"Tangan Gaib" Kekuasaan

S1 Ilmu Pemerintahan dari Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa "APMD" Yogyakarta. Tahun lulus 2023. Bergabung dan menjadi Content Writer Kumparan sejak tahun 2024. Menulis artikel opini yang membahas berbagai isu terkini.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Haris Mandala Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Janji sering dikaitkan dengan kekuasaan. Dengan bahasa yang lembut, janji-janji nyata, dan visi yang tampaknya datang langsung dari rakyat sendiri, janji-janji itu mengetuk pintu rumah orang-orang. Sebelum menjabat, para kandidat berbicara tentang keberpihakan, reformasi, transparansi, dan keberanian untuk menghadapi ketidakadilan. Namun, begitu mereka benar-benar memiliki kekuasaan, sebuah kekuatan tak terlihat sering muncul - sebuah "tangan gaib" yang secara bertahap menggeser kompas perjuangan.
Tangan kekuasaan yang tak terlihat bukanlah seseorang atau entitas yang pasti. Ia berfungsi sebagai metafora untuk pergeseran perspektif yang sering terjadi ketika idealisme dan dinamika kekuasaan bertabrakan. Ia secara halus menggeser penekanan dari kepentingan umum ke kepentingan yang lebih khusus. Dengan dalih stabilitas, ia membungkam pendapat yang berbeda. Dengan kedok protokol, ia menunda komitmen. Ia menggunakan jargon yang berulang untuk mengaburkan kewajiban.
Dalam proses demokrasi, rakyat memberikan mandat kepada seseorang - bukan hanya untuk memerintah, tetapi juga untuk melaksanakannya. Kepercayaan adalah fondasi dari mandat tersebut. Lebih jauh lagi, konsistensi, bukan slogan-slogan kosong, adalah fondasi kepercayaan. Integritas moral juga dirusak, selain janji-janji politik, ketika cita-cita yang pernah dipuji ditinggalkan setelah kekuasaan diraih.
Perubahan perspektif ini seringkali terjalin dalam narasi realitas politik, seperti gagasan bahwa segala sesuatunya lebih rumit daripada yang terlihat pada awalnya, bahwa kompromi tidak dapat dihindari, atau bahwa sistem terlalu rumit untuk mengalami perubahan cepat. Memang benar bahwa pemerintahan bukanlah tempat yang mudah. Namun, kompleksitas seharusnya bukan alasan untuk mengkompromikan nilai-nilai inti sebuah kampanye. Membuat kompromi tidak berarti menyimpang dari jalur yang telah ditentukan. Bersikap fleksibel tidak berarti mengubah identitas perjuangan.
Kritik terhadap otoritas adalah wujud kepedulian, bukan permusuhan. Kekuasaan harus selalu diawasi dalam masyarakat yang sehat. Kekuatan supranatural bekerja ketika kebijakan memprioritaskan kepentingan elit di atas tuntutan masyarakat umum, ketika keterbukaan direduksi menjadi formalitas administratif, dan ketika keterlibatan publik bukan lagi sekadar kegiatan seremonial.
Kesalahan dalam kebijakan bukanlah hal yang paling mengkhawatirkan karena hal itu dapat terjadi di pemerintahan mana pun. Pemerintah yang berhenti memperhatikan hal tersebut bahkan lebih berbahaya, terutama ketika seseorang menganggap kritik sebagai ancaman, ketika sudut pandang yang berbeda dianggap sebagai pembangkangan. Pada saat itu, kekuasaan menjadi alat untuk mempertahankan diri daripada sarana untuk melayani.
Hal ini mencerminkan pola dinamika kekuasaan yang konsisten di seluruh ruang dan waktu. Kekuasaan cenderung menyebar. Kekuasaan dapat dengan cepat terjebak dalam siklus pembenaran jika tidak ada komitmen etis yang kuat dan tidak ada pemahaman bahwa jabatan adalah tugas sementara.
Pada akhirnya, kekuasaan yang sehat adalah kekuasaan yang sadar bahwa dirinya diawasi. Bukan diawasi untuk dijatuhkan, melainkan untuk dijaga agar tetap berada di jalur yang benar. Tangan gaib kekuasaan hanya dapat dilawan dengan kesadaran publik yang kritis dan pemimpin yang berani menepati janji, bahkan ketika itu tidak menguntungkan secara politik.
Sebab sejarah tidak hanya mencatat siapa yang berkuasa, tetapi juga bagaimana mereka menggunakan kekuasaan itu: untuk memperkuat rakyat, atau sekadar mempertahankan kursi.
