17 Hari Mendaki, Membelah Belantara Taman Nasional Gunung Leuser (Bagian 1)

Book Author, Travel Writer, Mountaineer, IG-Twitter: harleysastha, Youtube: Harley Sastha
Tulisan dari Harley B Sastha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah menempuh jarak sejauh sekitar 70 kilometer selama 17 hari menembus belantara Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), akhirnya tim Expedisi Leuser 2015 yang berjumlah 27 orang, berhasil tiba di Desa Trieng Gading, Aceh Barat Daya, pada 31 Oktober 2015.
Expedisi Leuser 2015 merupakan kegiatan yang diinisiasi langsung oleh Balai Besar TNGL, dalam rangka updating data dan informasi serta peluang pengembangan atau pembukaan jalur pendakian baru melalui Desa Trieng Gading. Dimata penggiat alam terbuka, pendakian gunung di TNGL adalah hal seksi. Karena merupakan jalur pendakian terpanjang di Indonesia dengan 90 persennya hutan alami. Bahkan, dari beberapa sumber menyebutkan, ini merupakan sebagai salah satu jalur pendakian terpanjang di Asia Tenggara. Jalur pendakian normal melalui Desa Kedah, Kab. Gayo Lues, pergi pulang dengan jalur yang sama (110 km), setidaknya membutuhkan waktu normal sekitar 12-14 hari.
Melintasi jalur melaui Kedah menuju Trieng Gading, bukanlah hal mudah dan menjadi tantangan tersendiri. Terkenal akan medannya yang berat dan sulit ditembus. Sebagaimana disampaikan oleh Rajali Jemali atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mr. Jali, guide atau pemandu senior yang berpuluh-puluh kali mendaki dan sangat memahami seluk beluk jalur pendakian di TNGL. Setidaknya telah dua kali (2012 dan 2014), Mr, Jali berhasil mendaki menembus menuju Aceh Barat Daya. Keikut sertaannya dalam expedisi ini menjadi salah satu dukungan besar bagi tim. Terlebih dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya.
Panorama 1.000 Bukit Dari Puncak Angkasan (2.905 mdpl)
Waktu itu, pada 15 Oktober 2015, waktu telah beranjak sore dan menunjukkan waktu sekitar pukul 15.00 WIB, ketika meninggalkan Kedah (1.220 mdpl), untuk memulai pendakian kami. Sedangkan kebutuhan logistik pendakian sudah disiapkan beberapa hari sebelumnya hingga satu hari jelang pendakian. Untuk memastikan kesiapan masing-masing personel, dilakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu oleh dokter yang juga turut serta dalam pendakian.
Tujuan awal kami, Rain Forest Lodge (1.346 mdpl) – penginapan berbentuk bungalow milik Mr. Jali. Disini kami akan kembali bermalam terlebih dahulu. Setelah meninggalkan perkampungan dan ladang, lalu melewati Krueng (sungai) Kedah. Karena sehari sebelumnya turun hujan, Krueng Kedah terlihat banjir. Material lumpur dan bebatuan turun terbawa arus air sungai. Sebelum gelap, kami sudah tiba di Rain Forest Lodge.
Berada ditengah hutan, suasana Rain Forest Lodge terasa syahdu. Saat pagi datang esok harinya, suara aliran air sungai berpadu dengan kicauan burung-burung dan penampakan sekelompok primata jenis Wau Wau tangan putih (Hylobates Lar).
Selepas berdoa, sekitar pukul 08.30 WIB, bergerak ke titik selanjutnya, Tobacco House. Medan pendakian yang lumayan menanjak, cukup menguras tenaga. Namun, rimbunnya hutan dengan pohon-pohon berukuran besar menjadi pemandangan tersendiri di sepanjang kiri dan kanan jalur pendakian. Dan kami pun tiba Tobbaco House, tepat sekitar tengah hari. Disini areal lebih terbuka dan terdapat kebun tembakau penduduk sekitar.
Selanjutnya, perjalanan memasuki kawasan hutan pegunungan yang lebat. Sekitar 100 meter berjalan, kami mulai memasuki pintu rimba. Sesekali tim berhenti untuk mendata dan mencatat flora serta fauna yang menjadi perhatian kami. Perjalanan awal yang cukup menguras tenaga. Tepat sekitar pukul 17.00 WIB, kami pun tiba di Camp Simpang Air (2.238 mdpl), tempat dimana kami kemudian bermalam. Tidak banyak yang kami lakukan. Setelah makan malam dan bertukar informasi yang kami lihat dan temukan sepanjang perjalanan, hujan turun cukup deras. Kami putuskan untuk kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat tidur.
