Membangun Pemimpin dari Tenda: Cerita Life Skill Camp BSS Lazismu DIY

Undergraduate Student of Management Business at Muhammadiyah University of Yogyakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari HARIST FAISAL GHANIM tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Magang bukan sekadar menuntaskan kewajiban akademik. Ia adalah ruang belajar yang mempertemukan teori di kelas dengan denyut nyata organisasi. Memasuki bulan kedua magang di Lazismu DIY, saya merasakan hal itu semakin dalam. Jika bulan pertama lebih banyak diisi adaptasi dan pengenalan administrasi, bulan kedua membawa saya ke pengalaman yang jauh lebih menantang: menjadi bagian dari tim perancang acara Life Skill Camp untuk para penerima Beasiswa Sang Surya.
Acara ini bukan sekadar berkemah biasa. Ia adalah ruang temu, ruang tumbuh, dan ruang pengakraban bagi mahasiswa penerima beasiswa dari berbagai kampus. Dua hari satu malam, kami semua (panitia, peserta, para staf Lazismu DIY, dan jajaran pimpinan Lazismu DIY) berbaur dalam satu tujuan: membangun manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara life skill dan spiritual.

Merancang Acara, Merancang Makna
Tugas pertama yang kami terima sebagai anak magang adalah menyusun konsep acara. Mulai dari menentukan tema, menyusun rundown, merancang kegiatan, hingga memikirkan perlengkapan apa saja yang dibutuhkan. Kami dituntut untuk tidak hanya berpikir sebagai pelaksana, tetapi juga sebagai perancang pengalaman. Tema yang kami usung berangkat dari semangat “Beasiswa Sang Surya” sebagai kader masa depan: bagaimana mereka bisa menjadi pribadi yang mandiri, kolaboratif, dan memiliki kepekaan sosial.
Dalam prosesnya, kami belajar bahwa sebuah acara yang baik lahir dari detail yang matang. Rundown disusun tidak hanya agar acara berjalan tepat waktu, tetapi juga agar setiap sesi memiliki tujuan yang jelas. Kami membagi kegiatan ke dalam beberapa bagian: sesi pengenalan Lazismu, dinamika kelompok, pelatihan life skill, hingga malam keakraban. Semua dirancang agar peserta tidak hanya hadir, tetapi benar-benar terlibat.
Membersamai, Bukan Sekadar Mengawasi
Saat acara berlangsung, kami tidak hanya bertugas sebagai panitia. Kami diberi amanah menjadi Liaison Officer (LO) untuk kelompok-kelompok yang telah ditentukan. Peran ini menuntut kami untuk hadir sepenuhnya dan bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Kami mendampingi peserta berdiskusi, memecahkan masalah, dan kadang sekadar mendengarkan cerita mereka.
Menjadi LO membuat saya belajar tentang kepemimpinan yang melayani. Kami tidak memimpin dengan komando, tetapi dengan keteladanan. Kami juga ditugaskan menjadi pengisi acara di beberapa sesi, seperti ice breaking, refleksi, dan sesi pengenalan struktur Lazismu. Ini menjadi kesempatan berharga untuk melatih kemampuan public speaking dan manajemen waktu.
Tujuan yang Lebih dari Sekadar Berkumpul
Life Skill Camp ini memiliki tujuan yang sangat jelas. Pertama, sebagai wadah mempererat keakraban antar penerima beasiswa. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda, dan melalui camp ini, mereka belajar untuk saling mengenal, bekerja sama, dan membangun jaringan.
Kedua, acara ini menjadi sarana pengenalan Lazismu secara lebih mendalam, bukan hanya sebagai lembaga pemberi beasiswa, tetapi juga sebagai organisasi yang memiliki struktur, nilai, dan staf yang siap mendampingi. Kami memperkenalkan siapa saja yang ada di balik layar Lazismu, bagaimana alur kerja mereka, dan bagaimana para penerima beasiswa bisa terlibat lebih jauh.
Ketiga, momen ini juga digunakan untuk pemilihan Ketua Beasiswa Sang Surya Batch 5. Ini bukan sekadar seremonial, tetapi bagian dari pendidikan demokrasi dan kepemimpinan. Para peserta belajar untuk memilih, dipilih, dan bertanggung jawab atas amanah yang diberikan.
Keempat, tentu saja, pengembangan life skill. Mulai dari kemampuan komunikasi, kerja sama tim, manajemen konflik, hingga keterampilan praktis seperti memasak dan mendirikan tenda. Semua dikemas dalam kegiatan yang menyenangkan namun tetap sarat makna.
Refleksi: Belajar dari Lapangan
Bulan kedua magang ini mengajarkan saya bahwa pekerjaan di Lazismu bukan hanya tentang administrasi dan laporan. Ini tentang manusia. Tentang bagaimana kita membersamai orang lain untuk tumbuh. Tentang bagaimana sebuah acara kecil bisa menjadi titik balik bagi seseorang.
Saya belajar bahwa perencanaan yang baik adalah fondasi, tetapi fleksibilitas adalah kunci. Kadang acara tidak berjalan sesuai rundown, tetapi justru di situlah kami belajar beradaptasi. Saya juga belajar bahwa menjadi panitia bukan berarti harus selalu tampil di depan. Kadang, kekuatan terbesar justru hadir dalam diam—mendampingi, mendengarkan, dan memastikan semua orang merasa diterima.
Penutup
Life Skill Camp mungkin hanya dua hari satu malam. Namun, maknanya jauh lebih panjang. Bagi saya, ini adalah salah satu pengalaman magang paling berkesan. Saya tidak hanya belajar tentang manajemen acara, tetapi juga tentang empati, kerja sama, dan kepemimpinan yang melayani.
Lazismu telah memberi saya ruang untuk tumbuh, bukan hanya sebagai mahasiswa magang, tetapi sebagai pribadi yang lebih peduli dan siap menghadapi dunia kerja. Dan dari balik tenda yang sederhana, saya menemukan pelajaran yang tidak akan pernah saya lupakan.
