Konten dari Pengguna

Mengenal Western Province, Tetangga Kita di Selatan Papua

Hari Yulianto

Hari Yulianto

Yumiporo (You and me are brother)

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hari Yulianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengenal Western Province, Tetangga Kita di Selatan Papua
zoom-in-whitePerbesar

Sumber Foto: Dok. Pribadi/Hari Yulianto

Pada edisi kali ini, saya akan mengungkap sedikit, mengintip, sebuah provinsi di Papua Nugini, Western Province. Lewat darat, provinsi ini berbatasan langsung dengan Provinsi Papua di bagian selatan, khususnya Kabupaten Merauke, Kabupaten Pegunungan Bintang, dan Kabupaten Boven Digoel.

Provinsi ini memiliki karakteristik tersendiri, termasuk kedekatannya dengan Provinsi Papua. Simak ulasan selengkapnya.

Western Province: Provinsi Terbesar di Papua Nugini (PNG)

Western Province merupakan provinsi terbesar di PNG. Luasnya sekitar 98.190 kilometer persegi. Namun demikian, provinsi ini hanya ditinggali oleh 200 ribuan penduduk. Bisa dibayangkan dengan luas itu dan hanya terdapat dua orang per satu kilometer persegi. Sepi.

Mengenal Western Province, Tetangga Kita di Selatan Papua (1)
zoom-in-whitePerbesar

Pemandangan Western Province dari udara. Sumber Foto: Dok. Pribadi/Hari Yulianto

Ibu kota Provinsi ini ada di Daru, sebuah pulau di teluk sebelah selatan Western Province. Disebabkan over-populated dan kurang nyamannya kota, menyebabkan kegiatan pemerintahan sehari-hari lebih sering dilakukan di Kiunga, sebuah kota pelabuhan dekat dengan Sungai Ok Tedi. Di Kiunga inilah, saya pernah berkunjung pada tahun 2013 dan membawa kenangan tersendiri.

Oke, kita teruskan ya ceritanya.

Nama lain provinsi ini adalah Fly River Province. Nama ini diambil dari nama sebuah sungai besar, Fly River, yang melewati provinsi ini mulai dari utara hingga ke selatan. Sungai ini panjangnya 1.200 kilometer dengan dua anak sungai Strickland dan Ok Tedi. Cerita mengenai Ok Tedi akan saya jelaskan secara khusus di bawah.

Mengenal Western Province, Tetangga Kita di Selatan Papua (2)
zoom-in-whitePerbesar

Sungai Fly. Sumber Foto: http://www.destinationpng.com

Sejarah Western Province

Selain terkenal akan belantara yang luas serta hasil bumi berupa emas, karet, kelapa, dan teripang, provinsi ini juga terkenal akan rawa dan banjirnya. Belum lagi penyakit malarianya.

Menurut catatan yang ada, provinsi ini (atau lebih tepatnya Sungai Fly) pertama kali ditemukan oleh navigator asal Perancis, D’Urville, pada tahun 1842. Temuannya diikuti oleh eksplorer Italia, Luigi d’Albertis, pada tahun 1876 dengan mengarungi Sungai Fly hingga 1.000 kilometer ke arah hulu. Selanjutnya pada tahun 1927-1928, Ivan Champion dan Charles Karius (asal Australia), melakukan eksplorasi terbesar dengan mengarungi Sungai Fly mulai dari Daru naik ke arah hulu sungai di utara hingga mencapai Sungai Sepik yang berada di Provinsi Vanimo, PNG.

Lanjut dengan penduduk aslinya, ya.

Suku-suku Terasing di Western Province

Western Province hingga saat ini masih banyak didiami oleh suku-suku asli. Pada masa awal kedatangan para penjelajah dan misi Kristen, ditemukan banyak praktik kanibalisme dan pemburu kepala oleh suku-suku asli ini. Praktik ini telah hilang sejalan makin aktifnya misi-misi gereja di wilayah ini sejak abad ke-19 akhir hingga hari ini (enggak tau ya, kalau di dalam belantaranya hehehehe).

Mengenal Western Province, Tetangga Kita di Selatan Papua (3)
zoom-in-whitePerbesar

Ilustrasi Warga Asli Western Province. Sumber Foto: http://www.destinationpng.com

Sistem budaya masyarakat juga masih dipengaruhi oleh kepercayaan akan nenek moyang dan roh-roh, yang dimediasi oleh dukun-dukun. Pusat kekuatan supranatural dipercaya ada pada rumah yang dipenuhi oleh artefak untuk menjalankan ritual. Artefak dengan gambar buaya dan ular merupakan artefak yang sering ditemui pada perahu kano, topeng, dan patung-patung, khususnya pada masyarakat Gogodala yang tinggal di hilir Sungai Fly.

Ok Tedi: Gold Mining and Pollution?

