News
·
21 Mei 2021 20:43

Menyoal Pemberantasan Korupsi

Konten ini diproduksi oleh Haris Darmawan

Perspektif transformasi organisasi dan reformasi birokrasi

Menyoal Pemberantasan Korupsi (322303)
searchPerbesar
Photo by Olav Ahrens Røtne on Unsplash #problemsolving #korupsi
Pertama, kita perlu bersepakat dulu bahwa korupsi adalah isu yang kompleks dan multidimensi, sebagaimana masalah bangsa lain seperti kemiskinan dan pendidikan. Hal ini membuat penanggulangan korupsi seyogyanya menggunakan banyak pendekatan dan strategi.
ADVERTISEMENT
Kedua, sebagaimana isu lain yang kompleks dan multidimensi perlu ada pendalaman terkait dengan root cause dan faktor-faktor yang secara signifikan berpengaruh dalam isu ini. Sependek pengetahuan dan informasi yang saya terima yang menjadi pareto dalam isu ini adalah proses pengambilan keputusan di Lembaga Negara yang tidak sesuai baik dari sisi substansi maupun proses.
Dalam diskursus manajemen risiko dikenal ada 3 Line of Defense Model, di mana dalam setiap pengambilan keputusan akan ada 3 tingkatan “control”.
Layer pertama melekat di pengambil keputusan dan berkaitan erat dengan integritas, layer kedua terkait dengan fungsi kontrol di suatu organisasi, dan Layer ketiga terkait dengan fungsi pengawasan independen. Penangkapan tersangka apapun nama operasinya lebih banyak terkait dengan tingkatan yang ketiga.
ADVERTISEMENT
Kembali ke root cause, menurut hemat saya korupsi terjadi karena layer pertama dan kedua gagal berfungsi optimal. Pengambil keputusan punya kekuasaan yang tidak terdistribusi dengan merata (perlu melihat lebih jauh soal segregation of duty) dan fungsi kontrol dalam organisasi tidak berjalan dengan baik (perlu dilihat bagaimana set up four eyes principle). Layer ketiga ketiga seharusnya bisa mendeteksi hal ini dan mulai menyusun action plan yang terukur.
Berangkat dari kerangka berpikir tersebut, sulit bagi saya menemukan relevansi keriuhan yang baru-baru ini terjadi dengan konteks kerja besar pemberantasan korupsi. Setuju, bahwa kita harus punya Lembaga Pengawas yang independen dan mumpuni secara kemampuan, akan tetapi narasi yang berkembang adalah cerita lama soal rivalitas masing-masing kubu, lengkap dengan bumbu agama, preferensi politik, dan asosiasi sosial.
ADVERTISEMENT
Kalaupun benar ini rivalitas antara dua kubu, jelas ini bukan pertarungan yang seimbang. Satu kudu punya segala sumber daya untuk menyerang dan bertahan, lengkap dengan peralatan yang mumpuni. Sedangkan kubu lain, hanya bergantung pada loyalitas pendukung dan sumberdaya seadanya, sembari berharap keajaiban dari kekuatan doa dan semesta. Bukan soal mendukung yang mana, tetapi agar lebih realistis terhadap hasil.
Menurut hemat saya pertarungan perlu difokuskan ke area-area yang tidak menarik secara politik dan tidak menguntungkan secara ekonomi, reformasi birokrasi dan transformasi kelembagaan negara. Saya berbaik sangka bahwa sudah ada peta jalan yang komprehensif dengan target yang terukur soal hal ini, dan semoga dalam waktu dekat bisa segera direalisasikan.
Sialnya hasil tidak hanya terpengaruh dari strategi yang baik, tetapi juga delivery yang mumpuni. Memang tidak mudah memenangkan pertempuran, tetapi jelas kalkulasi tetap memegang peran.
ADVERTISEMENT