Cerita 5 Hari Sebelum Huru-hara Meletusnya Gunung Tambora Tahun 1815

Book Author, Travel Writer, Mountaineer, IG-Twitter: harleysastha, Youtube: Harley Sastha
Konten dari Pengguna
5 April 2020 22:53
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Harley B Sastha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seorang pendaki saat berada di puncak tertinggi kaldera Gunung Tambora. Foto; Harley Sastha
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pendaki saat berada di puncak tertinggi kaldera Gunung Tambora. Foto; Harley Sastha
ADVERTISEMENT
Waktu itu, tidak ada seorang pun di dunia yang menyangka kalau letusan Gunung Tambora yang saat itu mempunyai ketinggian sekitar 4.300 meter di atas permukaan laut (mdpl), pada 5 April 1815, merupakan awal dari ‘Kiamat 1815’ yang terjadi kurang dari sepekan kemudian, 10-11 April 1815.
ADVERTISEMENT
Dampaknya pada dunia pun hampir tidak ada yang pernah membayangkan sebelumnya pada saat itu. Bukan hanya berdampak pada Pulau Sumbawa, di mana sang raksasa menggelegar hebat. Tetapi, juga pada pulau-pulau sekitarnya dan menembus belahan dunia yang jauh hingga bagian utara, mulai dari Asia, Afrika, Eropa hingga Amerika, setahun sampai tiga tahun sesudahnya.
Masih banyak cerita dan misteri dari kawasan konservasi yang telah menyandang status Taman Nasional Tambora, sejak 11 April 2015. Letusan maha dahsyatnya yang terjadi pada tarikh 10-12 April 1815, menjadi salah satu catatan terpenting sejarah peradaban manusia. Meninggalkan jejak sejarah, geologi, iklim, ekologi, dan arkeologi yang terus mengundang tanya.
Beberapa kali mendaki Gunung Tambora, selalu timbul pertanyaan dan pertanyaan, serta coba membayangkan peristiwa sebelum, saat dan pasca-‘kiamat 1815’ itu terjadi. Pastinya mengerikan kalau melihat sekitar 1,5 km tinggi tubuh Tambora hilang terpancung. Bahkan membuat lubang sedalam 1,4 km dari titik tertingginya saat ini. Juga diameter lebih dari 7 km. Saat berdiri di hamparan luas gigiran kalderanya, imajinasi saya menerawang jauh. Membayangkan bentuk kerucutnya ratusan tahun yang lalu. Tetapi, yang terlihat kini lubang besar dan dalam bagaikan mangkok raksasa. Seperti bekas dihantam sebongkah batu meteor raksasa. Pemandangan yang mengagumkan sekaligus menggetarkan. Amazing.
ADVERTISEMENT
Dalam beberapa catatan diceritakan, sebelum huru-hara mengerikan pada April 1815 terjadi, Gunung Tambora yang agung sangat kontras terlihat. Berdiri gagah bak raksasa menjulang tinggi di Semenanjung Sanggar, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, yang terkenal sebagai wilayah yang hijau dan subur. Seluruh lereng Tambora penuh ditumbuhi hutan kayu yang rimbun dan lebat.
Gubernur Jenderal Inggris di Hindia Belanda (1811-1816), Sir Thomas Staford Raffles, dalam catatan kakinya pada bukunya 'The History of Java', menceritakan peristiwa 5 April 1815.
Saat itu, Raffles sedang berada di Bogor, yang merupakan pusat pendudukan Inggris di Hindia Belanda. Ia menceritakan suara ledakan itu terdengar sangat kuat dan terdengar hingga ke seantero Pulau Jawa. Suara ledakan tersebut terdengar terus-menerus sampai esok harinya.
Tampak Gunung Tambora tertutup awan dari Doropeti. Foto: Harley Sastha
zoom-in-whitePerbesar
Tampak Gunung Tambora tertutup awan dari Doropeti. Foto: Harley Sastha
Awalnya, Raffles sempat terkecoh, dugaannya suara tersebut berasal dari dentuman meriam musuh. Kemudian, ia memerintahkan bala tentaranya untuk mempersiapkan diri. Apalagi, kabar tentang lolosnya Napoleon Bonaparte dari pengasingannya di Pulau Elba, sudah tersiar luas. Tidak, mengherankan kalau intuisinya sebagai seorang militer tersulut.
ADVERTISEMENT
“Letusan pertama terdengar di pulau ini petang hari tanggal 5 April. Mereka menyadarinya setiap seperempat jam dan terus berlanjut dengan jarak waktu sampai hari selanjutnya. Suaranya, pada contoh pertama, hampir dianggap suara meriam; sangat banyak, sehingga satu datasemen tentara dikirim dari Yogyakarta, dengan perkiraan pos terdekat diserang, dan sepanjang pesisir, beberapa sekoci atau perahu dikirimkan pada dua kesempatan dalam pencarian kapal-kapal yang mencurigakan.”
Sementara, di tempat lain, di Yogyakarta, residen Jhon Crawfurd, mengalami hal sama seperti yang dialami oleh Raffles. Sangat terganggu dan gelisah. Suara dentuman yang terdengar berkali-kali tersebut, membuatnya berpikir kalau ada serangan mendadak yang dilancarkan oleh musuh. Dipersiapkan olehnya bala tentaranya. Dikirimkanlah satu datasemen ke pos-pos militer terluar.
