Persotoan Duniawi

Penulis saat ini bekerja sebagai Business Analyst dan Project Manager di salah satu Bank BUMN. Tulisan merupakan opini pribadi.
Konten dari Pengguna
15 Agustus 2021 21:55
·
waktu baca 9 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Haris Darmawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Persotoan Duniawi (40386)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: koleksi pribadi penulis

Bagian 1

Tulisan ini terilhami dari kelaparan akan petualangan. Sesuatu yang dulu mungkin menjadi hal yang biasa saja, tetapi di masa pandemi ini menjadi sesuatu yang sulit untuk direalisasikan. Tentu setiap orang punya petualangannya masing-masing, akan tetapi petualangan untuk mencari santapan lezat nampaknya adalah milik banyak orang.
ADVERTISEMENT
Tentu setiap orang punya kuliner favorit yang selalu dicari saat dirundung rasa lapar atau sekadar singgah ke daerah tertentu, tetapi soto selalu istimewa. Bukan hanya karena ragamnya yang beraneka tetapi juga karena cerita dibalik setiap mangkoknya. Tentu cerita ini tidak hanya dimonopoli oleh sang empunya, tetapi setiap pengunjung juga punya cerita dan impresinya sendiri. Dan ini cerita saya.
Jakarta – Tangerang
1. Soto Seger Boyolali Hj Widodo
Bagi banyak orang mungkin tempat ini tidak terlalu istimewa, selain karena cabangnya yang cukup banyak tersebar di Jabodetabek, dari sisi kekhasan dan rasa juga bisa dibilang standard saja.
Dari sisi kuah, soto ini adalah soto berkuah bening, tipikal soto di daerah Solo Raya. Pilihan isiannya ada daging sapi dan ayam, lengkap dengan tauge matang, seledri, bawang goreng, bihun serta kentang goreng (khusus untuk soto ayam). Sebenernya di sini ada menu tengkleng juga, tetapi bagi saya tentu makan tengkleng di warung soto adalah sebuah keanehan yang sulit ditoleransi, selain saya juga sangat jarang mendapati orang yang memesannya. Entah bagaimana cerita awal dari perpaduan kuliner yang tidak nyambung ini.
ADVERTISEMENT
Selayaknya soto di khas Solo Raya saat anda berkunjung ke sini dan mulai menghitung berapa yang harus anda bayar untuk makanan yang anda habiskan, maka anda akan mendapati bahwa anda membayar lebih banyak untuk makanan tambahan dibanding makanan utamanya. Ya, lauk pauk di sini memang bisa dibilang cukup lengkap mulai dari tempe garit, tempe goreng tepung, tahu isi, tahu polos, ati ampela goreng telur, paru, otak sapi, sate cingur, sate telur puyuh, perkedel, dan bakwan. Selain lauk pauk ada juga snack seperti sosis solo dan lentho yang dari sisi cita rasa memang cukup otentik dan mirip dengan yang ada di tempat asalnya. Jika anda penikmat kerupuk maka pilihannya juga cukup lengkap dari kerupuk putih, kerupuk coklat, dan kerupuk gendhar/karak.
ADVERTISEMENT
Walaupun bisa dibilang dari segi rasa biasa saja tetapi soto ini bagi saya lebih ke tombo kangen. Bagi saya yang sudah merantau beberapa tahun di Ibukota dan sekitarnya, ada kalanya ingin kembali menikmati nuansa kuliner kampung halaman. Dan tentu waktu yang paling pas untuk datang kesini adalah pagi hari sekitar jam 7 atau 8 pagi. Selain masakan yang masih segar, di kampung halaman saya, soto memang dinikmati di waktu sarapan.
2. Sop Kaki Kambing Dudung Roxy
Sebenernya dari sisi klasifikasi, kuliner ini tidak termasuk dalam keluarga soto. Tetapi saya berpendapat bahwa secara substansi agaknya sop kaki kambing ini bisa masuk ke keluarga soto, meski bukan keluarga inti. Alasannya sederhana, hidangan ini menitikberatkan pada kualitas kuah dan isian yang sederhana.
ADVERTISEMENT
Dari sisi kuah, sop ini berkuah kental dengan cita rasa yang sangat kompleks, kombinasi dari berbagai rempah, susu, dan minyak samin. Bagi saya yang orang Jawa Tengah jenis kuah ini memang sangat bertolak belakang dengan kebanyakan masakan berkuah di kampung halaman saya. Mayoritas sop/soto selalu berkuah bening, kalaupun ada yang tidak bening biasanya berasal dari santan, sedangkan ini bukan dari santan. Ditambah minyak samin, yang bentuknya seperti mentega itu, jelas merupakan cita rasa baru bagi saya. Isian dari sop ini sangat mengerikan, selain kaki kambing sesuai judulnya, biasanya tersedia juga berbagai macam jeroan, daging, dan potongan bagian kepala (kuping, otak, mata, lidah) yang bisa dinikmati. Sentuhan terakhirnya adalah bawang goreng, daun bawang, dan emping.