Pagi harinya, setelah sarapan dan packing, waktu belum menunjukkan pukul sembilan pagi, ketika kami sudah kembali bergerak mendaki. Medan pendakian benar-benar semakin menanjak dan menguras tenaga, melalui belantara dan hutan lumut. Sekitar 4 jam kemudian, tibalah kami di tempat yang diberi nama Pemandiang Burung – terdapat sumber air berupa kolam yang ukurannya tidak terlalu besar. Tempat burung-burung terkadang terlihat mandi atau minum. Sepanjang perjalanan, kami jumpai beragam jenis anggrek, kantong semar dan beberapa jenis burung.
Jelang Camp Angkasan (2.905 mdpl), hujan turun cukup deras. Kami terus melanjutkan perjalanan hingga tiba di areal camp sekitar pukul 17.00 WIB. Beberapa meter sebelum camp, kami sempat melihat kotoran Harimau Sumatera yang terlihat masih segar. Puncak Angkasan yang berada di ketinggian sekitar 2.918 mdpl, berada sekitar 200 meter sebelum areal camp. Ditandai dengan titik trianggulasi berupa patok semen. Disini, menjadi titik terbaik untuk melita panorama bentang dan lanskap alam hingga 360 derajat. Malam harinya, sebelum istirahat, kami habiskan dengan evaluasi perjalanan dan rencana selanjutnya esok hari.
Pagi harinya, sebelum melanjutkan perjalanan, kami sempatkan untuk eksplor sekitar kawasan Puncak Angkasan. Seperti namanya ‘Angkasan’, kami benar-benar dapat melihat lepas bentang alam yang menakjubkan. Seolah berada di angkasa. Terlihat bukit-bukit yang gagah dan megah serta lembahan berbalut rapatnya hijau belantara berselimut kabut tipis.
Bukit-bukit yang saling berkelindan tersebutlah yang menyebabkan Kabupaten Gayo Lues mendapat julukan ‘Kabupaten Seribu Bukit’. Sedangkan orang-orang yang tinggal di dalamnya disebut ‘anak seribu bukit’.
Perjumpaan Jejak Harimau Sumatera
Sekitar pukul 09.00 WIB, perjalanan kami lanjutkan kembali. Diawal-awal meninggalkan Camp Angkasan, medan pendakian menurun cukup terjal. Kemudian menanjak terjal hingga kami tiba di Camp Kayu Manis I dan berlanjut di Camp Kayu Manis II, pada sekitar pukul 12.15 WIB. Disini kami istirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju Camp Kayu Manis III dan berakhir di Camp Lintasan Badak pada pukul 17.00 WIB, tempat kami untuk bermalam.
Medan pendakian lumayan menguras tenaga. Sangat bervariasi, menanjak kemudian turun. Begitu berulang-ulang. Saat medan menurun, kalau tidak terpeleset harus berhati-hati. Karena jalur pendakian tertutup oleh lumut dan serasah dedaunan. Juga cukup licin karena air hujan dan kelembaban yang tinggi. Saat sampai di Camp Lintasan Badak, hujan turun semakin deras. Sebagian tenda yang sudah didirikan oleh rombongan porter yang sudah tiba lebih dulu, sekitarnya sempat tergenang air.
Saat melakukan evaluasi malam harinya, setidaknya dalam catatan, kami menjumpai burung Ciung Batu Sumatera (Myophonus melanurus) yang sering terbang pendek di sepanjang jalur pendakian.
Seperti hari sebelumnya, sekitar pukul 09.00 WIB, perjalanan kami lanjutkan kembali. Setidaknya dua kali kami harus melalui tanjakan yang terjal dan ekstrem, sebelum tiba di Camp Pepanji. Kemudian berjalan sekitar dua jam, kami tiba di lokasi yang bernama ‘Singgah Mata’. Dinamankan demikian, karena dari sini, kami dapat melihat pemandangan air terjun yang cukup tinggi di kejauhan. Sepeti sebelumnya, di sepanjang jalur, kami menjumpai beberapa jenis anggrek dan kantong semar.
Waktu telah menunjukkan sekitar setengah lima sore, ketika kami melewati areal padang rumput, sebelum kemudian harus melintasi dan menyeberangi dua anak sungai. Salah satunya Sungai Alas, dimana Camp Sungai Alas – tempat kami beristirahat, berada di seberangnya. Waktu saat itu telah menunjukkan sekitar pukul 17.35 WIB. Sedangkan rombongan terakhir tiba di camp sekitar dua jam kemudian. Dibanding areal camp sebelum-sebelumnya, di sini lebih nyaman dan cukup luas serta datar.