Sekelompok pendaki berjalan di hanparan pasir gigiran kaldera Tambora. Foto: Harley Sastha
zoom-in-whitePerbesar
Sekelompok pendaki berjalan di hanparan pasir gigiran kaldera Tambora. Foto: Harley Sastha
Di tengah kecemasan dan kegelisahan atas apa yang akan dihadapi, lamban laun langit dan udara di Yogyakarta berubah. Walaupun waktu terus berjalan dan beranjak siang, sinar matahari seperti tak kunjung datang. Seiring berjalannya waktu, malah semakin memerah seperti mau malam. Menjadi mendung dan gelap. Alih-alih membawa air hujan, justru mendung tersebut menumpahkan turunlah butiran-butiran pasir halus yang memedihkan mata.
ADVERTISEMENT
Jadi, saat itu, keduanya masih belum tahu kalau suara dentuman keras yang berkali-kali terdengar tersebut berasal dari sosok raksasa Gunung Tambora di jazirah Sanggar, Pulau Sumbawa, yang telah bangun dari tidurnya.
Bukan hanya di Bogor dan Yogykarta, beberapa kota lain di Pulau Jawa seperti Surabaya dan pulau-pulau lainnya juga mendengar suara letusan tersebut. Salahsatunya sebagaimana disampaikan oleh kontributor surat kabar berbahas Inggris pertama di Hindia Belanda, Java Government Gazette.
Menurut sang kontributor dalam suratnya bertanggal 22 April 1815, mengatakan, pada 5 April 1815, ia mendengar seperti suara tembakan meriam. Koresponden juga menceritakan, pada 6 April 1815, terdengar suara bergemuruh dari bumi. Mirip tembakan meriam dan udara menjadi lebih panas. Pandangan pun menjadi terbatas karena hujan abu yang tebal.
ADVERTISEMENT
Letusan besar Gunung Tambora yang terjadi pada 5 April 1815 yang merupakan erupsi pilinian--letusan vulkanik atau gunung api yang mempunyai kemiripan dan letusan Gunung Vesuvius yang terjadi pada 79 SM. Biasanya gas dan abu vulkanik menyembur tinggi hingga menembus stratosfer. Sebagian ciri letusan pilian yang sangat terlihat di antaranya: 1. Dapat melemparkan atau membobol kepun dan dinding kawah ambrol, 2. Letusanya dapat mengeluarkan material hingga mencapai 80 km, 3. Biasanya disertai dengan semburan gas yang sangat kuat dan tinggi serta awan menyembur seperti bunga kol.
Salah satu bagian dalam dinding di dasar kaldera Tambora yang masing mengeluarkan asap gas solfatara, sebagai salah satu bukti Gunung Tambora yang masih aktif hingga kini. Foto. Tim Jelajah Tambora 2015
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu bagian dalam dinding di dasar kaldera Tambora yang masing mengeluarkan asap gas solfatara, sebagai salah satu bukti Gunung Tambora yang masih aktif hingga kini. Foto. Tim Jelajah Tambora 2015
Menurut Bernice de Jong Boers, seorang peneliti (Antropologi dan Sejarah Lingkungan) berkebangsaan Belanda, bangunnya Gunung Tambora, sebenarnya sudah mulai terlihat 3 tahun sebelumnya. Semenjak tahun 1812, awan kerap kali terlihat menggantung di puncak gunung. Terus menetap sehingga puncak gunung terlihat gelap. Bersamaan dengan itu, suara bergemuruh dan juga gaduh mulai terdengar.
ADVERTISEMENT
Saksi mata saat itu, Jhon Crawfurd, dalam catatannya dalam buku tentang pulau-pulau Indonesia, mengenai apa yang dilihatnya dalam ekspedisinya ke Makassar satu tahun sebelum ‘Kiamat 1815’ terjadi, yaitu pada 1814: “Pada tahun yang mendahului letusan, saya menemani sebuah ekspedisi ke Makassar di Sulawesi Selatan. Karena suatu sebab, kami berlayar merapat ke pantai di Pulau Sumbawa, dekat dengan gunung api Tambora yang telah dinyatakan aktif. Pada suatu jarak, awan-awan debu terpancar menghitami satu sisi cakrawala seolah memberitahukan akan kemunculan badai awan tropis yang mengancam. Begitu kami mendekat, fenomena alam yang sebenarnya menjadi jelas, karena bersamaan dengan jatuhnya debu-debu di atas dek kapal.”
Diceritakan juga, masih pada saat yang sama, 5 April 1815, masyarakat Sumbawa mengalami kegelisahan dan kecemasan. Semenjak itu, Gunung Tambora terus mengeluarkan suara gemuruhnya. Hingga akhirnya, administrator kolonial saat itu, mengirimkan seorang pejabatnya yang bernama Israil, untuk melakukan investigasi atau penyelidikan. Namun, Israil tiba di lereng Gunung Tambora, sekitar pukul tujuh malam, tepat pada saat letusan paripurna Gunung Tambora terjadi, pada 10 April 1815.
ADVERTISEMENT
Di mana energinya kekuatannya mencapai 170 ribu kali lebih kuat dari kekuatan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada Agustus 1945 dan skala 7 Volcanic Explosivity Index (VEI). Kemudian, diketahui Israil tewas, menjadi salah satu korban pertama dari erupsi maha dahsyat gunung api dalam catatan sejarah manusia.
Kaldera Raksasa Gunung Tambora terlihat menakjubkan. Foto; Harley Sastha
zoom-in-whitePerbesar
Kaldera Raksasa Gunung Tambora terlihat menakjubkan. Foto; Harley Sastha
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020