Kapitalisme: Dekadensi Moral Yang Disembunyikan

S1 Ilmu Pemerintahan dari Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa "APMD" Yogyakarta. Tahun lulus 2023. Bergabung dan menjadi Content Writer Kumparan sejak tahun 2024. Menulis artikel opini yang membahas berbagai isu terkini.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Haris Mandala Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama bertahun-tahun, kapitalisme dianggap sebagai sistem ekonomi yang paling efisien dan rasional, yang memungkinkan kebebasan individu, kompetisi yang sehat, dan kemajuan ekonomi.
Namun, di balik janji kebebasan dan kemakmuran, kapitalisme sebenarnya adalah sistem yang berfokus pada akumulasi modal dan eksploitasi sumber daya secara sistematis, yang kadang-kadang merusak tatanan sosial, ekologis, dan moral manusia.
Proses kolonialisme dan industrialisasi yang berlangsung selama bertahun-tahun menghasilkan kapitalisme modern. Sistem ini pada awalnya berfokus pada pencaplokan tanah, eksploitasi tenaga kerja, dan penghisapan sumber daya alam dari negara ketiga untuk mengumpulkan modal di negara-negara pusat.
Eksploitasi global kemudian didukung oleh cerita pembangunan. Karena itu, kapitalisme dibangun di atas ketimpangan dan kekuasaan dan tidak pernah netral.
Logika profit maksimum mengatur sistem kapitalis. Semua hal yang tidak menguntungkan—seperti nilai-nilai kemanusiaan, kesejahteraan rakyat, dan keberlanjutan lingkungan—diabaikan atau dianggap sebagai beban.
Ini menyebabkan perbedaan yang sangat besar antara kelas pekerja dan pemilik modal. Kapitalisme bermetamorfosis menjadi "kapitalisme pengawasan", yang memonetisasi data pribadi untuk keuntungan korporasi raksasa bahkan dalam ekonomi digital modern.
Selain itu, pemerintahan kolonial menyebabkan orang terisolasi dari pekerjaan mereka, makna hidup mereka, dan bahkan hubungan sosial yang sebenarnya. Orang-orang di dunia kerja terjebak dalam rutinitas tanpa jiwa dan bekerja karena tekanan ekonomi daripada karena cinta pada pekerjaan mereka.
Konsumsi dianggap sebagai pelarian, menciptakan kesan kebebasan yang sebenarnya adalah perbudakan yang diselubungi oleh logika pasar.
Krisis-krisis yang terjadi di seluruh dunia, seperti krisis iklim, pangan, keuangan, dan pandemi, semakin menunjukkan sifat asli kapitalisme sebagai sistem gelap.
Ini bukan peristiwa kebetulan; itu adalah konsekuensi logis dari sistem yang memprioritaskan mendapatkan keuntungan daripada menjaga kesejahteraan. Krisis tidak hanya gagal diselesaikan oleh kapitalisme, tetapi juga menjadi penyebab utamanya.
Selain itu, oligarki diperkuat oleh kapitalisme. Di balik retorika pasar bebas dan demokrasi, segelintir elit ekonomi mengatur kebijakan pemerintah, mengubah regulasi, dan menghalangi gerakan publik.
Korporatisme mengambil alih demokrasi dan negara menjadi pelayan kepentingan modal daripada melindungi kesejahteraan rakyat. Selain itu, budaya, pendidikan, dan media diatur untuk mempertahankan ideologi kapitalis.
Selain itu, nilai-nilai komunal dan ekosistem lokal dirusak oleh kolonialisme. Kearifan lokal, ekonomi yang didasarkan pada solidaritas, dan hubungan yang harmonis dengan alam dihilangkan di banyak tempat untuk mendorong pertumbuhan industri dan investasi.
Orang-orang dari komunitas tradisional direduksi menjadi tenaga kerja murah, dan tanah leluhur ditukar menjadi aset spekulatif. Semuanya direduksi menjadi angka yang dapat dijual dalam politik kapitalis.
Fokusnya pada manusia adalah salah satu aspek paling hitam dari kapitalisme. Dilihat sebagai konsumen atau karyawan yang berharga sejauh mereka menghasilkan keuntungan, bukan sebagai subjek berharga.
Nilai utilitarian bahkan mendominasi hubungan pribadi: cinta, pertemanan, bahkan tubuh semuanya dapat diterima. Ini adalah dekadensi moral yang disembunyikan di balik gambaran modernitas.
Alternatif kapitalisme tidak hanya mungkin, tetapi sangat diperlukan. Munculnya gerakan ekonomi solidaritas, ekofeminisme, degrowth, dan post-development menunjukkan bahwa orang-orang di tengah-tengah masyarakat sedang mencari cara untuk keluar dari sistem yang buruk ini.
Keberanian untuk memecahkan mitos-mitos kapitalisme dan mengembangkan paradigma baru yang mengutamakan kehidupan daripada keuntungan harus menjadi dasar perjuangan untuk sistem yang adil, berkelanjutan, dan manusiawi.
Pada akhirnya, kapitalisme adalah lebih dari sekadar sistem ekonomi; itu adalah cara hidup, cara berpikir, dan memaknai dunia. Selama logika kapital menguasai otak manusia, sistem hitam ini akan terus mengulangi kekacauan dan kekacauan.
Jadi, perjuangan melawan kapitalisme adalah perjuangan eksistensial untuk menjaga kemanusiaan di dunia yang komodifikasi terus-menerus. Itu adalah masalah yang timbul di era kita.