Sekitar pukul sembilan pagi, ketika kami memulai kembali perjalanan, rintik hujan masih turun. Waktu itu, 20 Oktober 2015, perjalanan tim Expedisi Leuser 2015, telah memasuki hari ke-6. Kurang lebih satu jam berjalan, matahari mulai menampakkan sinarnya. Sehingga cukup untuk menghangatkan tubuh dan mengeringkan beberapa perlengkapan pendakian kami yang basah sebelumnya.
Sebelum tiba di tempat beristirahat berikutnya, Camp Bivak III, kami terlebih dahulu melalui Kolam Badak – kolam berukuran besar bekas tempat badak berkubang dan kini menjadi tempat penampungan air. Setelah melalui jalur yang cukup landai, lalu medan pendakian menanjak terjal dengan kemiringan mencapai sekitar 70 derajat dengan panjang jalur sekitar 300 meter. Kami terus berjalan di atas punggunan melintasi beberapa bukit dengan lanskap alam dan formasi yang menakjubkan. Seekor lintah merah dengan panjang sekitar 30 cm yang berada di celah bebatuan menjadi perhatian kami untuk melihatnya lebih lanjut.
Sesaat sebelum kami tiba di Camp Bivak III (2.972 mdpl), dua orang diantara kami terlihat berjalan sangat cepat menuju camp. Ternyata, menurut penuturan keduanya, mereka mendengar jelas suara auman Harimau Sumatera. Mendengar cerita tersebut, salah seorang pemandu lokal yang mendampingi kami, mengatakan, beberapa waktu lalu pernah tenda dome rombongan pendaki asal Aceh diserang seekor Harimau Sumatera. Waktu menunjukkan sekitar pukul 17.30 WIB, ketika kami tiba di areal camp.
Pagi hari berikutnya, matahari pagi menyapa dan menghangatkan tenda-tenda kami. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, cuaca hari itu sangat mendukung kami untuk mencatat dan mendokumentasikan beberapa flora dan fauna yang ada disekitar areal camp.
Sejak memulai perjalanan kembali pada pukul 09.30 WIB, matahari terus bersinar menghangatkan kami hingga tiba di hulu sungai Krueng Baro. Kemudian, kami harus terus berjalan mengikuti punggungan dengan medan pendakian berbukit-bukit sampai tiba di Camp Putri saat memasuki tengah hari. Saat itu kabut datang dan menyelimuti areal camp. Tidak lama kemudian, hujan kembali turun. Untung saja kami sudah membuat bivak sementara menggunakan lembaran flysheet untuk tempat berteduh.
Setelah hujan sedikit reda, perjalanan kami lanjutkan kembali hingga tiba sore hari sekitar pukul 16.30 di areal Bivak Kaleng (2.994 mdpl). Dinamakan ‘Bivak Kaleng’, karena menurut cerita para pemandu kami, dulu disini sering dijumpai bekas kaleng peninggalan zaman Belanda, berukuran cukup besar, sekitar 30x60 cm. Jumlahnya cukup banyak. Sebelum tiba di camp, beberapa lembaran kaleng tersisa masih dapat terlihat.
Ada beberapa perjumpaan menarik sepanjang perjalanan menuju Camp Bivak Kaleng. Diantaranya, beberapa jenis burung. Selain Gelatik Kelabu dan Cabe Merah, yang paling mendapat perhatian kami burung jenis Kacamata Gunung. Karena termasuk sangat jarang terlihat. Jekak kotoran Harimau Sumatera juga kembali kami jumpai. Sedangkan, disekitar areal camp, telihat jelas banyak jejak kaki kambing gunung.
Memasuki hari ke-8, pada 22 Oktober 2015, hari masih pagi, sekitar jam enam pagi. Suasana masih berselimut kabut, ketika kami dikejutkan dengan temuan jejak kaki Harimau Sumatera yang jaraknya hanya sekitar 4 meter dari areal camp. Setelah dilakukan pengukuran, diketahui panjang jejak kakinya mencapai 12 cm. Dan menurut perkiraan panjang tubuhnya dapat mencapai 120 cm. Salah satu petugas taman nasional, mengatakan kalau dirinya, sekitar jam sembilan malam, sempat melihat penampakan Harimau Sumatera. Hal tersebut dikuatkan oleh Mr. Jali, yang juga melihatnya.
