kumparan
3 April 2017 9:01

Saya Malu Membaca Seno

Sebagai lulusan sastra, jelas saya tahu benar nama itu. Seno Gumira Ajidarma, mana mungkin saya tidak mengetahuinya? Nama itu bersanding dengan nama-nama penulis kawakan lainnya yang tak boleh tak kami ketahui, seperti Sapardi.
ADVERTISEMENT
Pada masa-masa itu, jujur saja, saya hanya mengenal namanya. Tidak ada sedikit pun keinginan saya untuk mengetahui lebih lanjut atau sekadar membaca karyanya. “Pasti berat.” Itu yang selalu terpikir dalam otak saya.
Jujur, saya hampir jarang membaca. Iya, aneh memang, lulusan sastra kok malas membaca?
Saya sangat pemilih terhadap bacaan saya. Hanya “karya-karya terpilih” yang masuk dalam daftar bacaan saya. Bukannya sombong, tetapi karena saya merasa tidak punya waktu untuk membaca karya yang “biasa”, saya lantas hanya memusatkan pada bacaan yang sudah teruji, semisal buku best seller atau hasil rekomendasi orang-orang yang saya percaya.
Semua, semata-mata karena malas saja. Malas memilih dan memilah lagi. Malas untuk mencoba bacaan dari penulis lain atau dari buku yang tidak saya terlalu saya minati, buku-buku yang memerlukan logika berpikir yang rumit.
ADVERTISEMENT
Saya membaca hanya untuk hiburan, masa harus dipaksa berpikir keras juga? Itu dulu, iya, saya akui memang itu tidak baik.
Singkat cerita, setelah lulus pekerjaan saya justru mengharuskan saya untuk banyak membaca. Wah, saya sungguh beruntung disadarkan dengan cara semacam ini. Mudah-mudahan, kesadaran ini tidak terlalu terlambat, ya, karena tidak ada kata terlambat untuk belajar, kan?
Singkat cerita pula, saat saya sedang membuka situs mizanstore.com—salah satu media daring yang menjual buku-buku baru—saya menemukan nama itu, Seno Gumira Ajidarma. Wah, masih produktif rupanya. Di situs itu, saya temukan beberapa koleksi buku baru Seno. Barangkali, inilah saatnya saya mulai membaca Seno, pikir saya.
Alhamdulillah karena proses pemesanan, pembayaran, dan pengiriman yang cepat, dari situs tersebut, saya bisa mendapatkan buku Seno dengan cepat. Terima kasih, mizanstore.
ADVERTISEMENT
Dua judul buku Seno yang saya baca adalah Dunia Sukab dan Jazz, Parfum, dan Insiden. Alasan saya memilih keduanya juga sangat sederhana, saya membaca resensi bukunya dan kemudian tertarik begitu saja.
Kesan pertama yang saya dapatkan, saya sungguh merasa malu. Bagaimana mungkin saya baru mengenal Seno saat ini, saat-saat setelah saya lulus? Betapa saya telah melewatkan tahun-tahun kemarin padahal ketika duduk di bangku perkuliahan tentu saya bisa mengeksploitasi Seno lebih dalam? Terlebih, ada kemungkinan saya bisa bertemu dengannya dalam acara kampus atau hal-hal yang dekat dengan itu.
Begitu mudahnya saya dibuat jatuh cinta hanya dengan kata-kata. Sungguh. Setiap cerita mengalir dengan begitu biasa, dari diksi yang biasa, tapi entah, aduh, begitu ngena. Saya suka semua cerita dari kedua buku tersebut.
ADVERTISEMENT
Saya merasa ada banyak ideologi, hasil pemikiran Seno yang disisipkan dalam tiap cerpennya. Dari satu cerita saja, rasanya saya ingin mengutip—membuat quote, kalau bahasa anak sekarang—dari setiap kata-katanya. Pendapatnya membuat saya selalu bergumam “iya juga, ya”.
Seringkali saya merasa Seno menyuarakan apa yang saya pikirkan selama ini. Tentang cinta, Seno pernah meyebutkan “kenapa cinta begitu sering berada di tempat yang salah? Kita tidak pernah mengerti kenapa begitu. Semua begitu saja terjadi.” (Ajidarma, 2017: 86) Ah, betapa iya.
“Orang bertemu, orang berpisah. Semua itu, kenapa harus selalu membawa-bawa perasaan?” katanya dalam cerita "Wanita dengan Parfum Escape (untuk Pria)."
“Kenapa kita selalu ingin pergi, dan setelah pergi selalu ingin kembali? Apakah hidup seperti ombak itu, sebentar surut sebentar pasang?” disuarakan lagi tanyanya dalam cerita "Wanita dengan Parfum L’eau D’Issey."
ADVERTISEMENT
Pertanyaan-pertanyaannya itu. Pemikirannya itu, yang membuat saya sebagai pembaca menjadi berpikir juga. Ah, betapa iya.
Saya malu membaca Seno. Saya malu menyadari betapa saya tidak memiliki pengetahuan apa-apa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Seno, tentang cinta itu, tentang kehidupan itu.
Akan tetapi, bukankah membaca adalah proses belajar dan berpikir? Pernah saya dengar bahwa jika kamu merasa pintar, bacalah buku. Niscaya kamu akan merasa bodoh dan akan berusaha untuk membaca lebih banyak buku, belajar untuk mendapatkan lebih banyak ilmu. Kurang lebih, begitu yang pernah saya tahu.
Saya akan membaca lebih banyak buku Seno. Saya penasaran dengan tanda tanya lain, yang mungkin suatu saat bisa saya peroleh jawabannya. Sepotong Senja untuk Pacarku, karyanya yang sangat sering saya dengar namanya itu, akan masuk ke dalam daftar bacaan saya selanjutnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan