Bukan Soal Pohon Saja: Mengapa Krisis Iklim adalah Krisis Ekonomi Nyata

Mahasiswi Universitas Pamulang Prodi Pendidikan Ekonomi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Hanum Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sering kali ketika mendengar kata "krisis iklim", yang terbayang di benak kita adalah gambar beruang kutub yang kehilangan rumah, atau hutan gundul yang tandus. Bagi banyak orang, isu ini terdengar jauh dari dompet dan perut mereka. Padahal, anggapan itu keliru besar. Krisis iklim bukan sekadar soal pohon atau satwa liar; ini adalah bom waktu bagi perekonomian kita.
Coba lihat ke sekitar kita. Cuaca ekstrem yang tak menentu membuat petani gagal panen. Akibatnya, pasokan pangan menurun dan harga beras, cabai, serta sayuran melonjak di pasar. Ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan pukulan langsung terhadap daya beli masyarakat dan laju inflasi. Ketika panen gagal, petani kehilangan pendapatan, dan konsumen harus merogoh kocek lebih dalam. Roda ekonomi pun melambat. Belum lagi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Setiap kali banjir melanda, negara harus mengeluarkan anggaran triliunan rupiah untuk rehabilitasi dan pemulihan. Uang yang seharusnya bisa dialokasikan untuk membangun sekolah atau puskesmas, terpaksa tersedot untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak. Ini adalah kerugian ekonomi yang nyata dan berulang.
Krisis iklim juga mengancam sektor investasi. Investor global kini mulai melirik "risiko hijau". Mereka enggan menanamkan modal di negara yang lalai menjaga lingkungan karena dinilai berisiko tinggi. Jika kita terus abai, bukan tidak mungkin Indonesia akan kehilangan kepercayaan pasar global, yang berdampak pada melemahnya nilai tukar dan hilangnya lapangan kerja. Maka, sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Menjaga lingkungan bukan berarti menghambat pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, transisi menuju ekonomi hijau adalah investasi jangka panjang. Mulai dari energi terbarukan hingga pengelolaan sampah yang baik, semuanya bisa menciptakan lapangan kerja baru dan menghemat biaya negara.
Krisis iklim adalah krisis ekonomi. Jangan tunggu sampai alam benar-benar murka dan ekonomi kita runtuh. Sudah waktunya kita bertindak bijak, bukan hanya untuk bumi, tapi untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan kita bersama.