ADVERTISEMENT
Saya biasa menikmati sajian ini di acara kantor sehingga tidak bisa menggambarkan suasana di tempat makan yang sebenarnya. Saya juga tidak bisa menggambarkan berapa harganya karena biasanya sudah tersedia dan kita bisa ambil apa saja selagi masih ada. Pernah sekali waktu saya diajak rekan kerja ke kedai yang menjajakan masakan ini tetapi berbeda merk, suasananya agak mirip dengan warung sate kambing di daerah Solo Raya, tetapi tentu agak lebih bersih karena tidak ada sisa-sisa pembakaran yang menempel di kedainya.
3. Soto Ayam Asli Surabaya Cak Man
Beberapa waktu lalu saya mendengar kabar dari rekan kantor bahwa Cak Man, pemilik sekaligus pedagang soto ini, mendahului kita menghadap Yang Maha Kuasa. Di kantor saya yang berlokasi di Kawasan SCBD warung ini cukup populer. Selain karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari lokasi kantor, warung ini berlokasi di Pujasera Blok S kurang lebih 1 kilometer dari Kawasan SCBD, cita rasa sotonya juga memang khas.
ADVERTISEMENT
Sejujurnya bagi saya ini kali pertama saya menikmati soto berkuah kental tetapi tidak berasal dari santan. Kentalnya kuah soto selain dari kaldu juga dari koya yang ditambahkan menjelang disajikan. Soto ini sejatinya mirip atau mungkin sama dengan soto ambengan yang memang ciri khas kota Surabaya. Isian dari soto ini adalah beraneka ragam bagian ayam mulai dari sayap, brutu, daging, rempelo ati, dll. Selain itu kita juga bisa memesan isian telur muda. Ini yang agak unik dan menjadi ciri khas dari soto ambengan. Bagi anda yang belum pernah mencoba, telur muda ini bentuknya adalah telur rebus tetapi hanya bagian kuningnya saja. Tetapi memang teksturnya agak padat tidak seperti telur rebus biasa. Rasanya seperti kuning telur rebus yang telah dibumbui dengan campuran rempah. Saya biasanya memesan menu soto campur dan komplit di sini. Campur artinya soto dan nasinya dicampur dalam satu wadah sedangkan komplit artinya isian sotonya komplit mulai dari daging, jeroan, sampai telur muda tadi.
ADVERTISEMENT
Saya biasa menikmati sajian ini di waktu makan siang bersama beberapa rekan kerja. Tentu saat kami ke sana, selain selalu menggunakan mobil juga masih dengan pakaian kantor, entah batik atau kemeja lengan panjang lengkap dengan celana bahan dan sepatu pantofel, khas pekerja Kawasan SCBD. Dan tentu di sini kami banyak bertemu dengan rekan sejawat baik yang satu kantor maupun tidak. Jadi walaupun makanan ini terhitung kaki lima tetapi sejatinya ini termasuk makanan yang cukup punya kelas jika dilihat dari pengunjungnya.
4. Soto Ayam Ambengan Cak Di
Pengalaman pertama memang acap kali bukan pengalaman terbaik, tetapi pastilah yang pertama selalu punya kesan tersendiri. Dan di tempat inilah saya pertama kalinya mengalami bahwa jika kita memesan soto di Jakarta harus didetilkan apakah kita mau nasinya dicampur atau dipisah. Bagi saya yang lahir besar di Jawa Tengah memang awalnya agak aneh karena di sana memang semua soto itu dicampur dengan nasi, saat memesan soto sudah pasti kita mengharapkan nasi yang dicampur dengan kuah sotonya. Dan ternyata di Jakarta berbeda.
ADVERTISEMENT
Saat pertama kali saya ke tempat ini dan ditanya oleh pramusaji manakah jenis soto yang saya pesan apakah yang dicampur atau dipisah saya agak bingung, saat kemudian saya pesan soto campur saya mulai agak ragu apakah pesanan saya benar. Dan saat sotonya datang saya cukup terkejut, dari beberapa rekan kerja saya yang makan di situ hanya saya yang makan soto campur, yang lain nasinya di pisah. Saya mulai melihat sekeliling dan ternyata memang semua memesan soto pisah, kecuali saya. Sebagai orang kampung yang belum genap setahun di Jakarta dan belum genap 3 bulan menjadi anak kantoran SCBD tentu hal ini membuat saya sedikit terguncang. Ternyata Jakarta memang sangat berbeda dengan kampung saya.
ADVERTISEMENT
Soto ini letaknya cukup dekat dengan kantor, walaupun untuk pergi kesini tetap membutuhkan kendaraan tetapi jika dihitung jarak sebenernya letaknya tidak sampai 100 meter dari Kawasan SCBD. Tempatnya juga cukup luas dan bersih, sangat cocok untuk pekerja kantoran. Dan memang mayoritas yang makan di sini adalah pekerja kantoran di Kawasan SCBD dan sekitarnya.
