Kabar Gembira dari Halimun Salak: Sang Pewaris Tahta Langit Telah Lahir Alami

Book Author, Travel Writer, Mountaineer, IG-Twitter: harleysastha, Youtube: Harley Sastha
Tulisan dari Harley B Sastha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kabar yang sangat menggembirakan datang dari kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), pekan lalu, pada 8 Juli 2020, di Pusat Suaka Elang Jawa (PSSEJ) Loji, Bogor, pukul 07.00 WIB, seekor anak burung Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), telah sukses menetas secara alami.
Peristiwa langka, yang bahkan baru pertama belum pernah terjadi sebelumnya, penetasan alami anak burung Elang Jawa dari pasangan Elang Jawa Dewasa bernama Rama (jantan) dan Dygta (betina) disaksikan prosesnya melalui layar CCTV di kandang rehabilitasi.
Suara histeris, tawa dan tangis bahagia para pengelola, perawat dan dokter hewan di PPSEJ Loji, TNGHS, seketika pecah. Mereka menyaksikan detik demi detik sang anak elang menetas melalui layar CCTV.
Seperti mimpi, masih sempat tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan pada pagi hari itu. Setelah menunggu 42 hari lamanya, akhirnya telur yang dierami ‘Diyta’ pun berhasil menetas dengan selamat secara alami pada 7 Juli 2020. Selamat ya, ‘Rama’ dan ‘Dygta’, telah berhasil melahirkan generasi penerus yang akan menjadi pewaris tahta langit Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Sebelumnya, diceritakan, pada 27 Oktober 2018, ‘Rama dan Dygta’ - sepasang Elang Jawa, yang diserahkan oleh petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Timur, memasuki rumah barunya di PSSEJ Loji, untuk memulai program rehabilitasi.
Mereka ditempatkan di kandang karantina selama kurang lebih satu bulan. Keduanya, terus dipantau perilaku dan kesehatannya serta diajarkan untuk mengenali pakan alaminya, guna memulihkan sifat alaminya.
Kemudian, dilakukan evaluasi kepada keduanya selama di kandang karantina, baik dari sisi medis umum dan perilakunya. Setelahnya, ‘Rama dan Dygta’ dipindah ke kandang rehabilitasi. Pemindahannya dilakukan, setelah melalui penilaian awal, menyatakan mereka berdua mempunyai kemungkinan untuk dilepasliarkan kembali di alam, kembali ke rumahnya.
Empat belas bulan keduanya menjalani rehabilitasi di kandang berbeda secara terpisah yang berukuran 20 m x 10 m x 7 m. Lalu, pada 3 Februari 2020, ‘Rama dan ‘Dygta’ kembali disatukan dalam satu kandang yang sama yang berukuran lebih besar: 20 m x 10 m x 15 m-merupakan hibah dari PT. Prasadha Pamunah Limbah Industri.
Keduanya, sengaja dipasangkan, sebelum nantinya kemudian dilepasliarkan kembali secara bersama-sama. Proses ini disaksikan langsung oleh Indra Exploitasia Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutana (KLHK) dan Ahmad Munawir Kepala Balai TN Gunung Halimun Salak.
Selama pemantauan, banyak kejadian menarik mengenai perilaku ‘Rama’ dan ‘Dygta’ selama di kandang rehabilitasi. Beberapa diantarnya: mereka menunjukkan perilaku yang baik untuk dilepasliarkan secara bersama. Bahkan keduanya pernah tertangkap kamera CCTV melakukan perkawinan. Saat dilakukan pemantauan rutin, pada 28 Mei 2020, perawat menemukan sebutir telur Elang Jawa di lantai kandang, di atas tanah pada sela-sela serasah rumput dan ranting-ranting kayu kering.
Sejak penemuan telur tersebut, kemudian dilakukan pengamatan 24 jam penuh oleh petugas, dengan menambahkan kamera CCTV beresolusi tinggi untuk memonitor proses pengeraman sampai menetasnya telur.
Hingga, akhirnya peristiwa bersejarah dan menggembirakan itu datang juga. Dalam rekaman rekaman CCTV, tercatat, tepat pada Selasa, 7 Juli 2020, pukul 10.24 WIB, telur yang dierami ‘Dygta’ menetas.
Kejadian tersebut, baru diketahui petugas pada pagi keesokan harinya, pukul 07.00 WIB melalui layar CCTV. Kejadian kawin, bertelur, mengeram secara alami dan menetas di dalam kandang rehabilitasi tentunya menjadi momen yang sangat penting di dalam upaya konservasi Elang Jawa yang saat ini masuk kategori jenis satwa terancam punah “Endangered Species” menurut Red List yang diterbitkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Saat ini, si bayi kecil mungil dan lucu sang pewaris tahta langit, terlihat sangat sehat. Secara bergantian ‘Rama’ dan ‘Dygta’, rutin merawat dan menjaganya. Dari pemantauan, sang betina rutin memberikan makan dan menghangatkannya pada jam-jam tertentu.
Semoga Elang Jawa kecil yang kemudian diberi nama ‘Parama’ oleh Siti Nurbaya Bakar Menteri LHK, dapat tumbuh besar dan sehat. Sehingga, dapat melanjutkan tugas sebagai penyeimbang ekosistem di kawasan TN Gunung Halimun Salak.
Parama sendiri mempunyai arti paling unggul. Kelahirannya, ini diharapkan menjadi simbol keunggulan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan para konservasionis didalam upaya pelestarian satwa liar khususnya Elang Jawa di Indonesia. Persis dengan namnya ‘Parama’.
Selamat kepada seluruh petugas, perawat dan dokter hewan yang bertugas di Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) Loji. Terima kasih atas dedikasinya selama ini dalam tugasnya menjaga keberadaan, keberlangsungan dan kelestarian konservasi Elang Jawa sebagai simbol Burung Garuda, Lambang Negara Indonesia.
