijak Mengelola Pikiran

Mempelajari teori komunikasi intrapersonal membuka mata kita bahwa realitas di dalam kepala kita—bahkan hal sekecil drama overthinking malam hari—tidak terjadi di ruang hampa. Fenomena terjebak dalam kecemasan adalah perpaduan nyata antara stimulus sensasi yang salah diinterpretasikan oleh persepsi, pemanggilan memori kegagalan masa lalu, serta dominasi cara berpikir autistik yang penuh fantasi liar.

Nah, sebagai mahasiswa, memahami teori-teori ini bukan hanya untuk kebutuhan menjawab soal ujian semester. Lebih dari itu, teori ini adalah alat bantu bagi kita agar bisa menjadi pengelola pikiran yang lebih cerdas dan bijak. Mulai sekarang, ketika pikiran buruk mulai mengetuk pintu kepala lagi, mari kita bertanya pada diri sendiri: "Apakah ini fakta yang nyata dari luar, atau aku hanya sedang terjebak dalam permainan persepsi komunikasi intrapersonalku sendiri?"