Soto ini merupakan tipikal soto ayam dengan kuah yang tidak terlalu pekat. Cita rasanya agak mirip dengan soto Lamongan. Saya tidak terlalu ingat apakah ada pilihan isian di sini, saya biasanya hanya memilih campur atau pisah nasi, dari sisi lauk seperti halnya soto Lamongan memang hanya tersedia beberapa jenis kerupuk.
5. Soto Kudus Blok M
Pandemi ini mengubah banyak hal dalam hidup kita, termasuk juga mengubah cara kita dalam menikmati makan siang. Sebelum pandemi, pilihan makan siang di sekitaran SCBD bisa dibilang cukup berlimpah. Ada Pacific Place, biasanya untuk ketemu teman lama atau acara kantor seperti perayaan ulang tahun dan meeting bersama klien tertentu. Untuk yang ingin lebih menjelajah kuliner lain tersedia kafe dan restoran sepanjang jalan Senopati dan Suryo. Untuk yang ingin menjelajah kaki lima ada Blok S dan Blok M yang menawarkan berbagai pesona kuliner nusantara. Selain itu ada beberapa kantin karyawan yang menawarkan harga yang sangat miring, yang sangat cocok jika sedang dalam mode berhemat. Tetapi pandemi kemudian mengajarkan kita untuk lebih menerapkan gaya hidup sehat dan berhati-hati dalam memilih tempat dan makanan.
ADVERTISEMENT
Saat pandemi agak mereda dan mulai harus ke kantor lagi tentu petualangan mencari makan siang mengemuka Kembali. Tentu jajanan kaki lima agak dihindari dengan pertimbangan keramaian. Kantin karyawan juga agak dihindari karena maraknya cluster perkantoran waktu itu. Kemudian sampailah saya di bilangan Jalan Wijaya Kebayoran Baru untuk menjajal Soto Kudus.
Kenangan saya soal soto dari pantai utara jawa adalah soto rembang yang saya nikmati beberapa tahun yang lalu. Dan memang benar tipikal soto kudus ini tidak terlalu jauh berbeda dengan soto rembang, soto kuah bening. Untuk isiannya ada pilihan daging atau ayam lengkap dengan pilihan lauk yang cukup lengkap mulai dari kacang, gorengan dan aneka sate. Dari sisi cita rasa soto ini memang cukup khas soto di Jawa Tengah, kaya akan rasa rempah yang menyegarkan. Dan penyajiannya juga mirip, dicampur di mangkok yang ukurannya agak kecil, sehingga memang terasa agak nanggung jika hanya menikmati satu porsi. Meskipun menunya masakan tradisional bisa dibilang tempat ini lebih mirip dengan restoran karena memang sudah cukup rapi dan kasirnya juga sudah menggunakan mesin lengkap dengan opsi pembayaran non tunai.
ADVERTISEMENT
6. Soto Ayam Lamongan Cak Noto Gading Serpong
Salah satu jenis soto yang menarik dibahas adalah soto Lamongan, seperti namanya soto ini merupakan ciri khas dari kota Lamongan tetapi tidak sedikit orang yang berinteraksi dengan kuliner ini bukan karena berkunjung ke kota Lamongan. Soto lamongan yang sangat terkenal adalah soto Lamongan Cak Har yang letaknya di Surabaya, bukan di Lamongan. Saya juga termasuk golongan yang ini, yang mengenal soto Lamongan dari Cak Har di Surabaya. Dan saat harus Kembali ke Ibukota dan sekitarnya tentu ada kalanya ingin Kembali mencicipi gurihnya soto khas Lamongan. Kemudian saya direkomendasikan tempat ini.
Warung ini sebenarnya cukup jauh dari Ibukota, letaknya ada di pinggiran Jakarta, Gading Serpong. Tempatnya tidak jauh dari jalanan utama dan berada di ruko yang berada di dekat cluster perumahan. Tempatnya juga cukup sederhana hanya satu ruko dan memang tidak terlalu ramai pembeli.
ADVERTISEMENT
Seperti layaknya soto lamongan yang lain, warung ini menyediakan soto ayam lengkap dengan kuah kuning dan isian daging serta beberapa bagian ayam. Kita juga bisa meminta balungan, yaitu sisa tulang ayam yang dijadikan kaldu. Dari sisi cita rasa saya berpendapat memang tidak jauh berbeda dengan yang ada di kota asalnya, tetapi memang dari sisi penyajian agak berbeda. Biasanya di warung soto Lamongan pendamping makanan selain sambal dan kecap ada juga koya serta jeruk yang masih bulat. Di sini untuk tambahan koya harus dipesan dan untuk jeruk lebih mirip dengan soto khas Jawa Tengah yaitu dengan jeruk yang sudah diiris kecil.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020