Konten dari Pengguna

Surat Cinta dari Spider-Man untuk Para Penggemar

Haris Firmansyah

Haris Firmansyah

Penulis buku 'Petualangan Seperempat Abad'.

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Haris Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Spider-Man. Foto: IMDB
zoom-in-whitePerbesar
Spider-Man. Foto: IMDB

Halo, semuanya!

Perkenalkan, saya Spider-Man. Sang penjaga lingkungan. Mungkin kalian biasa mengenal saya dengan identitas asli Peter Parker. Namun, Spider-Man bisa siapa saja. Bisa Miles Morales, bisa juga Peter B. Parker. Tergantung di semesta mana kalian berada.

Semua orang bisa menjadi Spider-Man, asalkan digigit laba-laba radioaktif. Di semesta kartun, bahkan seekor babi bisa menjadi manusia laba-laba. Manusia laba-laba paling haram yang pernah ada. Aneh, 'kan? Coba tonton film animasi Spider-Man: Into to the Spider-Verse.

Pemeran saya di film pun bisa Tobey Maguire, Andrew Garfield, atau yang terbaru Tom Holland. Tergantung di studio mana film saya diproduksi. Kalau studio BumiLangit yang garap, bisa saja yang jadi Spider-Man adalah Reza Rahadian. Namanya disesuaikan dengan nuansa lokal: Labah-Labah Merah.

Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih untuk para penggemar dari seluruh penjuru dunia yang telah meramaikan tagar di Twitter: #SaveSpiderMan. Kalian sangat membantu. Biar semua orang tahu bahwa superhero tak selamanya bisa menyelamatkan dunia. Ada kalanya, superhero pun butuh bantuan warganet sedunia untuk diselamatkan.

Saya sengaja menulis surat ini untuk mencurahkan isi hati saya. Sebagai superhero, mungkin saya adalah superhero yang kariernya paling ngenes di dunia sinematik.

Kisah saya bermula ketika perusahaan komik yang ‘melahirkan’ saya, yaitu Marvel Comics, mengalami kebangkrutan. Untuk bertahan di dunia bisnis, Marvel menjual hak asuh saya kepada Sony. Di tangan Sony, saya terlahir di jagat layar lebar sebagai Spider-Man dengan kemasan Tobey Maguire.

Tobey Maguire bisa membawa waralaba Spider-Man dengan memuaskan, baik secara kualitas (rating IMDb) mau pun kuantitas (profit). Adegan Peter Parker ciuman terbalik dengan Mary Jane di bawah hujan lebat pun sangat melekat di hati penonton.

Namun, dunia Spider-Man terbalik di film ketiga. Mungkin salah satu alasannya karena di film ketiganya, Peter Parker jadi emo dan main serong dengan Gwen Stacy. So, gara-gara emo dan zalim kepada Mary Jane, tidak ada ceritanya film keempat. No way!

Kandas sudah cita-cita saya menyaingi waralaba Fast & Furious yang sekarang mencapai film ke-9. Hidup Vin Diesel! Panjang umur balapan!

Yang ada, Spider-Man dibuat ulang dengan cara amazing. Andrew Garfield dipilih jadi Peter Parker. Namun, nasibnya tidak lebih baik dari film Spider-Man versi Tobey Maguire. Baru dua film, sudah dihentikan. Nangis, nangis, deh tuh, Andrew Garfield.

Harapan saya kembali terbit bersamaan dengan masa akil balig Tom Holland. Sony akhirnya mau berbagi hak asuh kepada Marvel untuk ‘membesarkan’ saya. Spider-Man muncul di Marvel Cinematic Universe (MCU).

Awalnya, saya cuma dapat peran pembantu di film Captain America: Civil War. Selanjutnya, saya punya film solo bertajuk Spider-Man: Homecoming. Mantap! Di sini, Bibi May kembali muda. Terus, di film ini, saya harus menjadi ‘anak magang’ di Stark Industries. Saya hidup dalam MCU dengan bayang-bayang Tony Stark. Bahkan, Iron Man sampai masuk ke poster film saya. Ckckckc. I love you 3000, Om!