Sebagai provinsi yang less-populated, Western Province hampir boleh dikatakan tidak tersentuh oleh pembangunan industri. Namun, situasi ini berubah dengan dimulainya penambangan emas dan tembaga yang masif dan kontroversial oleh perusahaan Ok Tedi. Perusahaan ini awalnya dimiliki oleh BHP Billiton (Australia) sebelum dinasionalisasi oleh Pemerintah PNG tahun 2013.

OK Tedi mulai melakukan penambangan emas pada tahun 1984 dan tembaga pada tahun 1987. Penambangan dilakukan di hulu Sungai Ok Tedi PNG (dan konon hingga masuk wilayah Indonesia sejauh satu kilometer di Kabupaten Pegunungan Bintang). Proses penambangan tersebut menyisakan residu berupa sedimen yang mengalir di sungai dan berakumulasi menjadi endapan banjir. Di samping itu, penambangan juga menghasilkan polusi berupa merkuri yang mencemari sungai.

Pencemaran tersebut merugikan lingkungan dan tatanan sosial bagi 50 ribu orang yang tinggal di 120 desa di Western Province. Kerugian tersebut antara lain berupa matinya ikan-ikan dan spesies lain yang hidup di wilayah tersebut, termasuk kesehatan penduduk asli di sana. Residu yang disisakan juga menyebabkan dangkalnya sungai dan banjir yang merusak makanan pokok penduduk berupa sagu, kentang, dan pisang.

Isu mengenai OK Tedi masih menjadi berita menarik di PNG, termasuk menjadi perhatian Indonesia dan PNG.

Perjalanan ke Kiunga

Pada 2013, saya berkesempatan mengunjungi Kiunga. Perjalanan dari Provinsi Vanimo ke Kiunga menggunakan charter pesawat kecil (10 penumpang) selama tiga jam. Charter pesawat dilakukan karena tidak tersedianya penerbangan komersial langsung dari Vanimo ke Kiunga. Kalau menggunakan jalur komersial, maka perjalanan harus ditempuh memutar yaitu penerbangan dari Vanimo ke Port Moresby.

Selanjutnya, di Port Moresby harus menunggu jadwal penerbangan ke Daru yang hanya ada tiga kali seminggu. Setibanya di Daru, perjalanan menuju Kiunga ditempuh dengan menggunakan pesawat selama dua jam atau menggunakan perahu selama 36 jam karena tidak adanya jalur darat. Pastinya capek dan tidak efisien kan?

Mengenal Western Province, Tetangga Kita di Selatan Papua (4)
zoom-in-whitePerbesar

Perjalanan dengan charter pesawat. Sumber Foto: Dok. Pribadi/Hari Yulianto

Sesampainya di Kiunga, kami sempat bermalam di sebuah hotel. Tapi jangan bayangkan hotel seperti di Indonesia ya.

Mengenal Western Province, Tetangga Kita di Selatan Papua (5)
zoom-in-whitePerbesar

Tujuan selanjutnya adalah Tabubil dan Ningerum.

Tabubil dan Ningerum: There is always hope, for better future

Tabubil merupakan kota penampungan terbesar di Western Province yang didirikan oleh OK Tedi. Di kota ini terdapat camp pelarian pendukung OPM yang dikenal dengan Salamat Corner. Di camp ini mereka hidup dan dibina sehari-hari oleh pihak gereja Katolik. Kurangnya informasi mengenai kemajuan pembangunan di Papua saat ini menyebabkan mereka masih bertahan di sana.

Peran positif gereja di Kiunga dalam memberikan informasi terkini di Papua dapat membantu menyadarkan mereka untuk kembali dan membangun kampung halamannya di Papua.

Mengenal Western Province, Tetangga Kita di Selatan Papua (6)
zoom-in-whitePerbesar

Di Camp Salamat. Sumber Foto: Dok. Pribadi/Hari Yulianto

Saya juga berkesempatan mengunjungi sebuah kota kecil, Ningerum. Perjalanan ke Desa Matkomnai, Ningerum, memakan waktu satu jam perjalanan dari Kiunga. Di sini, saya berkenalan dengan seorang pastor asal Indonesia yang membina proyek percontohan penanaman padi oleh masyarakat setempat. Namun demikian, proyek ini masih bersifat uji coba, dan hasilnya masih belum memuaskan. Ini disebabkan karena masih kurangnya tenaga ahli dan alat-alat pertanian yang memadai.

Mengenal Western Province, Tetangga Kita di Selatan Papua (7)
zoom-in-whitePerbesar

Desa Matkomnai, Ningerum. Sumber Foto: Dok. Pribadi/Hari Yulianto

Dalam perbincangan yang dilakukan, ada harapan agar dilakukan kerja sama pertanian antar-Provinsi Papua dan Western Province. Kerja sama tersebut antara lain berupa pengiriman petani PNG ke Papua untuk belajar bercocok tanam padi atau sebaliknya mendatangkan tenaga ahli Indonesia ke Western Province, di samping bantuan alat pertanian, seperti traktor tangan.

Asa masih ada, untuk masa depan yang lebih baik.