Jelajah Tandon Air Raksasa ‘Rawa Aopa’ di Jantung Sulawesi Tenggara

Book Author, Travel Writer, Mountaineer, IG-Twitter: harleysastha, Youtube: Harley Sastha
Tulisan dari Harley B Sastha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Kalau pas musim teratai berbunga, kita bisa melihat banyak burung berdiri di atas daunnya,” kata Darman dari Taman Nasional Nasional Rawa Aopa Watumohai (TN RAW), yang menemani saya, sambil menunjuk beberapa ekor burung yang terlihat menyembul diantara tumbuhan rawa dan ilalang.
Waktu itu, pada 4 Juli 2014, sambil menunggu waktu berbuka puasa, dengan didampingi Darman, saya berkesempatan mengarungi sebagian Rawa Aopa – ekosistem rawa yang mempunyai luas sekitar 30 ribu hektar dan menjadikannya sebagai rawa gambut terluas di Sulawesi. Namun, dari luas tersebut, yang masuk kawasan hanya sebagian saja, pada bagian hulu, sekitar 11.488 hektar. Jembatan rangka besi jalan poros Motaha – Unaaha, yang membelah rawa menjadi pembatasnya.
Ekosistem rawa merupakan satu dari lima ekosistem (rawa, mangrove, hutan pantai, sabana dan hutan hujan dataran rendah) yang mengukir TN Rawa Aopa Watumohai yang mencapai luas hingga 105 ribu hektar lebih.
Burung menjadi satwa ikonik disini. Berada di Zona Wallacea, TN RAW menjadi rumah dan habitat bagi 155 jenis burung, dengan 32 di antaranya tergolong langka. Salah satu koleksinya sempat menciptakan sensasi, yakni kacamata Sulawesi. Sempat raib atau tidak terlihat selama puluhan tahun. Namun, burung dengan ciri lingkaran putih di sekeliling mata, kini mulai terlihat kembali di Rawa Aopa.
“Jika musim migrasi, burung Aroweli sangat mudah dilihat disini,” kata Darman. Aroweli atau popular dengan nama bangai putih susu – burung migran penjelajah rawa dan pantai yang langka dan dilindungi.
Rawa Aopa menyimpan kekayaan ekosistem yang tinggi. Surganya burung-burung air. Setidaknya terdapat sekitar 39 lebih jenis burung yang hidup bebas disana. Sebagian diantaranya masuk kategori dilindungi. Diantaranya pecuk ular, cangak merah, aroweli dan belibis. Tidak heran, karena sumber pakan burung-burung tersebut banyak dan melimpah. Seperti, berbagai jenis ikan air tawar, udang, kerang, ular dan kodok.
Dikelilingi oleh perbukitan, Rawa Aopa yang masuk wilayah Desa Pewutaa, Kecamatan Angata, Konawe Selatan, dari atas perahu terlihat bagaikan baskom air raksasa yang menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitarnya. Tidak terkecuali Kota Kendari, yang jaraknya 3 jam dengan mobil.
Semakin sore, panorama lanskap Rawa Aopa semakin memikat. Sinar sang mentari yang menerobos disela-sela awan dan memantul di atas permukaan air rawa dan perbukitan terlihat menakjubkan sekaligus memberikan kesan magis.
Sesekali sekawanan burung terbang tinggi melintas diantara bias sinar matahari sore yang berpendar dan memantul di atas permukaan air Rawa Aopa. Sedang beberapa ekor burung lainnya terlihat bermain di antara tanaman air.
Untuk pengamat dan pecinta burung, Rawa Aopa merupakan salah satu surganya. Dari atas gardu pandang di Pulau Harapan II yang berada di tengah rawa, para pecinta burung dapat dengan leluasa memandang lepas sekeliling rawa menggunakan teropong untuk mengintai berbagai jenis burung air. Dari kejauhan pulau kecil ini sangat menarik. Pohon-pohon kelapa nampak tumbuh subur di dalamnya. Sangat kontras dengan pemandangan rawa di sekelilingnya.
Ikan air tawar seperti karper, gabus, sepat, bertubi dan belut, begitu mudah dijumpai disini. Menjadi buruan penduduk sekitarnya. Dengan menggunakan perahu mereka memasang bubu – alat penangkap ikan tradisional, jala, pukat atau pancing. Tidak hanya untuk kebutuhan makan sehari-hari. Sebagian ikan tersebut biasanya juga dijual. Mereka biasanya mencari ikan mulai dari pagi hingga sore hari. Sebagaimana cerita seorang nelayan yang saya temui sore itu di rawa. Bersama anak perempuannya ia berhasil menangkap ikan karper dan gabus.
Mengarungi landskap Rawa Aopa sambil sambil melihat rutinitas penangkapan ikan secara tradisional dengan teknik memancing (molonduri), membubu, memukat, menjala dan menangkap langsung dengan tangan (mekaroro), sungguh memberikan pengalaman tersendiri.
Ketika kami kembali menuju dermaga, lagi-lagi kami disuguhkan beberapa atraksi burung-burung air yang anggun. Salah satunya Cangak Merah yang sedang berdiri diantara ilalang dan tumbuhan air. Sungguh sebuah pengalaman yang menakjubkan.
Menikmati pagi di Rawa Aopa juga tidak kalah mengesankannya. Waktu belum menunjukkan pukul enam pagi, saat saya pergi menuju dermaga. Kabut tipis nampak menyelimuti permukaan air rawa dan menyisakan samar-samar panorama perbukitan sekitarnya. Suasana masih sangat sunyi. Hanya suara-suara mesin motor perahu nelayan pencari ikan yang memecah kesunyian itu.
Melihat aktivitas pagi para nelayan di Rawa Aopa tidak harus dilakukan langsung di tengah-tengah rawa. Cukup dari dermaga ataupun dari atas jembatan, sebagaimana yang saya lakukan saat itu. Menikmati keheningan pagi diantara kabut Rawa Aopa.
Dibalik keajaiban alamnya, Rawa Aopa memegang peranan penting dan memikul tanggung jawab besar dalam gerakan pelestarian lahan basah dunia. Karenanya, semenjak 6 Maret 2011 kawasan ini masuk bagian dari Ramsar Site – areal konservasi dan pemanfaatan lahan basah atau Wetland International Importance.
