Konten dari Pengguna

Sejarah Aspirin: Obat Pereda Nyeri dari Kulit Pohon Willow

Haritsa rahim winduwijaya

Haritsa rahim winduwijaya

Panggilan saya Haritsa saat ini saya berstatus sebagai seorang mahasiswi semester 2 Program Studi Farmasi di Universitas Islam Negri jakarta. Dari lahir saya tinggal dan juga besar di Jakarta Selatan.

·waktu baca 6 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Haritsa rahim winduwijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pohon willow di tepi sungai pada siang hari. Foto oleh Joshua Lawrence, diambil dari Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Pohon willow di tepi sungai pada siang hari. Foto oleh Joshua Lawrence, diambil dari Unsplash.

Tahukah kamu? Sejarah panjang penemuan obat anti-nyeri aspirin bermula sekitar 4000 tahun yang lalu oleh seseorang dari bangsa Sumer kuno. Mereka menemukan bahwa jika mengonsumsi kikisan kulit kayu pohon tertentu, rasa nyeri atau sakit yang sedang dialami dapat mereda. Tanpa mengetahui komposisi kimia dari tanaman tersebut, mereka tetap dapat memanfaatkan zat aktif yang ada pada kulit kayu pohon tersebut yang kini kita kenal sebagai salisin yang struktur kimianya kemudian dimodifikasi menjadi aspirin, obat analgesik yang dikenal luas saat ini (Mahdi et al., 2019).

Aspirin, obat yang berasal dari senyawa salisilat dan secara kimia dikenal sebagai asam asetilsalisilat, termasuk dalam kelompok obat antipiretik (pereda demam), analgesik (pereda nyeri), dan antiinflamasi non-steroid. Namun, aspirin bukanlah sekadar obat biasa. Aspirin adalah obat sintetis pertama yang dijual bebas, penemuannya telah mengubah dunia farmasi secara signifikan dan menjadi langkah awal dalam pengembangan obat-obatan sintetis dalam sains modern (Sneader, 2000).

Jejak awal penggunaan salisin

Awal mula penemuan dari aspirin adalah oleh seorang bangsa Sumer kuno pada 4000 tahun yang lalu saat dia merasakan rasa sakit yang ia alami hilang setelah memakan kikisan kayu dari sebuah pohon yang kita sebut sekarang sebagai pohon willow. Ekstrak tersebut, selain digunakan oleh bangsa Sumeria, juga ditemukan bukti bahwa ekstrak pohon willow tersebut digunakan sebagai obat di Mesir Kuno, Yunani, dan Romawi (Mahdi et al., 2019).

Contoh penggunaan ekstrak kayu pohon willow digunakan oleh Hippocrates yang dikenal sebagai bapak kedokteran yang hidup di era Yunani Kuno. Ia menggunakan ekstrak tersebut untuk mengobati demam, nyeri, dan peradangan. Bahkan, beliau juga menggunakan ekstrak daun dari pohon willow untuk dijadikan teh sebagai pereda rasa sakit saat melahirkan (Oketch Rabah et al., 2019; Science History Institute, 2017),

Namun, pada zaman tersebut masih minim ilmu mengenai cara kerja ekstrak pohon willow tersebut hingga dapat meredakan rasa sakit. Dan walaupun kandungan dalam ekstrak kayu dari pohon ini dapat meredakan rasa nyeri, ekstrak tersebut juga memiliki efek samping berupa iritasi pada lambung hingga menyebabkan rasa mual dan muntah (Rainsford, 2004).

Revolusi Kimia salisilin menjadi asam asetilasetat

Kemajuan terkait progres obat aspirin mulai terjadi pada abad ke-19. Pada tahun 1828, seorang ilmuwan asal Jerman bernama Johann Buchner berhasil memurnikan salisin dari kayu pohon willow .Kemudian pada abad yang sama, tahun 1838, ilmuwan asal Italia bernama Raffaele Piria menyempurnakan proses isolasi tersebut dan menemukan bahwa salisin dapat diubah menjadi asam salisilat (Sneader, 2000).

Namun, kemudian pada tahun 1876, seorang dokter asal Skotlandia menulis karya mengenai asam salisilat yang menulis tentang walau asam salisilat dapat meredakan demam, rasa sakit, efek samping seperti radang perut hingga rasa mual dan muntah masih ada dalam asam salisilat (Rainsford, 2004). Masalah tersebut kemudian dipecahkan pada tahun 1897 oleh seorang ahli kimia muda bernama Felix Hoffmann, yang bekerja di perusahaan Jerman bernama Bayer. Ia berhasil menyintesis turunan asam salisilat yang lebih lembut bagi lambung dengan cara menambahkan gugus asetil pada asam salisilat melalui proses asetilasi. Ia menciptakan senyawa baru bernama asam asetilsalisilat yang kemudian di beri nama aspirin, produk farmasi sintesis pertama yang pernah ada.

