Konten dari Pengguna

Sirekap: Antara Harapan dan Kenyataan

Harish Falih

Harish Falih

Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Diponegoro

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Harish Falih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Permasalahan Sirekap pada rekapitulasi suara Pemilu 2024 (Sumber: Bing)
zoom-in-whitePerbesar
Permasalahan Sirekap pada rekapitulasi suara Pemilu 2024 (Sumber: Bing)

Sirekap 2024 kembali menuai kontroversi setelah Pemilu 2024 usai, meninggalkan jejak digital melalui aplikasi Sirekap yang diandalkan untuk rekapitulasi suara. Namun, alih-alih mempermudah proses, Sirekap justru menghadirkan berbagai masalah yang mewarnai pesta demokrasi.

Masalah-masalah yang muncul:

1. Ketidakakuratan Data

Banyak laporan mengenai ketidakcocokan data antara Sirekap dan C1 di lapangan. Hal ini menimbulkan keraguan dan potensi kecurangan, meredam kepercayaan publik terhadap hasil pemilu.

Kenaikan data suara pada aplikasi Sirekap (Sumber: Bing)

Contoh: Di TPS 32 Semarang, perolehan suara salah satu partai politik berbeda 10 suara antara Sirekap dan C1. Ketidaksesuaian ini memicu protes dari saksi dan KPPS.

2. Server Down dan Gangguan Koneksi

Akses ke aplikasi Sirekap sering terhambat akibat server down dan koneksi internet yang tidak stabil. Hal ini memperlambat proses rekapitulasi dan menimbulkan kekhawatiran akan manipulasi data.

Contoh: Di beberapa daerah terpencil, petugas KPPS kesulitan mengunggah data karena sinyal internet yang lemah. Hal ini menyebabkan penundaan rekapitulasi suara di daerah tersebut.

3. Kesalahan Teknis dan Bug

Aplikasi Sirekap tak luput dari bug dan error yang mengganggu kelancaran proses rekapitulasi. Petugas KPPS harus berjibaku dengan berbagai kendala teknis yang menghambat kinerja mereka.

Contoh: Di TPS 15 Yogyakarta, aplikasi Sirekap tiba-tiba crash saat proses rekapitulasi suara sedang berlangsung. Hal ini menyebabkan kegaduhan dan proses rekapitulasi harus diulang dari awal.

4. Kurangnya Sosialisasi dan Edukasi

Banyak petugas KPPS yang tidak familiar dengan aplikasi Sirekap karena minimnya sosialisasi dan edukasi. Hal ini menyebabkan kebingungan dan kesulitan dalam penggunaan aplikasi.

Contoh: Di beberapa TPS, petugas KPPS tidak mengetahui cara mengunggah foto formulir C1 ke aplikasi Sirekap. Hal ini menyebabkan penumpukan data dan memperlambat proses rekapitulasi.

Dampak dan Solusi:

Masalah-masalah pada aplikasi Sirekap dapat merusak kepercayaan publik terhadap hasil pemilu dan memicu potensi sengketa. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah konkret untuk mengevaluasi dan memperbaiki sistem Sirekap sebelum digunakan pada pemilu berikutnya.

Beberapa solusi yang dapat dipertimbangkan:

• Melakukan audit dan uji kelayakan aplikasi Sirekap secara menyeluruh.

• Meningkatkan infrastruktur teknologi dan jaringan internet di seluruh wilayah Indonesia.

• Memberikan pelatihan dan edukasi yang memadai kepada KPPS terkait penggunaan aplikasi Sirekap.

• Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam proses rekapitulasi suara.

Sirekap pada Pemilu 2024 telah menjadi pelajaran berharga untuk mengevaluasi sistem Sirekap. Dengan perbaikan dan solusi yang tepat, diharapkan Sirekap dapat menjadi alat yang handal untuk mewujudkan pemilu yang transparan, akuntabel, dan terpercaya di masa depan.