Namun, jatah apes saya ternyata belum habis-habis. Spider-Man versi Tom Holland ‘dimatikan’ dalam film Avengers: Infinity War. Sampai jadi debu. Baru punya satu film sendiri di bawah naungan Marvel Studios, Spider-Man harus gugur dalam medan perang. Nasib, nasib.

Di sisi lain, salah satu musuh bebuyutan saya, Venom, justru berjaya dengan film solonya, tanpa ngajak-ngajak saya. Dasar penjahat panjat sosial! Gara-gara saya jugalah dia bisa jadi terkenal seperti sekarang. Sampai dijanjikan punya banyak sekuel.

Awas saja kalau saya kembali ke studio yang sama dengan dia, bakalan saya hajar dia habis-habisan, persis di film Spider-Man 3 versi Tobey Maguire.

Tony Stark yang menjadi mentor saya di MCU nyatanya punya jasa besar untuk keberlangsungan film saya selanjutnya. Di film Avengers: Endgame, berkat pengorbanan Iron Man, saya bisa ‘hidup’ lagi di film kedua, yakni Spider-Man: Far From Home.

Bahkan pasca-istirahatnya Robert Downey Jr. dari dunia perfilman MCU, saya diproyeksikan menjadi the next Iron Man yang akan memimpin Avengers dan jadi pemain utama di Marvel Cinematic Universe. Wow! Inilah masa jaya saya di jagat sinematik!

Ditambah, Disney telah memiliki Marvel sebagai ‘ibu kandung’ saya dan akhirnya resmi membeli 20th Century Fox. Apa itu artinya? FOX memiliki hak asuh X-Men dan Deadpool. So, saya berkesempatan satu semesta dengan X-Men, khususnya Deadpool. Oh, lidah saya sudah tak tahan ingin mengatai langsung Deadpool yang ditengarai mencontek kostum saya. Kami bisa bertengkar adu mulut seperti di dunia animasi dan komik.

Belum lagi, FOX punya Fantastic Four yang sejauh ini prestasi filmnya masih centang perenang. Kalau saya diberikan kesempatan bergabung dengan Fantastic Four, mungkin bisa membantu mendongkrak penjualan filmnya nanti. Kelak saya bisa berkolaborasi dengan Human Torch. Wow!

Namun, Sony sang ‘ibu tiri’ saya tidak mau membiarkan saya bersenang-senang lebih lama. Mimpi saya untuk berada dalam satu semesta yang sama dengan Avengers, X-Men, dan Fantastic Four pun harus saya kubur rapat-rapat. Sony cabut dari kerja sama dengan Marvel-Disney. Yang mana artinya, saya harus ikut bersama Sony yang berhak atas keberlangsungan hidup saya di dunia perfilman.

Semua ini terjadi karena tidak tercapainya kesepakatan bisnis antara Sony dan Marvel-Disney. Bayangkan, manusia laba-laba yang telah bantu menyelamatkan dunia dari penjahat sekelas Thanos harus kalah karena masalah laba perusahaan. Ujung-ujungnya, musuh kita bersama adalah uang.

Kalau keadaan masih begini, kemungkinan besar Tom Holland enggak bisa jadi Spider-Man lagi. Marvel Cinematic Universe bakalan berjalan tanpa mengenal sosok Spider-Man. Menyedihkan. Padahal saya punya karier menjanjikan di MCU.

Entah bagaimana nasib saya selanjutnya. FOX bisa saja membuatkan ulang film Spider-Man, lalu mempertemukan saya dengan Venom. Namun, yang jelas, dari setiap pembuatan ulang film Spider-Man, saya selalu merasa tidak nyaman karena harus menyaksikan ulang bagaimana Paman Ben meregang nyawa untuk kesekian kalinya. Tolonglah, pahami perasaan saya dan Bibi May.

Teman-teman, bantu kembalikan saya ke MCU! I don’t feel so good... I don’t want to go...