Konten dari Pengguna

Kelas Menengah Terjepit Tekanan Finansial dan Biaya Hidup yang Naik

Hariyadi Prabowo

Hariyadi Prabowo

Finance Operation Manager di Life Insurance.Dengan 15 tahun lebih di dunia keuangan, Finance with Foresight. Numbers with Purpose.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hariyadi Prabowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kelas Menengah Terjepit Tekanan Finansial dan Biaya Hidup yang Naik
zoom-in-whitePerbesar

Di media sosial, muncul fenomena yang disebut “Sandwich Generation versi upgrade”. Bukan hanya menopang orang tua dan anak, tetapi juga menanggung cicilan rumah, biaya pendidikan, dan gaya hidup yang semakin mahal. Di balik lucunya meme yang beredar, terdapat kenyataan ekonomi yang kini dirasakan banyak rumah tangga kelas menengah di kota besar.

Berdasarkan survei BPS tahun 2024, pengeluaran rumah tangga kelas menengah urban mengalami kenaikan rata-rata 11–15% dalam dua tahun terakhir. Salah satu penyumbang terbesar kenaikan tersebut berasal dari biaya pendidikan (14%), transportasi dan bahan bakar (12%), serta kebutuhan kesehatan (10%). Menariknya, kenaikan ini tidak selalu diimbangi peningkatan pendapatan yang hanya tumbuh sekitar 3–5% per tahun pada kelompok pekerja formal.

Kondisi ini membuat rumah tangga harus mengalokasikan pendapatan lebih banyak untuk biaya hidup rutin dibanding membangun tabungan atau investasi jangka panjang. Bahkan, laporan OJK menunjukkan bahwa 63% individu usia produktif (25–45 tahun) tidak memiliki dana darurat yang cukup untuk menutup kebutuhan hidup selama tiga bulan.

Fenomena tersebut menunjukkan pergeseran: masyarakat kelas menengah kini tidak lagi mengejar peningkatan kesejahteraan, melainkan menjaga agar kondisinya tidak turun menjadi rentan. Pekerja berpenghasilan tetap sekalipun mulai menghadapi tantangan serupa pekerja informal, seperti kestabilan cash flow, ketidakpastian biaya hidup, dan tekanan psikologis akibat beban ekonomi.

Namun ada dinamika menarik. Di tengah tekanan finansial, muncul perilaku baru: “frugal living versi rasional”. Bukan sekadar hemat ekstrem, tetapi memilih pengeluaran yang dianggap paling berdampak terhadap kualitas hidup. Misalnya, sebagian individu rela mengurangi belanja gaya hidup tetapi tetap mempertahankan langganan platform belajar atau asuransi kesehatan.

Fenomena ini menandakan bahwa kelas menengah tidak sepenuhnya terjebak dalam konsumtif, melainkan sedang beradaptasi dengan kenaikan biaya hidup melalui seleksi prioritas. Ada kesadaran bahwa stabilitas finansial bukan hanya soal nominal pendapatan, tetapi bagaimana rumah tangga mengelola pengeluaran, merespons risiko, dan mempertahankan kualitas hidup.

Kelas menengah tidak sedang jatuh hanya sedang menghitung ulang langkah.