Peran Bayer dan Lahirnya Obat Komersial Aspirin

Lalu pada tahun 1899, perusahaan grup bernama Bayer yang berasal dari Jerman ini mematenkan proses pembuatan asam asetilsalisilat dan memperkenalkan produk tersebut ke pasar dengan nama brand Aspirin. Nama ini berasal dari “A” untuk “acetyl,” “spir” dari Spiraea ulmaria yaitu nama lama untuk tanaman meadowsweet yang juga mengandung salisin, lalu menambahkan akhiran “-in” karena obat pada zaman dahulu biasanya berakhiran “-in” (Mahdi et al., 2019).

Pada awal pengeluaran, aspirin hadir dalam bentuk bubuk yang dikemas dalam botol kaca. Obat tersebut menjadi sangat populer karena efektif untuk meredakan nyeri dan menurunkan demam tanpa menyebabkan efek samping iritasi lambung seberat asam salisilat biasa. Kemudian pada tahun 1915, obat ini dapat dibeli di apotek tanpa harus memiliki resep dokter dan menjadikannya obat sintetis pertama yang dijual bebas (Science History Institute, 2009). Bayer pun mencetak kesuksesan besar.

Namun, setelah Perang Dunia Pertama, paten Bayer diambil alih oleh pemerintah Sekutu sebagai bagian dari perjanjian perang. Kemudian produk aspirin di Amerika Serikat dan Inggris menjadi obat generik, sehingga bisa diproduksi oleh perusahaan mana saja (Sneader, 2000). Inilah yang membuat aspirin menjadi obat yang tersedia luas dan menjadi bagian dari obat-obatan yang biasa ada dalam rumah tangga selama lebih dari satu abad.

Penelitian Aspirin dalam Medis Modern

Penelitian terkait aspirin pun masih berlanjut hingga pada sekitar tahun 1970 ditemukan bahwa cara kerja aspirin adalah dengan mengaktivasi sebuah enzim bernama siklooksigenase atau di singkat sebagai COX, terutama COX-1 dan COX-2. COX-1 merupakan enzim yang memproduksi prostaglandin yang memicu rasa nyeri saat terjadi inflamasi, sedangkan COX-2 memproduksi prostaglandin yang berfungsi melindungi lambung. Jadi, saat senyawa aspirin terikat pada kedua enzim tersebut, baik COX-1 maupun COX-2 sehingga kedua enzim tersebut tidak dapat mensintesis prostaglandin. Dengan begitu, aspirin dapat meredakan inflamasi dan rasa nyeri, tetapi memiliki efek samping membuat lambung terasa sakit (Vane, 2000).

Penemuan ini menjelaskan mekanisme kerja aspirin secara ilmiah dan membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut. Aspirin kemudian juga dikenal sebagai antiagregan trombosit, yaitu mencegah penggumpalan darah. Maka, aspirin mulai digunakan secara luas untuk mencegah serangan jantung dan stroke iskemik, terutama pada pasien dengan risiko tinggi. Pada tahun 1982, ketiga ilmuwan Sir John Vane, Sune Bergström, dan Bengt Samuelsson menerima Nobel Kedokteran atas penelitian mereka yang mengungkap mekanisme kerja aspirin dalam menghambat sintesis prostaglandin (Miner & Hoffhines, 2007).

Daftar Pustaka

Mahdi, J. G., Mahdi, A. J., Mahdi, A. J., & Bowen, I. D. (2019). The historical analysis of

aspirin discovery, its relation to the willow tree and anticancer potential. Cell Proliferation, 52(2), e12564. https://doi.org/10.1111/cpr.12564

Sneader, W. (2000). The discovery of aspirin: a reappraisal. BMJ, 321(7276), 1591–1594.

https://doi.org/10.1136/bmj.321.7276.1591

Oketch Rabah, H. A., Marles, R. J., Jordan, S. A., & Low Dog, T. (2019). United States

Pharmacopeia Safety Review of Willow Bark. Planta Medica, 85(15), 1192–1202. https://doi.org/10.1055/a-1007-5206

Science History Institute. (2017). Aspirin’s evolution: Folk remedy to wonder drug. The Aspirin

Project.

Rainsford, K. D. (2004). Aspirin and the salicylates. Butterworth-Heinemann.

Science History Institute. (2009). Aspirin: Turn-of-the-century miracle drug. Science History

Institute. https://www.sciencehistory.org/stories/magazine/aspirin-turn-of-the-century-miracle-drug

Vane, J. R. (2000). Inhibition of prostaglandin synthesis as a mechanism of action for aspirin-

like drugs. Nature New Biology, 231, 232–235. https://doi.org/10.1038/newbio231232a0

Miner, J., & Hoffhines, A. (2007). The Discovery of Aspirin's Antithrombotic Effects. Texas

Heart Institute Journal, 34(2), 179–186.

Science History Institute. (2018, September 18). The aspirin wars. YouTube.

https://www.youtube.com/watch?v=dZobSE6dOZU&t=32s

Jeffreys, D. (2004, April 8). Aspirin: The remarkable story of a wonder drug. YouTube.

https://www.youtube.com/watch?v=uRhkDN2WjzI&t=18s